Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan penyebab banjir ibu kota lantaran volume air dari hulu yang tidak dapat dikendalikan.
"Jadi memang saat ini menerima limpahan air dari hulu yang volumenya besar. Dan di Jakarta kita bersyukur sekali bahwa permukaan air laut pukul 08.00 pagi turun," ujar Anies di Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (27/4).
"Kalau permukaan air tidak turun, maka aliran (air) yang turun dari pegunungan akan berhenti di Jakarta, karena tidak bisa dialirkan, jadi kita memantau terus," Anies menambahkan.
Anies memastikan pihaknya akan terus berusaha agar air kiriman dari Bogor yang mengalir ke Jakarta bisa terus diantisipasi. Caranya dengan mengubah pintu air di beberapa titik di Jakarta.
"Semua petugas kita stand by. Dan setiap ada pergerakan air laut langsung dibarengi perubahan pintu air sehingga aliran air dari hulu bisa segera tuntas," kata Anies.
Anies mengatakan, solusi untuk mengurangi dampak banjir di Ibu Kota dengan cara membuka tutup pintu air. Menurut Anies, selama kiriman air dari Bogor deras, maka untuk beberapa tahun ini Jakarta tetap akan terimbas banjir.
"Jadi begini, solusinya memang harus pengendalian air dari hulu. Selama volume air dari hulu tidak dikendalikan maka dua tahun lagi tahu-tahu (banjir) tempat mana. Tiga tahun lagi tempat mana. Jadi ini semua terjadi karena air dari hulu ke pesisir tidak dikendalikan," kata Anies.
Anies mencontohkan seperti banjir di Bekasi. Menurut Anies, warga Bekasi mengeluhkan banjir padahal tak ada hujan.
"Warga mengeluhkan di sana, tidak ada hujan tapi banjirnya sampai se-paha. Dan tidak pernah mereka mengalami itu. Jadi kalau kita fokus ini kampung A, kampung B, kampung C, itu gejalanya aja. Masalahnya apa, masalahnya adalah volume air dari hulu tidak dikendalikan," kata Anies.
Reporter: Fachrur Rozie