Resmi Dideklarasikan Jadi Kota Angklung, Begini Sejarah Perjalanannya di Kota Bandung

Senin, 23 Mei 2022 06:30 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Resmi Dideklarasikan Jadi Kota Angklung, Begini Sejarah Perjalanannya di Kota Bandung Saung Angklung Udjo. ©2015 Merdeka.com/ Istimewa

Merdeka.com - Bandung resmi mendeklarasikan diri sebagai Kota Angklung pada Sabtu, 21 Mei 2022. Pendeklarasian tersebut dilakukan secara simbolis oleh Wali Kota Yana Mulyana di Plaza Balai Kota. Acara tersebut juga dihadiri para tokoh, budayawan, hingga para seniman.

Alat musik bambu tersebut memang sejak lama melekat dengan Kota Kembang. Hal itu terlihat dari ekosistemnya yang terdiri dari kalangan pendidikan, komunitas, literatur hingga industri pariwisata di sana.

Berkat upaya itu, UNESCO telah menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada tahun 2010 lalu. Hingga kini, alat musik tersebut masih tetap identik sebagai bagian dari kekayaan khazanah seni di Kota Bandung dan bisa dikreasikan dengan berbagai kesenian modern.

Seperti apa sejarah perjalanan angklung di Kota Bandung? Berikut sepenggal kisahnya.

2 dari 4 halaman

Berawal dari Tahun 1960

saung angklung udjo
Saung Angklung Udjo

©2021 Liputan6.com

Pegiat seni angklung, sekaligus pengelola Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo mengatakan jika alat musik angklung mulai dipopulerkan oleh sang ayah yang bernama Udjo Ngadalena atau Mang Udjo pada tahun 1960-an.

Saat itu, Mang Udjo yang dikenal sebagai seniman mendapat ilmu seputar angklung dari seorang guru besar musik yang berhasil menciptakan angklung diatonis bernama Daeng Soetigna. Dari situ Mang Udjo langsung mengaplikasikannya, dengan mendirikan tempat sederhana untuk bermain angklung bersama keluarganya.

"Begitu mendapat ilmu dari pak Daeng Soetigna, bapak waktu itu langsung mengaplikasikannya di tempat sederhana di Jalan Padasuka untuk bermain angklung dan disaksikan banyak orang," terang Taufik Udjo, dilansir dari YouTube Diskominfo Kota Bandung.

3 dari 4 halaman

Memperkenalkannya Kepada Turis Mancanegara di Masa Itu

Taufik Udjo mengungkapkan, kecintaan ayahnya terhadap angklung membuatnya ingin memperkenalkan alat musik tersebut secara luas. Bahkan dahulu, Mang Udjo kerap berkeliling menggunakan sepeda di Kota Bandung, dan mengajak turis luar negeri untuk menyaksikan permainan angklung di kediamannya di Jalan Padasuka.

"Saat itu, kami keluarganya yang memainkan angklung, dan Mang Udjo mengajak teman-temannya, termasuk turis-turis yang ada di Kota Bandung untuk menyaksikan permainan kita," terangnya.

Secara bertahap, lokasi tempat tinggalnya mulai didatangi masyarakat hingga di tahun 1990-an pengunjung tempatnya mencapai 200-an orang. Sejak tahun 2000 hingga 2019, rata-rata pengunjung yang hadir mencapai 1.000-an orang per-hari sebelum pandemi.

Taufik Udjo menambahkan, dengan dideklarasikannya Bandung sebagai Kota Angklung diharapkan masyarakat serta seluruh unsur bisa tetap menjaga serta mengisi ruh alat musik tersebut sehingga angklung bisa jauh lebih hidup di Kota Bandung.

4 dari 4 halaman

Deklarasi Bandung Sebagai Kota Angklung

Dideklarasikannya Bandung sebagai Kota Angklung, didukung oleh beberapa indikator seperti perguruan tinggi yang menjadikannya sebagai program studi, hingga ekstra kulikuler di sejumlah sekolah.

Ajak Seluruh Unsur Berinovasi Lewat Angklung

Sementara itu, dikutip dari ANTARA, Wali Kota Bandung, Yana Mulyana turut mengajak seluruh unsur masyarakat untuk berinovasi dengan alat musik angklung.

Diharapkan, dengan adanya upaya tersebut masyarakat hingga dunia bisa lebih mengenal karakteristik dari angklung serta kesenian di Kota Bandung.

"Kepada seluruh seniman, budayawan, pecinta angklung, untuk sama-sama terus berinovasi dan tidak hanya sekedar melestarikan," ajak Yana, dalam pendeklarasian tersebut.

Hal yang sama disampaikan oleh Duta Angklung Jawa Barat, Irfan Hakim. Menurutnya, angklung bisa dikolaborasikan musik-musik di luar Sunda.

"Kita tidak bisa menolak gempuran musik dari luar, karena sekarang kan zamannya sudah mudah dengan adanya media sosial. Justru angklung tersebut bisa dimodifikasi untuk masuk ke musik Barat," terangnya. [nrd]

Baca juga:
Peristiwa 23 Mei: Peringati Hari Kura-Kura dan Penyu Sedunia, Ini Sejarahnya
Peristiwa 22 Mei: Kelahiran Sir Arthur Conan Doyle, Pengarang Sherlock Holmes
Peristiwa 21 Mei: Hari Peringatan Reformasi, Ini Sejarah dan Tujuannya
Potret Lawas Pengungsi Yahudi Tiba di Palestina, Ironi Air Susu Dibalas Air Tuba

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini