Berpendidikan Tinggi, Kenapa LAS Mau Terlibat Kasus Pembunuhan dan Mutilasi?
Merdeka.com - DAF dan kekasihnya LAS bersekongkol menghabisi nyawa RHW. Alasannya, mereka ingin menguras harta benda korban karena sedang butuh uang.
Setelah LAS menjebak korban dengan pertemuan di sebuah apartemen, DAF yang juga berada di unit kamar yang disewa langsung menghabisi RHW. Setelah mengetahui RHW tak bernyawa, muncul niat memutilasi jasad korban.
Belakangan diketahui LAS seorang lulusan kampus ternama. Lalu apa yang menyebabkan dirinnya mau berurusan dengan tindak kriminal?
Kriminolog dari Universitas Budi Luhur, Chazizah Gusnita, menilai banyak faktor seseorang tega berbuat sadis pada pihak tertentu.
Semasa sekolah LAS termasuk anak rajin. Kenapa dia mau terlibat rencana pembunuhan hingga mutilasi bersama pasangannya DAF?
Ada banyak faktor, mulai dari orangtua sebagai norma pertama dalam melakukan tindakan, lingkungan sosial karena lingkungan yang mendukung seseorang di lingkungan yang baik atau tidak.
Kemudian teman juga memengaruhi karena ketika seseorang tidak memiliki benteng norma dari lingkungan keluarga, maka dengan teman sebaya karena satu sama lain memiliki ikatan kepercayaan sehingga merasa keduanya memiliki nasib, keinginan, tujuan yang sama.
Teman sebaya sangat memengaruhi seseorang dalam perubahan sikap baik itu tindakan dan karakter.
LAS diketahui seorang lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI), yang artinya orang berpendidikan. Apakah pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang bertindak lebih terukur?
Banyak kasus pelaku berpendidikan tinggi. Justru yang punya manajemen organisasi kasus pembunuhan sebenarnya punya tingkat intelijen yang tinggi, orang yang mampu merencanakan pembunuhan membutuhkan pemikiran dan perencanaan yang matang untuk mengelabui penegak hukum jadi sebenarnya tidak ada jaminan kejahatan.
Teori kriminologi tidak melihat basic secara pendidikan tapi melihat faktor secara umum. Kriminologi melihat kejahatan seseorang dari banyak faktor yang memicu seseorang melakukan tindak kejahatan.
Untuk mengeksekusi korban, DAF belajar secara otodidak di media sosial. Tapi mungkinkah semudah itu mempelajarinya?
Melihat fenomena yang ada di masyarakat, karakteristiknya adalah peniruan atau imitasi. Sebenarnya banyak media yang bisa jadi imitasi peristiwa kejahatan, bagaimana seseorang belajar kejahatan baik dari lingkungan atau aplikasi media jaringan internet bahkan media massa. Semua itu bisa menjadi bahan peniruan.
Banyak sekali dalam kasus pembunuhan pelaku seolah tenang sekali dalam beraksi. Seperti DAF yang masih sempat tidur dengan jasad korban dan main game online. Kenapa hal itu bisa terjadi?
Dalam pembunuhan berencana, pelaku tentu sudah merencanakan secara matang bagaimana mereka akan merealisasikan tujuan dan rencana itu sendiri. Bagaimana supaya tidak diketahui banyak orang. Tapi kalau melihat dengan prosesnya kemudian cara misalnya memotong dengan gergaji mungkin perlu diselidiki kembali apakah memang korbannya hanya ini atau ini kejadian kesekian mereka
Belakangan sering kali kasus pembunuhan berawal dari perkenalan di media sosial. Apakah ini memang sebuah tren?
Tren pembunuhan, sebenarnya ini terkait teknologi pasti sejak ada media sosial karena media sosial menghubungkan satu sama lain, yang tidak kenal pun bisa kenal. Sebenarnya tidak hanya kasus pembunuhan, media sosial atau teknologi ada dampak baik dan buruk, utamanya ketika melihat bisnis kejahatan.
Akhirnya dengan teknologi tadi bisnis kejahatan kita dengan cepat mendapatkan keuntungan mencari korbannya. Kasus pembunuhan motifnya ekonomi, akhirnya menggunakan aplikasi yang gampang mencari seseorang salah satunya Tinder. Setiap modus kejahatan akan mengikuti perkembangan sosial, sedangkan modus kejahatan mengikuti perubahan sosial.
Reporter Magang: Febby Curie Kurniawan (mdk/lia)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya