Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Totopong Beungkeut, Blangkonnya Orang Sunda yang Punya Makna Khusus

Totopong Beungkeut, Blangkonnya Orang Sunda yang Punya Makna Khusus Totopong Sunda. blog sabangmarauk pinterest ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Totopong Beungkeut merupakan ikat kepala tradisional khas Sunda yang biasa digunakan oleh para pria di Jawa Barat. Dikatakan jika totopong memiliki fungsi yang sama dengan blangkon yang popular di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Selain digunakan sebagai ikat kepala untuk acara budaya, ternyata ikat kepala yang diperkenalkan oleh tokoh cerita Kabayan ini juga disebut memiliki makna khusus.

Memiliki Beragam Fungsi

totopong sunda

Youtube Kotakata ©2020 Merdeka.com

Kain berdiameter 50x50 sentimeter ini memiliki beragam fungsi berdasarkan aktivitas sehari-hari masyarakat Sunda zaman dahulu.

Selain sebagai ikat yang melindungi kepala, kain tradisional yang sepintas mirip udeng khas Bali ini biasa dipakai sebagai tempat membawa barang kecil. Selain itu dijadikan juga sajadah untuk melaksanakan ibadah Salat selama melakukan aktivitas di luar rumah.

Diawal kemunculannya sekitar tahun 1900-an ikat kepala ini digunakan sebagai pengusir lelembut atau jurig berdasarkan kepercayaan masyarakat Sunda zaman dulu.

Filosofi Kebudayaan Sunda

totopong sunda

©2020 Merdeka.com

Totopong beungkeut sejak dulu memiliki kedekatan filosofi kebudayaan yang kuat, terutama bagi para pria Sunda yang memakainya.

Dahulu kain ikat Sunda ini mencerminkan kelas sosial dalam kehidupan sehari-hari. Biasanya pria yang menggunakan totopong memiliki kedudukan tertentu yang berpengaruh bagi masyarakat sekitar.

Dari segi bentuk, terdapat beragam motif yang merupakan simbol religiusitas dari keagamaan dan upacara adat yang dianggap mempunyai peranan penting dalam suatu kelembagaan sosial. Seperti yang terjadi di instansi pemerintahan Jawa Barat sejak tahun 2013 lalu yang menjadikan blangkon khas Sunda ini sebagai identitas kelembagaannya. 

Terdapat Beberapa Jenis

totopong sunda

©2020 Merdeka.com

Dari sisi kebiasaan, totopong terbagi atas dua model, yang pertama adalah bentuk tradisional buhun (tua atau kuno), dan yang kedua adalah model kiwari (hasil perkembangan).

Dalam model buhun ini kain totopong dibentuk persegi empat yang dilipat dengan aturan tertentu sehingga membentuk model ikat seperti Barangbang Semplak, Julang Ngapak (model seperti burung), Parekos Jengkol, Buaya Ngangsar dan model iket lain yang biasa dipakai di kampung-kampung adat.

Kini model kiwari, bentuknya sudah disesuaikan agar bisa digunakan sebagai pakaian sehari-hari seperti Iket Candra Sumirat, Iket Maung Leumpang, Iket Hanjuang Nangtung, Iket Pratis Parekos, Iket Praktis Makuta Wangsa, Iket Praktis Mancala Putra, dan Iket Batu Kincir (rekaan Ki Dadang).

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP