Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tak Mau Makan Uang Haram, Ini Cerita Hijrah Mantan Anak Buah Hercules Pilih Jual Buah

Tak Mau Makan Uang Haram, Ini Cerita Hijrah Mantan Anak Buah Hercules Pilih Jual Buah Kisah mantan anak buah preman Hercules pilih jual buah. ©2021 Youtube DMR TV/ editorial Merdeka.com

Merdeka.com - Mencoba peruntungan dengan merantau dari NTT ke Jakarta puluhan tahun silam membuat Amin sempat terjebak di dunia hitam premanisme. Ia dulu kerap melakukan tindakan tak terpuji demi mendapatkan uang banyak dengan cara yang cepat.

Bahkan posisinya sebagai anak buah dari Hercules yang saat itu menguasai sebagian besar kawasan Tanah Abang, membuat kiprahnya kian mentereng karena mampu meraup banyak uang.

Dalam sebuah unggahan YouTube DMR TV beberapa waktu lalu, pria yang pertama ke ibu kota tahun 1979 itu menceritakan kisah hijrahnya dengan meninggalkan dunia kelam tersebut dan memilih untuk berjualan buah di kawasan trotoar Kota Jakarta Timur agar tak memakan uang haram. Berikut kisah Amin yang berhasil merdeka rangkum, Kamis (23/9).

Awal Mula Bergabung dengan Hercules

kisah mantan anak buah preman hercules pilih jual buah

©2021 Youtube DMR TV/ editorial Merdeka.com

Di kesempatan itu, sang pemilik akun mencoba berbincang-bincang dengan Amin termasuk pekerjaan sebelum berjualan buah seperti sekarang.

Di video itu juga, pemilik video mulanya tak mengetahui bahwa Amin merupakan mantan preman.

Sampai akhirnya kisah itu terbongkar saat menanyakan rekam jejak pekerjaan di masa lalunya ketika awal mula merantau dan bertahan hidup di kota besar dan bergabung dengan preman yang ditakuti di kawasan Tanah Abang.

“Terkait kerjaan, dulu itu saya ke Surabaya terus pindah lagi ke Tanah Abang. Dan di situ saya jadi anak buahnya Hercules di tahun itu,” terang dia di YouTube DMR TV. 

Alasan Bergabung ke Hercules

Amin mengatakan, di masa itu cukup sulit untuk bekerja di ibu kota tanpa memiliki kemampuan apapun. Pekerjaan menjadi preman banyak dipilih masyarakat yang tidak memiliki bekal dari kampung halaman.

Dia mengatakan, dirinya terpaksa bergabung agar bisa mencari makan. Karena Amin merantau dari NTT tanpa modal apapun alias nekat demi mencari penghidupan yang lebih layak di Jawa.

“Dulu yang namanya kita cari makan ya pak, kalau tidak ada modal dari kampung itu susah. Jadi saya memilih bergabung menjadi anak buahnya Hercules (Preman Tanah Abang),” lanjut pria ramah tersebut.

Takut Makan Uang Haram

kisah mantan anak buah preman hercules pilih jual buah

©2021 Youtube DMR TV/ editorial Merdeka.com

Amin menambahkan, setelah beberapa waktu bergabung sebagai kaki tangan preman yang sempat ditakuti di Jakarta itu akhirnya mulai berhijrah dan mencari penghidupan yang lebih baik.

Menurut dia, sejak awal dia memang merasa tidak pantas dengan pekerjaan itu untuk dirinya mencari nafkah. Sehingga usai bergabung, Amin memutuskan untuk keluar dan memilih berjualan buah-buahan di trotoar pinggir jalan.

“Jadi sebenarnya saya dulu itu dasarnya memang berdagang, saya di kampung juga diajari berdagang. Menurut saya pekerjaan itu kurang pantas buat saya (makan). Dan saya tidak mau istilahnya makan dari hasil uang haram,” terang Amin, sambil menata buah dagangannya.

Pernah Menjadi Kuli Panggul di Pasar

Sebelum memutuskan berjualan buah-buahan, Amin juga menceritakan jika dahulu ia pernah bekerja untuk orang sebagai kuli panggul barang di Pasar Induk Kramat Jati. Amin cukup lama bekerja di sana untuk mengumpulkan modal berjualan.

Akhirnya ia memilih keluar untuk membuka usaha berjualan buah. Menurut dia, modal berjualan ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil pembagian untuk makan sehari-harinya.

“Dulu pernah ikut sama orang juga lama buat ngumpulin modal sampai akhirnya bisa jualan kayak gini. Untuk sekarang suka dukanya berjualan sih Satpol PP, tapi saya bersyukur dan rezeki itu harus diterima apa adanya yang penting keluarga bisa makan,” tambahnya. 

Belum Pernah Pulang Kampung Sejak Tahun 1979

Untuk saat ini Amin turut mensyukuri karena masih diberi nikmat sehat dan hidup serta keluarga bisa makan. Sehingga ia tak lagi berkeinginan untuk kembali ke dunia premanisme seperti awal masa rantauannya di ibu kota.

Amin menambahkan, sejak awal merantau dia sudah mempersiapkan mental semaksimal mungkin sehingga ia siap menjalani kehidupan tanpa modal apapun dari kampung. Ia juga menuturkan, lantaran penghasilannya yang selalu pas-pasan, ia dari tahun 1979 belum pernah pulang kampung ke NTT.

“Walaupun dulu saya pernah ikut Hercules, sampai punya anak buah 18 di usaha kaset, saya lebih tenang saat ini (jualan buah di jalan), hati tidak was-was. Dulu setiap hari kerjaan preman itu berantem terus dan memang uangnya banyak tapi tidak tenang,” tandasnya. 

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP