Aktivitas kapal batu bara di Tanjung Priok ganggu kesehatan warga
Merdeka.com - Aktivitas bongkar muat kapal tongkang mengangkut batu bara di Pelabuhan Tanjung Priok diduga memberikan dampak negatif bagi warga di sekitarnya. Banyak masyarakat mulai mengidap gangguan pernapasan hingga penyakit kulit.
Seperti di disampaikan oleh Ketua RT 006 Kampung Muara Bahari, Suwarno (53). Dia menyebut banyak warganya mengalami sakit mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit kulit.
Sambil menunjuk ke arah tanaman di depan rumahnya tertutup debu. Dia menuturkan sudah dua minggu terakhir intensitas debu terbawa angin dari pelabuhan Tanjung Priok ke perumahan warga semakin meningkat. "Sudah lama, dua mingguan lebih meningkat. Angin kan berhembus ke sini, bayangin itu kan serbuk halus," ungkap Suwarno di Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (24/5).
Suwarno mengaku kerap mendapat keluhan dari warganya. Dia telah berulang kali mengambil tindakan seperti melapor melalui aplikasi Qlue, namun tidak ada respon. "Dulu pernah kita buat surat, saya sampaikan ke Perum sampai tembusannya ke wali kota Jakarta Utara, Gubernur, terus Kementerian Lingkungan Hidup, Dirjen Perhubungan, waktu masih sama LMK itu sampe dateng ke Perum tapi tetap enggak ada hasilnya," terangnya.

warga terganggu aktivitas kapal batu bara di Pelabuhan Tanjung Priok ©2017 Merdeka.com/Alif
Berdasarkan keterangan Suwarno, polusi dari debu batu bara sempat menurun beberapa waktu lalu tepatnya saat harga batu bara menurun. Kini saat harga batu bara kembali naik, debu mampir ke rumah warga menurutnya bertambah banyak.
Tatu, salah seorang warga terkena dampaknya mengaku merasa gatal-gatal karena terpapar debu berasal dari aktivitas bongkar muat batu bara. Tatu juga merasa pekerjaannya bertambah karena setiap pagi harus membersihkan meja dagangannya dari debu berwarna hitam.
"Kotor banget apalagi kalau di atas itu kotor banget. Kalau kemarin ini kan agak jauhan, sekarang di samping pinggir sini, itu kata orang pelabuhannya sendiri," ujar Tatu.
Lain dengan Tatu, Sri Mulyati (56), mengaku keluarganya terserang batuk akibat kegiatan di pelabuhan Tanjung Priok tersebut. Bahkan setiap malam tidak bisa tidur dengan nyenyak sebab pernapasannya terganggu.
Menurut Mulyati, kondisi dialaminya sudah terjadi sejak Rabu pekan lalu. Dia mengaku sudah pergi ke dokter namun tidak juga sembuh. "Rasanya ini seperti tercekik sekali. Kata dokter langganan saya, dokter Yadi sih saya kena Ispa memang," ujar Mulyati sambil terbatuk.
Warga mengharapkan agar lokasi bongkar muat kapal tongkang dipindahkan ke tempat jauh dari pemukiman. Selain itu warga juga berharap mendapatkan kompensasi berupa fasilitas atau dana kesehatan bagi warga terpapar polusi dari debu batu bara.
(mdk/ang)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya