Shalat Tarawih Hukumnya Sunnah Muakkad, Berikut Dalil dan Keutamaannya
Merdeka.com - Bulan Ramadan merupakan bulan spesial bagi kaum muslimin. Karena pada bulan ini mereka bisa merasakan kenikmatan dalam beribadah. Masjid-masjid pun semakin ramai, dan aktivitas ibadah umat Islam juga meningkat di bulan yang penuh berkah ini.
Puasa adalah ibadah yang identik dengan bulan Ramadan. Karena memang, ibadah ini adalah ibadah wajib bagi setiap muslim yang mampu di bulan Ramadan. Bulan Ramadan semakin spesial karena adanya ibadah shalat tarawih di setiap malamnya usai mengerjakan shalat isya'.
Baca juga: Sholat Terawih Berjamaah, Niat Beserta Doanya
Shalat tarawih sendiri termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini khusus dikerjakan pada bulan Ramadan. Jadi, shalat tarawih adalah shalat malam yang dilakukan hanya pada bulan Ramadan.
Selalu dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadan, shalat tarawih hukumnya bagaimana?
Meski rutin dikerjakan selepas shalat isya', shalat tarawih hukumnya bukan termasuk ibadah wajib. Shalat tarawih hukumnya adalah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan pada malam bulan Ramadan.
Shalat Tarawih Hukumnya Sunnah Muakkad
Shalat tarawih adalah shalat yang khusus dikerjakan pada malam bulan Ramadan setelah melaksanakan shalat Isya’ dan sebelum shalat witir. Melaksanakan shalat tarawih hukumnya tidaklah wajib. Shalat tarawih hukumnya adalah sunnah muakkad, di mana sangat dianjurkan untuk dikerjakan, baik bagi kaum laki-laki atau pun perempuan. Shalat tarawih hukumnya sunnah yang sangat dianjurkan, hal ini tertuang dalam hadis berikut,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَغِّبُ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ فِيهِ بِعَزِيمَةٍ فَيَقُولُ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya:
“Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anh Rasulullah gemar menghidupkan bulan Ramadhan dengan anjuran yang tidak keras. Beliau berkata: ‘Barangsiapa yang melakukan ibadah (shalat tarawih) di bulan Ramadhan hanya karena iman dan mengharapkan ridha dari Allah, maka baginya di ampuni dosa-dosanya yang telah lewat” (HR Muslim).
Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan sebagian ulama Malikiyah berpendapat bahwa shalat tarawih lebih utama jika dilaksanakan dengan cara berjamaah, sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Umar bin Khatthab dan para sahabat.
Rakaat Shalat Tarawih
Baik 11 rakaat atau 23 rakaat, sebenarnya tidak ada batasan tertentu yang ditetapkan dalam shalat malam.
Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid).
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai shalat malam, beliau menjawab,
“Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu shubuh, maka kerjakanlah satu raka’at. Dengan itu berarti kalian menutup shalat tadi dengan witir.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Semua jumlah raka’at di atas (dengan 11, 23 raka’at atau lebih dari itu, -pen) boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik. Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikit pun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272).
Keutamaan Shalat Tarawih
Meski shalat tarawih hukumnya sunnah, namun terdapat keutamaan-keutamaan yang bisa kita dapatkan dari ibadah shalat tarawih ini. Dikutip dari rumaysho.com, keutamaan shalat tarawih yaitu:
Mendapatkan ampunan dosa yang telah lalu
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud qiyam Ramadhan dalam hadis ini adalah shalat tarawih, sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi.
Hadis ini menjelaskan bahwa shalat tarawih dapat menggugurkan dosa karena iman, yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah SWT dan mencari pahala dari Allah SWT, dan bukan karena riya’ atau alasan lainnya.
Shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Hadis ini sekaligus menjadi anjuran bagi kaum muslimin agar mereka mengerjakan shalat tarawih secara berjamaah dan mengikuti imam hingga selesai.
Shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat
Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjamaah, karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu.
Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib, yaitu shalat yang mengiringi shalat fardhu, baik sebelum atau sesudahnya. Sedangkan ibadah shalat yang paling ditekankan untuk dilakukan secara berjamaah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih.
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya