Tradisi Beli Baju Lebaran Disebut Berasal dari Banten, Begini Kisahnya
Merdeka.com - Membeli baju Lebaran seakan menjadi tradisi tahunan bagi segenap masyarakat di Indonesia. Banyak tempat penjualan pakaian yang ramai diserbu pembeli dengan berbagai penawaran menarik. Hal ini tentu sayang untuk dilewatkan.
Merujuk laman Good News From Indonesia, Minggu (24/4), ternyata kebiasaan membeli baju Lebaran sudah berlangsung sejak masa lampau. Daerah yang konon menjadi pelopor berdasarkan buku “Sejarah Nasional Indonesia” yang ditulis Marwati Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto adalah Provinsi Banten.
Lantas bagaimana mulanya Banten disebut sebagai daerah pertama yang mengenalkan tradisi membeli baju Lebaran? Berikut ulasan selengkapnya.
Dahulu Dilakukan Kalangan Keluarga Kerajaan

Ilustrasi baju lebaran
©2022 Pixabay/Merdeka.com
Dalam buku itu turut disebutkan bahwa dahulu saat masa kesultanan berkuasa tahun 1596, mayoritas penduduk Banten sibuk mempersiapkan baju baru, terlebih ketika menjelang akhir Ramadan. Kebanyakan mereka berasal dari kalangan kerajaan.
Namun dahulu, bagi masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah yang tak bisa membeli baju, mereka akan menjahit sendiri pakaian-pakaian baru agar bisa dikenakan saat hari kemenangan tiba.
Tak heran di masa itu masyarakat banyak yang ketiban rezeki, usai beralih profesi menjadi penjahit dadakan yang berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya.
Menyemarakkan Hari Raya
Di masa itu Banten menjadi salah satu kerajaan dengan corak Islam yang cukup kuat. Kondisi demikian membuat masyarakat di sana ingin menyemarakkan datangnya hari raya Idulfitri yang hadir satu tahun sekali dengan mengenakan pakaian baru.
Rupanya hal yang sama juga terjadi di kalangan kerajaan Mataram Islam, Yogyakarta. Bagi warga yang mayoritas memeluk agama Islam, menyambut hari raya menjadi salah satu kebiasaan.
Biasanya saat hari-hari terakhir bulan Ramadan, masyarakat Yogyakarta berbondong-bondong mencari baju baru baik dengan membelinya di pasar maupun menjahit sendiri baju.
Populer di Indonesia Mulai Abad ke-20
Beberapa periode kemudian, kebiasaan itu turut mengakar di kalangan masyarakat Hindia Belanda terutama pada abad ke-20.
Melansir dari Merdeka.com/Trending, Minggu (24/4), masyarakat pribumi setiap menjelang hari raya akan membuat berbagai pertemuan, memasak banyak hidangan hingga mengenakan pakaian yang belum pernah dikenakan sebelumnya (baru).
Hal itu tertuang dalam buku yang ditulis oleh penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial Belanda, Snouck Hurgronje yang berjudul “Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya di Pemerintah Hindia Belanda 1889–1939 Jilid IV”.
"Kebiasaan saling bertamu pada hari pertama bulan kesepuluh dengan mengenakan pakaian serba baru mengingatkan kita pada perayaan tahun baru Eropa," terang Snouck dalam buku berjudul 'Islam di Hindia Belanda'.
Bulan kesepuluh dalam kalender Islam, berarti jatuh di bulan Syawal. Bahkan di tanggal 1 Syawal menjadi tradisi untuk saling bersilaturahmi.
Saat itu Batavia menjadi daerah dengan banyak masyarakatnya yang melakukan tradisi tersebut (memakai baju baru). Hal ini dikarenakan kota tersebut sebagai pusat interaksi perdagangan, sehingga akses penjualan pakaian menjadi mudah ditemukan.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya