Cerita di Rusun Marunda (2)

Eks warga Waduk Pluit: Fasilitas Rusun Marunda bak apartemen

Kamis, 29 Agustus 2013 07:31 Reporter : Pramirvan Datu Aprillatu
Eks warga Waduk Pluit: Fasilitas Rusun Marunda bak apartemen Lingkungan Rusunawa Marunda. ©2013 Merdeka.com/Pramirvan Datu

Merdeka.com - Ramai sekali suasana di rumah susun (Rusun) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, kini. Padahal sebelumnya, sejak dibangun zaman Gubernur Fauzi Bowo , beberapa gedung tinggi di sana nyaris terbengkalai karena tak berpenghuni.

Saat merdeka.com berkunjung ke sana, tak ada lagi kesan seram. Sinar matahari yang terpancar leluasa justru makin membuat suasana di rusun segar. Warganya pun ramah-ramah.

Sebagian besar penghuni di sana adalah bekas warga bantaran Waduk Pluit yang digusur Pemprov DKI Jakarta. Mereka dianggap tak layak tinggal di sana, karena menempati tanah negara dan mempersempit luasan waduk.

Salah satunya Warlan (52), penghuni unit Bluster B, Blok 2, lantai 4, nomor 9. Meski lelah menaiki anak tangga untuk mencapai kediaman Warlan di lantai empat, semua langsung terbayar ketika sampai di rumah mungilnya. Angin semilir berembus sepoi. Tak ada kesan ruangan pengap dan lembab.

Saat ditemui, rupanya Warlan sedang asyik menikmati fasilitas gratis televisi layar datar 21 inchi tanpa memakai baju. Katanya, lokasi huniannya yang berdekatan dengan laut lebih enak jika dinikmati dengan bertelanjang dada sambil santai menunggu waktu berjualan bakso ikan.

Memulai pembicaraan, Warlan mengaku senang dengan kondisi tempat tinggalnya sekarang ini. "Kalau tempat tinggal, jauh lebih baik di sini. Semua perabotan, televisi, kulkas, kompor gas, sama kasur semuanya gratis. Kaya fasilitas apatemen," cerita Warlan.

Warlan menuturkan, pada dasarnya luas tiap rusun sama yakni 5x9 meter, dengan 2 kamar tidur masing-masing luasnya 2,5 x 2,5 meter. Di bagian belakang terdapat dapur dengan ukuran 2x2 meter, kamar mandi luasnya 1,6x2 meter, dan pada bagian pojok ruangan, tersisa tempat cuci serta menjemur pakaian yang luasnya hanya 1X2 meter. Ruangan itu makin diperindah dengan meja makan yang tertata ruang tengah.

Meski diberi fasilitas gratis, Warlan mengaku tetap dipungut biaya iuran. "Saya membayar iuran sekitar Rp 120 ribuan untuk setiap bulannya, ada tambahan Rp 5 ribu untuk kas bulanan, hanya itu saja. Untuk listrik kita pakai voucher, dan airnya gratis," terang Warlan yang dulunya mendiami bantaran Waduk Pluit sejak tahun 1977.

Pria asal Cirebon itu mengatakan sejauh ini tak ada pungutan liar ataupun fasilitas yang tak didapatkannya di Rusunawa Marunda. Maka dari itu, ia menyayangkan jika masih ada warga bantaran waduk Pluit yang menolak di relokasi.

"Saya lihat di televisi masih ada yang menolak. Pikirin dulu di sana kayak gimana, tahu begini kenapa enggak dari dulu saja," jelas Warlan sambil menyunggingkan senyuman. [ded]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini