Wakil Ketua DPRD DKI: Sekda Saefullah Cakap Cairkan Suasana di Parlemen

Bedah buku yang dihelat Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) ini, juga dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam siaran tunda. Hadir pula Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof Agus Suradika, sejarawan JJ Rizal, dan KH Zulfa Mustofa dari Nahdlatul Ulama (NU).

Syakur Usman
Oleh Syakur Usman - Reporter
Wakil Ketua DPRD DKI: Sekda Saefullah Cakap Cairkan Suasana di Parlemen
Buku 'Bang Ipul: Simpul Betawi dari Gubernur ke Gubernur'. ©2021 Merdeka.com

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kehilangan sosok sekretaris daerah (sekda) yang berkarakter, tenang, dan komunikatif dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), setelah wafatnya Sekda Dr Saefullah, M.Pd pada tahun lalu. Saefullah alias Bang Ipul mampu berkomunikasi dengan DPRD terutama di masa kritis seperti pembahasan anggaran kala Covid-19.

Muhammad Taufik, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, menyampaikan kesan tersebut saat bedah buku 'Bang Ipul, Simpul Betawi dari Gubernur ke Gubernur' secara daring, kemarin (17/2).

Bedah buku yang dihelat Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) ini, juga dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam siaran tunda. Hadir pula Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof Agus Suradika, sejarawan JJ Rizal, dan KH Zulfa Mustofa dari Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut politisi Partai Gerindra ini, almarhum memiliki etos kerja tinggi, bahkan tidak kenal waktu, dan cermat melakukan lobi personal.

M Taufik mengagumi pendekatan personal almarhum yang didukung kemampuan argumentatif yang menarik di parlemen, kadang dengan guyon dan pantun. Sehingga bisa menghadapi dengan tenang segala cecaran pertanyaan anggota dewan, seperti pembahasan anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) DKI.

"Sekeras-kerasnya kami di ruang parlemen, Bang Ipul selalu bisa mencairkan suasana. Misalnya dengan pantunnya yang pas. Inilah nilai-nilai yang membedakannya dengan pejabat lain di Pemprov DKI," ungkap dia.

Menurutnya, kemampuan ini jarang sekali dimiliki pejabat. Jadi sekali lagi ini pelajaran berharga ASN di Pemprov DKI dan masyarakat Betawi dengan teladan skill ketekunan, keseriusan, dan kemampuan berkomunikasi utuh.

Saya masih ingat bahas anggaran, Saefullah dengan tenang dan argumentatif bisa menjawab dan akhirnya DPRD mendukung pihak eksekutif, kenang Taufik yang mengagumi diplomasi 'jambu air' Bang Ipul selama berkomunikasi dengan dirinya.

Di akhir tanggapan, Taufik berpesan kepada Sekda Provinsi DKI saat ini, H Marullah Matali, bisa mendekati skill komunikasi Bang Ipul; kemampuan komunikasi serius menanggapi orang lain, tapi sekaligus bisa mencairkan suasana.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam sambutannya mengatakan buku ini merupakan hikmah lintas zaman dan pelajaran hidup dari generasi ke generasi.

"Saefullah menjadi contoh dari karir dan puncak pengabdian anak Betawi dari kampung Rorotan untuk masyarakat Jakarta," ujar Gubernur Anies.

Buku Bang Ipul berisi testimoni lebih 100 orang yang dianggap dekat dengan Saefullah, seperti keluarga, kerabat, kolega, dan sahabat termasuk Presiden Jokowi. Perlu diketahui mantan Sekda Saefullah menjabat dan melayani 5 gubernur dalam kurun waktu 6 tahun (2014-2020) seperti Gubernur Joko Widodo, Basuki Tjahaya Purnama, Djarot Saiful Hidayat, Soni Sumarsono, dan Anies Baswedan.

Prof Agus Suradika yang pernah menjadi Deputi Gubernur DKI Jakarta juga mengagumi kemampuan almarhum secara emosional, karena dia begitu tenang dalam segala situasi dan suasana.

"Saya enggak pernah melihat Bang Ipul marah. Kalau diam, berarti dia marah. Bang Ipul juga pandai menggunakan diksi yang dapat mendinginkan suasana. Orang yang lagi panas jadi enggak bisa marah,” ujar Prof Agus.

Sejarawan JJ Rizal berpendapat Bang Ipul sebagai pendobrak stigma orang Betawi tidak dapat bersaing di kancah politik nasional. Adalah fakta almarhum menjadi sekda provinsi DKI Jakarta, di ibukota negara, menunjukkan posisi Bang Ipul yang dapat memenangkan kompromi politik kelompok di luar Betawi.

“Apalagi dia berasal dari Rorotan, Jakarta Utara, bukan Menteng atau kawasan elite lain di Jakarta,” ucapnya.

Pembahas terakhir, KH Zulfa Mustofa menyoroti aktivitas Bang Ipul sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta. Ketika era Gubernur Ahok, hubungan Pemprov DKI dan umat Islam tegang, sehingga almarhum sering mengadakan pengajian di rumah dinas sekda. Aktivitas ini lumayan mengurangi ketegangan tersebut.

Pada konteks itu, menurut dia, visi Bang Ipul luar biasa. “Saya meyakini Pak Saefullah sebenarnya bukan hanya simpul Betawi dari Gubernur ke Gubernur, tapi juga simpul Betawi di NU. Beliau meneruskan kiprah orang-orang hebat Betawi di NU,” pungkai Kiai Zulfa.

Rekomendasi