Kasus Keluarga Tewas di Kalideres: Sosok Ini Diduga Penganut 'Hardcore' Sekte

Kamis, 1 Desember 2022 18:47 Reporter : Rahmat Baihaqi
Kasus Keluarga Tewas di Kalideres: Sosok Ini Diduga Penganut 'Hardcore' Sekte Olah TKP satu Keluarga meninggal di Kalideres. ©2022 Liputan6.com/Johan Tallo

Merdeka.com - Kasus sekeluarga tewas di rumah Kalideres masih menyisakan banyak misteri. Dugaan pengikut sekte hingga temuan kemenyan dan alat ritual memperkuat alasan kematian satu keluarga tersebut.

Pakar Kriminologi Universitas Indonesia, Adrianus Meliala meyakini sosok Budyanto adalah orang yang menganut sekte. Kemudian, dia menularkan ajaran tersebut kepada keluarganya.

Diketahui, empat keluarga di Kalideres yang tewas yakni, Rudyanto Gunawan (ayah), K. Margaretha Gunawan (ibu), Budyanto Gunawan (Paman Dian) dan Dian (anak).

Bahkan, Adrianus menilai, Budyanto telah lama menganut sekte tersebut. Hingga bisa terjadi peristiwa kematian empat keluarga secara tragis. Kemudian, sempat memutus komunikasi dengan saudara dan tetangga.

"Maka tentu Budi itu bukan dikatakan sebagai orang baru. Pasti dia sudah dalam situasi yang sudah amat percaya keyakinannya. Dan terbiasa sudah juga memakai ritual-ritual itu," kata Adrianus saat dihubungi merdeka.com, Kamis (1/12).

"Artinya dia kan hardcore ini yang kemudian terus menerus mempraktikkan ritual itu meskipun sudah mau sekarat," tegas dia.

2 dari 5 halaman

Meskipun Adrianus tak bisa menjelaskan berapa lama dan seberapa bahaya sekte tersebut, namun dia yakin bahwa Budyanto adalah sosok penganut berat paham tersebut.

"Secara kualitas tampaknya dia penganut berat, amat percaya ajaran-ajaran itu," katanya.

Adrianus juga meyakini jika para penganut sekte tersebut memiliki komunitas di Indonesia. Kemudian, komunitas tersebut memiliki pemimpin atau guru sebagai ketua kelompok.

"Tapi masalahnya kelompok ini tuh siapa? Lalu kemudian gurunya siapa? Pasti gurunya dan kelompok ini sedang tiarap semua. Tidak mau menunjukan diri karana takut terimplikasi oleh polisi," ujar dia.

3 dari 5 halaman

Oleh sebab itu, Adrianus meminta agar polisi tak cuma berhenti dalam pengusutan kasus kematian. Tapi juga menelusuri kelompok dan anggota sekte tersebut.

"Jadi ini yang perlu diwaspadai oleh kepolisian dan polisi tidak hanya boleh sampai kesimpulan bahwa orang ini mati, tapi mesti dicaritahu kalau mungkin kelompoknya siapa? Siapa gurunya yang kurang lebih menganjurkan hal yang sama juga," kata dia.

Dia menyarankan, polisi untuk mengejar aliran dana dari kelompok tersebut. Dia yakin, ada nomor rekening yang digunakan Budyanto dari atau ke kelompok sekte tersebut.

"Biasanya kalau melihat dari pengalaman-pengalaman seperti ini pasti ada gurunya. Dan gurunya ini dibekali oleh anak buahnya yang menghidupi, mengongkosi sang guru ini," kata Adrianus.

4 dari 5 halaman

Soal keberadaan sang guru, Adrianus meyakini, sosoknya berada di Indonesia. Tapi tidak menutup kemungkinan pula apabila sekte ini berasal dari luar negeri.

"Tapi ini bukan masalah dalam atau luar negerinya. Tapi kita yakinlah bahwa ini bukan suatu kerjaan pribadi. Pasti ada komunitas dan pihak mencalonkan ajaran ini," katanya.

Sementara itu, Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Hengki Haryadi menyebut, Budyanto Gunawan diduga menganut ritual tertentu.

"Ada kecenderungan salah satu keluarga yang dominan, yang mengarah kepada almarhum Budiyanto, bahwa yang bersangkutan memiliki sikap positif terhadap aktivitas ritual tertentu," kata Hengki.

Hengki menduga ketiga korban lain terpengaruh dengan ritual yang dijalankan Budyanto. Sehingga, mereka patut mengikuti jejak Budyanto mejalani ritual serupa.

"Hal ini mengakibatkan adanya suatu believe dalam keluarga tersebut bahwa upaya untuk membuat kondisi lebih baik atau mengatasi masalah yang terjadi dalam keluarga, dilakukan melalui ritual tertentu," ujar Hengki.

Hengki menerangkan, temuan itu berdasarkan hasil koordinasi antara penyidik Tim Asosiasi Psikologi Forensik. "Ada keindetikkan penyelidikan berdasarkan keterangan saksi dan bukti bukti yang ada di lokasi kejadian," ujar dia.

5 dari 5 halaman

Gandeng Ahli Sosilogi Agama

Hengki juga menyebut barang bukti terbaru yang disita di antaranya buku-buku, mantra hingga kemenyan. Sehingga pihaknya perlu melibatkan Ahli Sosiologi Agama untuk mendalami temuan barang-barang di dalam rumah.

"Kami temukan buku-buku lintas agama, serta mantra dan kemenyan. Oleh karenanya, kami akan mengundang ahli sosiologi agama, untuk melakukan analisa lebih lanjut terhadap tulisan yang ada di dalam buku, serta hubungannya dengan temuan jejak benda-benda di TKP," kata dia.

Terkait hal ini, Hengki menerangkan Tim Asosiasi psikologi forensik masih terus mendalami motif Psikologis kematian melalui otopsi psikologis.

"Scientific crime investigation selalu menjadi acuan atau metode pembuktian utama," ujar dia.

Pun demikian, kata Hengki dengan penyebab kematian. Penyidik menggandeng para ahli kedokteran forensik gabungan dari kedokteran forensik Polri maupun RSCM/ Universitas Indonesia.

"Mengenai sebab-sebab kematian, kami sedang menanti hasil dari pemeriksaan patologi anatomi yang saat ini sedang di dalami," ujar dia. [rnd]

Baca juga:
Kematian Satu Keluarga di Kalideres, Polisi Bicara Kecil Kemungkinan Unsur Pidana
Misteri Keluarga Tewas di Kalideres, Polisi Dalami Kaitan Ritual & Motif Kematian
Analisis Kriminolog Penyebab Kematian Satu Keluarga di Kalideres, Ada Desperate Death
Kasus Satu Keluarga Tewas di Kalideres, Polisi Identifikasi Kain Diduga Mantra
Misteri Kematian Sekeluarga di Kalideres, Diduga Terkait Ritual Tertentu

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini