Cara Unik Petani Pangandaran Usir Hama di Sawah, Gunakan Topeng Hewan Buas

Kesenian Badud menggambarkan cara petani Pangandaran mengusir hama di sawah.

Nurul Diva
Oleh Nurul Diva - Reporter
Cara Unik Petani Pangandaran Usir Hama di Sawah, Gunakan Topeng Hewan Buas
Cara Unik Petani Pangandaran Usir Hama di Sawah, Gunakan Topeng Hewan Buas (Merdeka.com)
Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com

Ketukan angklung dan kendang bambu tradisional jadi pengiring Badud. Di daerah asalanya Kabupaten Pangandaran, kesenian Sunda ini menggambarkan cara petani untuk mengusir hama di sawah. Uniknya, para pelakon menggunakan topeng hewan buas sembari menari mengikuti irama musik.

Pertunjukan Badud

Mengutip laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Kamis (19/10), Badud merupakan kesenian teater rakyat tradisional.

Ini karena adanya unsur musikal, memakai kostum hewan-hewan buas dan menirukan gerakannya saat berada di ladang.

Kesenian Badud berhasil dilestarikan oleh warga di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.

Menggunakan kostum hewan buas untuk usir hama

Penggunaan kostum hewan buas dalam pertunjukan Badud dilakukan untuk melakukan pengusiran terhadap hama.

Kostum hewan yang digunakan menggambarkan peran hewan-hewan yang biasa berinteraksi dengan tumbuhan yang ditanam petani.

Beberapa hewan tadi di antaranya harimau yang berfungsi sebagai pelindung dan raja hutan. Celeng dan monyet, pemakan buah dan sayur petani. Serta hewan-hewan lainnya.

Harimau mengusir celeng dan monyet

Harimau mengusir celeng dan monyet
© 2023 merdeka.com

Menurut salah satu pelaku seni Badud, Haji Adwid di Pangandaran. Hewan-hewan yang ditampilkan di kesenian tersebut merupakan hewan yang biasanya menjadi perusak pertanian.

Sedangkan harimau, justru menjadi penolong, karena ketika harimau muncul, kawanan monyet dan celeng atau babi hutan tak berani menyentuh padi.

“Dulunya banyak sekali hama di sawah, ada celeng, ada monyet dan perusak lainnya. Sedangkan adanya macan yang biasa disebut raja hutan. Setelah dibantu leluhur, macan itu akan mengusir hama-hama tadi,” katanya, mengutip YouTube Andi Sukmayandi.

Hiburan para petani

Seni Badud sebelumnya muncul atas inisiatif dari para petani di Pangandaran yakni Aki Ardasim dan keturunannya Aki Ajot di tahun 1800-an.

Mereka memainkan ini untuk mengusir lelah, lantaran menunggu sawah di hutan agar tak diserang hama.

Lama kelamaan, kesenian ini terus dikembangkan melalui penambahan angklung agar lebih harmonis.

Seni Badud di era sekarang

Seni Badud di era sekarang
© 2023 merdeka.com

Untuk saat ini seni Badud masih dipertahankan oleh para pegiat seni di Pangandaran, khususnya Desa Margacinta.

Fungsinya kini bertambah sebagai media hiburan di musim panen oleh para petani setempat.

Pementasan biasanya digelar sembari mengiringi pemilik sawah mengantarkan padi ke Leuit atau rumah penyimpanan tani tradisional.

Sepanjang pengangkutan berlangsung, kesenian ini tidak berhenti ditabuh. Bahkan, pemain yang memakai kostum hewan tak jarang kesurupan. Untuk itu di sana turut dilibatkan tokoh agama.

Upaya pelestarian

Sayangnya kesenian Badud sempat hampir punah di paruh tahun 2013, karena warga mulai menggesernya dengan kesenian modern.

Agar bisa tetap lestari, warga Margacinta mulai berinisiatif menghidupkannya lagi dengan mendirikan padepokan bernama Padepokan Seni Badud Rukun Sawargi. Penamaan ini terkait dari asal-usul nama Badud yakni Budaya Asli Urang Deukeut Jeung Dulur.

Kesenian Badud juga sudah mulai dijadikan sebagai ekstrakurikuler dari sekolah-sekolah yang ada di Margacinta.

Rekomendasi