Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperhatikan betul kebutuhan gizi anak-anak sekolah di Ibu Kota. Hal ini karena asupan gizi menjadi faktor penting dalam proses pembelajaran anak sekolah. Untuk memenuhi asupan gizi tersebut Pemprov DKI Jakarta memiliki program Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS) yang diberikan kepada sekolah-sekolah di Jakarta pada hari Senin hingga Jumat.
Program ini pun mendapat respons positif dari para wali murid, seperti yang disampaikan Kristina (39). Orang tua dari siswa sekolah dasar di Johar Baru ini menyampaikan, penambahan 27 varian menjadi inovasi baru yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta.
"Kadang, sebelumnya juga diberitahu menu yang akan diberikan di sekolah melalui Whatsapp. Salah satu yang menjadi menu favorit adalah omelet telur," ujarnya, Sabtu (2/11).
Wali murid lainnya, Nurhayati Muntani (46), orang tua murid sekolah dasar di Jakarta Selatan, menilai PMTAS merupakan program yang bagus dan membiasakan anak-anak mengonsumsi makanan sehat. Program PMTAS menjadi solusi agar anak-anak tidak jajan sembarangan selama di sekolah.
"Anak-anak sekarang itu lebih senang jajan-jajan. Mereka susah jika diminta mengonsumsi makanan bergizi seperti buah atau sayur," katanya.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan agar anak-anak tidak bosan dengan menu sehat yang diberikan kini sudah ditambah 27 varian menu sehingga total menu ada 29 jenis. "Sekarang ada 29 jenis makanan yang disiapkan. Varian makanan itu sudah mempertimbangkan faktor gizi, selera, dan kearifan lokal," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Jumat (5/4).
Menurut Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Ida Nurbani, 29 varian menu yang disediakan oleh program PMTAS antara lain nasi goreng, telur, sayur sop daging, sandwich telur, roti, jeruk, pisang, susu UHT, dan lain-lain. Menu-menu kue tradisional juga menjadi pilihan dalam varian menu seperti Onde-onde Kacang Hijau, Nagasari, Lemper, Ongol-ongol, Bacang, Klepon, dan lain-lain dengan harga Rp 10.890/anak.
"Sekolah atau komite bebas memilih menu sesuai dengan kemampuan komite dalam menyediakan menu-menu tersebut," kata Ida.
Dia menambahkan, program makanan tambahan ini akan terus dikembangkan Pemprov DKI Jakarta agar lebih banyak menjangkau siswa Jakarta. "Diharapkan ada penambahan sekolah penerima PMTAS, terutama di sekolah yang banyak terdapat anak yang tidak mampu," jelasnya.
Program ini mendapat respons positif dari wali murid, seperti yang disampaikan Kristina (39). Orang tua dari siswa sekolah dasar di Johar Baru ini menyampaikan, penambahan 27 varian menjadi inovasi baru yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta.
"Kadang, sebelumnya juga diberitahu menu yang akan diberikan di sekolah melalui Whatsapp. Salah satu yang menjadi menu favorit adalah omelet telur," ujarnya, Sabtu (2/11).
Wali murid lainnya, Nurhayati Muntani (46), orang tua murid sekolah dasar di Jakarta Selatan, menilai program ini merupakan program yang bagus dan membiasakan anak-anak mengonsumsi makanan sehat. "Anak-anak sekarang itu lebih senang jajan-jajan. Mereka susah jika diminta mengonsumsi makanan bergizi seperti buah atau sayur," katanya.
Untuk informasi, program PMTAS diwujudkan dengan keluarnya Pergub Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah pada satuan pendidikan. Sejak diluncurkan pada 2018, sebanyak 459 sekolah dilibatkan dalam program ini. Sekolah yang tersebar di 53 kelurahan tersebut terdiri atas Taman Kanak-kanak (TK) sebanyak 75, Sekolah Dasar (SD) Negeri sebanyak 375, dan Sekolah Luar Biasa (SLB) sebanyak 9 sekolah. Pemprov mengalokasikan anggaran sebesar Rp 324 miliar untuk program PMTAS tahun ini.
Tak kurang dari 144.722 siswa-siswi di DKI telah merasakan program ini, dengan rincian SD sebanyak 137.718 peserta didik, TK 5.304 peserta didik, dan SLB sebanyak 1.700 peserta didik.