Loyal di Pilgub DKI, Haji Lulung kini vokal kritik Anies-Sandi

Rabu, 8 November 2017 06:29 Reporter : Mardani, Syifa Hanifah, Intan Umbari Prihatin
Loyal di Pilgub DKI, Haji Lulung kini vokal kritik Anies-Sandi Haji Lulung pasca pemecatan dirinya. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Wakil Ketua DPRD DKI Abraham Lunggana atau biasa disapa Haji Lulung dikenal keras mendukung Anies-Sandi saat Pilgub DKI lalu. Lulung bahkan rela berseberangan dengan PPP kubu Djan Faridz yang saat itu memilih mendukung pasangan Ahok-Djarot.

Akibat sikap berseberangan saat itu, Lulung bahkan harus rela dipecat Djan Faridz dari posisinya di kepengurusan PPP. Kini Pilgub DKI telah berakhir. Pasangan Anies-Sandi telah dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

Roda pemerintahan di bawah komando Anies-Sandi telah bergulir. Namun rupanya tak semua program dan rencana kebijakan Anies-Sandi didukung oleh Haji Lulung.

Soal penataan Tanah Abang misalnya. Sandiaga mengakui di Tanah Abang terdapat preman. Sandi mengaku akan mengajak semua pihak untuk berdiskusi terkait penataan kawasan Pasar Tanah Abang. Salah satu yang akan diajak diskusi adalah para preman.

"Mereka semua masuk dalam diskusi ini. Termasuk, mohon maaf, preman-premannya," kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (2/11) lalu.

Pernyataan Sandi tersebut langsung mendapat bantahan dari Lulung. Pria yang namanya tenar di Tanah Abang itu membantah ada preman di Tanah Abang. Dia mengklaim sudah membuktikan itu dengan cara investigasi bersama Kapolsek dan Camat Tanah Abang.

Lulung menegaskan di Tanah Abang hanya ada anak lingkungan. Dia menerangkan, anak lingkungan adalah sebutan untuk warga setempat yang mengurus kebutuhan pedagang di Tanah Abang. Dia langsung menegaskan bahwa anak lingkungan berbeda dengan preman yang biasa memeras.

"Kalau preman, yakin, aku yakin anak lingkungan marah. Pasti anak lingkungan dulu yang laporin ke polisi, pasti," kata Lulung di Gedung DPRD, Jakarta Pusat, Selasa (7/11).

Lulung juga tak sependapat dengan rencana Anies Baswedan mencabut larangan sepeda motor melintas di Jalan Thamrin. Lulung meminta Anies mengkaji terlebih dahulu baik buruknya jika larangan tersebut dicabut.

Lulung beralasan Jalan Thamrin merupakan jalan protokol yang terdapat simbol-simbol negara seperti Istana Presiden dan selalu dilintasi Presiden serta tamu-tamu negara.

"Kita tahu bahwa teman-teman yang berkendaraan motor harus kita hargai tapi sama-sama kita menyadari akan kepentingan lebih besar. Saya si happy kalau untuk dibuka cuma evaluasi dulu," kata Lulung.

Lulung berencana mengundang Anies untuk membicarakan dan mematangkan rencana tersebut. Dia memberi saran alangkah baiknya jika larangan sepeda motor tetap berlaku hanya saja diatur jam-jam untuk motor melintas karena selama ini motor tidak boleh melintas sepanjang hari di Jalan Thamrin.

"Kalau kemarinkan 24 jam kan, nah kalau sekarang jam nya yang mana itu saja yang bisa diatur. Masyarakat nyaman kita juga yang lain nyaman, pemerintah dalam ini bertugas juga enak karena jalan protokol," jelasnya.

Menurutnya, jika dilihat dari jumlah motor saat ini di Jakarta, dikhawatirkan akan menambah kesemrautan di Jalan Thamrin. Sebab dikhawatirkan pengendara motor melanggar lalu lintas.

"Sekarang kalau motor di sana yakin enggak pada enggak ngelawan arah? Ntar motor dikasih lewat situ ngelawan arah juga kan ini juga masalah. Kesadaran berkendaraan ini memang belum ada ya. Pokoknya nanti kita bisa duduk barenglah nanti," katanya. [dan]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini