Jembatan Kota Intan, sisa peninggalan Belanda di Batavia

Kamis, 26 Juli 2018 05:00 Reporter : Merdeka
Jembatan Kota Intan, sisa peninggalan Belanda di Batavia Jembatan Kota Intan. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Jembatan Kota Intan merupakan salah satu peninggalan bersejarah zaman Belanda. Jembatan yang kini berada dalam kawasan bersejarah Kota Tua, Jakarta Barat merupakan tempat lalu lalang transportasi air era kolonial.

Hal ini lantaran Jembatan Kota Intan bisa dibuka tutup atau menggunakan hidrolik. Jadi, ketika ada kapal lewat, maka jembatan akan naik ke atas dan terbuka sehingga kapal bisa lewat. Tetapi setelah kapal lewat, jembatan kembali turun atau ditutup sehingga bisa dilalui orang untuk menyeberang.

"Zaman Belanda itu (Jembatan Kota Intan) menjadi lalu lintas perdagangan ketika kapal besar Belanda berlabuh, bersandar di Sunda Kelapa," ujar Kepala Unit Pelaksana Kawasan (UPK) Kota Tua, Novriadi S Husodo saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (25/7).

Dia menceritakan, saat zaman Belanda dulu, kapal-kapal kecil seperti tongkang dan perahu, melewati Jembatan Kota Intan menelusuri Kali Besar hingga ke Sunda Kelapa.

"Nah ketika jual beli, dari titik di Asemka di pintu kecil, terus bawa lagi kapalnya ke Sunda Kelapa dibongkar muat masuk kapal besar, baru kembali ke negaranya," ucapnya.

Novriadi memastikan, pembangunan Jembatan Kota Intan dilakukan pada masa kolonial Belanda. Namun seiring berjalannya waktu, sudah banyak jembatan yang dibangun menggunakan beton di kanan kirinya hingga kapal-kapal pun tidak bisa lewat.

"Ketika arus lalu lintas kapal-kapal itu enggak bisa lewat lagi, ada jembatan di sisi utaranya, terus di sisi selatannya juga banyak jembatan, udah enggak ada lalu lintas kapal, jadi jungkat-jungkitnya sudah tidak berfungsi secara original untuk pintu lalu lintas," kata dia.

Selain itu, ada pula rel kereta di dekat lokasi Jembatan Kota Intan. Hal ini pula yang membuat Jembatan Kota Intan tidak bisa berfungsi normal lagi. Dengan banyaknya jembatan dan adanya rel kereta sejak puluhan tahun lalu atau usai masa kemerdekaan, maka Jembatan Kota Intan juga tidak berfungsi lagi.

Jadi monumen

Dikarenakan sudah tidak difungsikan sebagai jembatan, kini Jembatan Kota Intan hanya dijadikan sebagai monumen saja. Meski begitu, tempat ini masih dibuka untuk umum.

Hanya saja, jembatan tersebut dibatasi jika ada orang yang ingin merasakan sensasi menyeberang di jembatan hidrolik. Alasannya tidak lain mengingat kayu jembatan yang memang sudah terlihat rapuh.

"Nah sekarang jadi monumen saja. Monumen itu ya seperti yang kondisi sekarang. Hidroliknya tidak bisa difungsikan, tetapi menjadi monumen. Kalau terbuka untuk umum, jumlahnya banyak, kita khawatir di sana terjadi sesuatu tidak diinginkan, makanya selektif, jumlahnya sehari mungkin maksimal 20 itu bisa berkunjung," paparnya.

Ajukan perbaikan

Melihat kondisi Jembatan Kota Intan yang memiliki nilai sejarah tetapi kondisinya mengkhawatirkan, maka Novriadi pun mengaku pihaknya mengganggarkan untuk perbaikan.

"Karena rapuh, kita coba usulkan perbaikan dulu. Sedang kita usulkan untuk anggaran perbaikan, di 2019 sepertinya dinas akan melakukan perbaikan itu. Ketika sudah diperbaiki secara maksimal, bisa dikunjungi lagi, baru kita buka secara untuk umum," jelas Novriadi.

Pantauan di lokasi, Jembatan Kota Intan memang tampak layuh. Kayu-kayunya pun terlihat sudah lapuk. Cat pada pegangan jembatan juga mengelupas.

Jembatan Kota Intan pun dipagari. Hal ini untuk mencegah agar tidak ada tangan-tangan usil yang mencoba merusak. Selain itu juga agar jembatan tidak dinaiki langsung secara bersama-sama. Terdapat petugas yang menjaga di pagar pintu masuk.

Penamaan Jembatan Kota Intan

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Jembatan Kota Intan dibangun masa pemerintah Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC atau persekutuan dagang asal Belanda pada 1628.

Nama jembatan ini pun sempat berganti-ganti. Awalnya dinamai Engelse Brug atau Jembatan Inggris, kemudian diubah menjadi de Hoenderpasar Brug (Jembatan Pasar Ayam). Hal ini lantaran di sekitarnya terdapat penjual ayam.

25 kemudian atau tepatnya 1655, jembatan ini lagi-lagi mengalami kerusakan dan perbaikan. Pasca-perbaikan, namanya pun kembali berganti menjadi Jembatan Het Midd.

Pada 1938 fungsi jembatan diubah menjadi jembatan gantung. Tujuannya agar dapat diangkat untuk lalu lintas perahu dan mencegah kerusakan akibat banjir, namun bentuk dan gayanya tidak pernah diubah.

Nama jembatan kembali berubah menjadi Jembatan Phalsbrug Juliana atau Juliana Bernhard karena waktu itu Ratu Juliana yang menjadi ratu di Belanda.

Sebelumnya, jembatan juga diberi nama Jembatan Wilhemina (Wilhemina brug), ibu dari Juliana. Kemudian pascaproklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, nama jembatan kembali berubah hingga seperti saat ini yaitu Jembatan Kota Intan.

Jembatan kayu ini memiliki panjang 30 dan lebar 4,43 meter. Jembatan Kota Intan menjadi satu-satunya yang tersisa dari jembatan sejenis yang pernah dibangun Belanda.

Reporter: Devira Prastiwi [cob]

Baca juga:
Menelusuri jejak Islam di Klenteng Sam Poo Kong Semarang
Penampakan mumi dalam peti kuno berusia 2.000 tahun di Alexandria
Tim arkeolog temukan denah candi dan petirtaan peninggalan kerajaan Kediri
Ini alasan ada bangunan di Kota Tua bukan cagar budaya
Menyusuri bunker persembunyian Joseph Stalin di Samara

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini