Setiap manusia yang terlahir dalam kondisi apapun sepatutnya memiliki hak yang sama di muka bumi ini. Termasuk kaum disabilitas.Mereka berhak mendapatkan fasilitas dan pelayanan yang sama dengan manusia normal umumnya. Sekalipun saat berada di angkutan umum.Tapi kenyataannya tak demikian. Banyak penyandang disabilitas yang sering merasakan diskriminasi. Seperti yang dialami Yuda Chandra (29). Warga Jakarta ini mengidap kanker tulang punggung yang menyebabkan kedua kakinya lumpuh total. Kondisi demikian membuatnya merasa kesulitan saat menggunakan angkutan massal di ibu kota.Dia berharap, seharusnya penyandang disabilitas seperti dirinya dapat menikmati pelayanan sarana dan perlakuan khusus. Sebab mereka juga berhak menikmati fasilitas umum di Jakarta seperti masyarakat lain."Saya coba naik angkutan umum, tapi sarana tidak memadai," kata Yudha saat berbincang santai, Rabu (3/12).Dia lantas bercerita soal kisahnya. Saat itu, pada tahun 2010 lalu, dirinya kesulitan saat menggunakan Transjakarta di Halte Buaran, Jakarta Timur, karena curamnya tangga luncur (Ramp) di koridor tersebut."Tidak ada cara lain, kecuali memacu kursi roda ini kuat-kuat ke koridor TransJakarta. Masak saya minta bantuan orang lain untuk mendorong kursi roda ini," kisahnya.Pengalaman pahit lainnya, ungkap Yudha, saat dirinya ingin membeli sepeda motor sekitar 2 tahun lalu. Dia harus memodifikasi sendiri motor yang cocok dengannya sampai menghabiskan biasanya Rp 5 juta."Naik mobil pribadi kan enggak mungkin karena saya tidak mampu membeli kendaraan itu," tambahnya.Tapi kesedihan lalu sudah membuat dirinya tegar. Dia kini sudah leluasa ke sana kemari membeli bahan baku."Alhamdulillah sekarang saya enggak pusing lagi memikirkan cara untuk menggunakan angkutan umum. Karena sudah punya motor sendiri," kata Yudha.Walau telah memiliki kendaraan sendiri, namun Yuda tetap berkeinginan untuk menaiki angkutan umum yang menyediakan sarana dan prasarana untuk penyandang stabilitas seperti dirinya. Seperti pembangunan lift dan eskalator di halte Transjakarta."Kalau masalah kenyamanan dan keamanan, sebetulnya enakan naik TransJakarta. Tapi bagaimana kami bisa menikmatinya, kan fasilitas untuk kalangan disabilitas masih minim," tandasnya.Hal senada juga diungkap Rade Bunga (29). Dia mengalami lumpuh di kedua kakinya karena kecelakaan mobil tahun 1994.Perempuan yang bekerja sebagai karyawan swasta di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan tersebut, mengaku mengalami kesulitan menikmati saran transportasi massal di ibu kota.Bunga pun juga berbagi pengalaman, dirinya sempat kesulitan untuk menanjak di ramp Transjakarta, sebab posisinya agak curam."Saya sampai ditolongin sama orang lain untuk naik ke koridor. Seharusnya, kalau ramp dibuat landai, saya bisa mengayuh kursi roda sendirian," kata Bunga.Selain mengeluhkan minimnya fasilitas transportasi, Bunga juga mengeluhkan sempitnya pedestrian (jalur pejalan kaki). Untuk melintas di pedestrian, bahkan ia harus berbagi ruang dengan pengendara motor yang seenaknya menyerobot hak pejalan kaki."Selain fasilitas angkutan umum diperbaiki, saya juga berharap agar pemerintah memperhatikan jalur pejalan kaki. Terutama bagi kami yang menyandang disabilitas," pungkas Bunga.
Pak Ahok, kenapa angkutan Jakarta tak ramah untuk disabilitas?
"Saya coba naik angkutan umum, tapi sarana tidak memadai," kata Yudha.
Advertisement
Rekomendasi