Kisah tragis bayi Rasya dibunuh pengasuhnya
Merdeka.com - Tak ada lagi tangisan Rasya Alfino Azmi yang didengar kedua orang tuanya. Bayi lucu berusia lima bulan itu tewas karena kehabisan napas. Sang pengasuh, Irma, kesal karena Rasya tak berhenti menangis. Dibekapnya sang bayi, lalu dililit dengan kain. Kasus ini menjadi peringatan serius bagi para orangtua agar hati-hati memilih pengasuh bayi.
Awalnya, peristiwa yang terjadi di Jalan KPBBI RT 1 RW 16, Karet Tengsin, Tanah Abang, Kamis (31/1) sore dilaporkan sebagai peristiwa perampokan.
Polisi yang mendatangi tempat kejadian menemukan Irma diikat dengan tali dan celana bayi. Kondisi lemari pun telah acak-acakan. Sementara bayi Rasya telah meninggal dengan kondisi tubuh dililit kain panjang yang biasa dipakai untuk menggendong.
Berdasarkan keterangan Irma, ada perampok yang datang dan dirinya dipukul oleh perampok. Namun polisi meragukan keterangan itu. Kapolsek Tanah Abang AKBP Suyudi Ariseto mengatakan, pelaku yang kini tengah mengandung 3 bulan ditetapkan sebagai tersangka lantaran penyidik menemukan sejumlah kejanggalan dalam keterangan yang diberikannya.
"Sewaktu diperiksa keterangannya berubah-ubah. Awalnya mengatakan ada perampokan. Kemudian berubah lagi jadi pemerkosaan," ujar Suyudi di Mapolda Metro Jaya, Senin (4/2).
Selain itu, lanjut Suyudi, tersangka juga mengatakan dirinya dipukul oleh para pelaku perampok rekayasanya. "Lalu setelah kita periksa kan ke Rumah Sakit, pihak dokter tidak menemukan luka akibat pukulan satu pun di tubuh tersangka," papar Suyudi.
Kejanggalan lainnya yang ditemukan penyidik, yakni terdapat pada ikatan tali rafia yang melilit pada tubuh Irma (pelaku). "Yang bersangkutan (Irma) hanya mengikat dirinya dengan ikatan seadanya saja. Kemudian mengikatnya hanya dengan tali rafia yang sudah dibagi jadi dua. Jadi sangat tipis tali rafia itu. Simpul pada ikatannya pun mencurigakan," papar Suyudi.
Akhirnya, dari mulut Irma pun keluar pengakuan setelah petugas memeriksanya dengan intensif. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, kejadian berawal saat pelaku yang memang sehari-hari mengasuh korban sudah tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.
"Saat itu korban merengek sejak pukul 10.00, karena tidak tahan dengan rengekan korban, akhirnya membekap wajah korban dengan tangan. Namun, karena tidak juga diam akhirnya pelaku melilitkan kain panjang ke wajah dan tubuh korban agar korban diam," ujar Rikwanto.
Setelah melilitkan korban dengan kain, lanjut Rikwanto, kemudian pelaku kembali melanjutkan pekerjaannya. "Pelaku lalu melanjutkan menyetrika, menjemur, dan mengerjakan pekerjaannya sehari-hari," tutur Rikwanto.
Tak disangka, setelah ditinggal beberapa jam dengan kondisi wajah dan tubuh terlilit kain, bayi Rasya pun tewas kehabisan napas. "Setelah selesai bekerja, pelaku mendapati korban sudah tidak bernapas lagi," papar Rikwanto.
Kaget mendapati bayi asuhannya sudah tidak bernyawa lagi, lanjut Rikwanto, Irma kemudian menciptakan alibi. "Pelaku membuat skenario yang seolah-olah rumah tempat dia bekerja habis didatangi pelaku perampokan dan korban tewas akibat dibekap para perampok," ucap Rikwanto lagi.
"Agar lebih meyakinkan pelaku pun membuka lemari dan mengacak-acak isinya. Kemudian dia juga mengikat dirinya sendiri dengan tali rafia dan celana legging bayi," imbuh Rikwanto.
Barang bukti yang disita pihak kepolisian, yakni kain panjang batik coklat, tali rafia, celana bayi warna coklat, celana panjang anak motif bulat-bulat.
Atas perbuatannya, Irma dijerat pasal 80 ayat 3 UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak dan pasal 338 KUHP dengan ancaman 15 tahun penjara. Polisi juga akan melakukan tes kejiwaan terhadap Irma.
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait menyatakan prihatin atas terjadinya kasus ini. Dia mengimbau, kasus ini harus dijadikan pelajaran bagi semua pihak, terutama orang tua agar lebih berhati-hati dalam memilih pengasuh.
"Data di Komnas PA, kejadian seperti ini banyak ada bayi yang dibekap bantal dan kasus kekerasan terhadap anak yang menyebabkan hilangnya nyawa. Selain proses hukum untuk pelakunya harus dilanjutkan, di sisi lain, kasus ini menjadi pelajaran bagi orangtua agar betul-betul selektif dalam memilih pengasuh," ujarnya.
Menurut Arist, selain selektif saat proses awal memilih pengasuh anak atau pembantu, cara lainnya adalah menjadikan mereka sebagai bagian dari keluarga.
"Jangan anggap mereka sebagai buruh atau pekerja, jadikan mereka sebagai bagian keluarga karena dengan begitu mereka akan merasa memiliki dan bertanggung jawab," tandasnya. (mdk/bal)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya