Penyebab Sifilis dan Gejalanya yang Perlu Diwaspadai

Penyebab sifilis adalah sejenis bakteri yang disebut Treponema pallidum. Penyebab sifilis ini akan masuk ke tubuh melalui luka kecil atau lecet pada kulit atau selaput lendir, yang biasa terjadi selama aktivitas seksual.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Penyebab Sifilis dan Gejalanya yang Perlu Diwaspadai
ilustrasi penyakit seksual. mehilainen.fi

Sifilis adalah infeksi yang berkembang karena bakteri T. pallidum. Bakteri ini dapat menyebar dari orang ke orang melalui kontak langsung dengan luka sifilis. Lukanya sendiri dapat terjadi pada kulit atau selaput lendir vagina, anus, rektum, bibir, atau mulut.

Sifilis lebih sering menular dalam aktivitas seksual oral, anal, atau vagina. Penyakit ini jarang menularkan bakteri melalui ciuman. Tanda pertama dari kondisi ini bisa berupa luka pada alat kelamin, rektum, mulut, atau bagian kulit lainnya, namun tidak terasa nyeri. Beberapa orang tidak memperhatikan karena tidak menimbulkan rasa sakit.

Sifilis juga sulit untuk didiagnosis. Ini karena penderitanya tidak menunjukkan atau merasakan gejala apapun dalam waktu yang sangat lama. Sifilis yang tidak diobati untuk waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan besar pada organ penting, seperti jantung dan otak.

Memahami gejala dan penyebab sifilis dapat membantu Anda melindungi diri dari infeksi ini. Jika Anda menderita sifilis, memahami infeksi ini akan membantu mengenali tanda-tanda kondisi dan cara mencegah penularannya.

Dalam artikel kali ini, kami akan menyampaikan penyebab sifilis dan juga gejalanya yang patut diwaspadai.

Dikutip dari everydayhealth.com, penyebab sifilis adalah sejenis bakteri yang disebut Treponema pallidum. Penyebab sifilis ini akan masuk ke tubuh melalui luka kecil atau lecet pada kulit atau selaput lendir, yang biasa terjadi selama aktivitas seksual.

Infeksi ini menular baik selama tahap primernya (ketika luka pertama kali muncul) dan pada tahap sekundernya, ketika ruam berkembang di batang tubuh, telapak tangan, telapak kaki, dan tempat lain di tubuh.

Luka sifilis juga memudahkan terjadinya penularan human immunodeficiency virus (HIV), virus penyebab AIDS. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa luka sifilis dapat berdarah, sehingga memberikan cara mudah bagi HIV untuk memasuki aliran darah.

Penyebab sifilis dapat terus menular pada tahap awal laten, ketika penderitanya tidak merasakan gejala.

Yang perlu Anda tahu bahwa sifilis tidak dapat tertular hanya karena menggunakan pakaian, toilet, dudukan toilet, atau peralatan yang sama dengan penderitanya. Anda juga tidak akan tertular melalui gagang pintu, bak mandi, kolam renang, atau fasilitas serupa lainnya.

Dalam kasus yang jarang terjadi, penyebab sifilis dapat menyebar melalui kontak langsung dan dekat dengan lesi aktif, misalnya saat berciuman.

Seseorang yang menderita sifilis tidak melihat atau merasakan gejala apa pun. Selain itu, sifilis juga mudah disalahartikan sebagai kondisi lain, seperti jerawat atau ruam.

Gejala sifilis berbeda-beda tergantung pada tahapan penyakitnya.

Tahap Primer

Dalam tahap ini, mungkin ada luka tunggal atau ganda, yang biasanya keras, bulat, dan tidak nyeri sehingga sering tidak disadari. Luka ini biasanya berlangsung tiga sampai enam minggu dengan atau tanpa pengobatan. Bahkan setelah lukanya hilang, pengobatan tetap diperlukan untuk menghentikan infeksi agar tidak berkembang ke tahap sekunder, menurut CDC.

Tahap Sekunder

Tahap ini biasanya dimulai dengan ruam pada satu atau lebih area tubuh. Ruam dapat muncul dalam bentuk bintik-bintik kasar, merah atau coklat kemerahan, meski terkadang juga tampak sangat samar dan tidak terlihat. Gejala sifilis lain yang bisa datang pada tahap sekunder meliputi:

  • Luka di mulut, vagina, atau anus
  • Demam
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sakit tenggorokan
  • Rambut rontok merata
  • Sakit kepala
  • Penurunan berat badan
  • Nyeri otot
  • Kelelahan

Tanpa pengobatan yang tepat, infeksi akan berkembang ke tahap laten dan mungkin tersier.

Sifilis Laten

Jika sifilis tidak diobati, ia dapat berkembang ke fase laten atau tersembunyi, di mana kondisinya tidak memunculkan gejala. Tahap ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun, dan tanda atau gejala mungkin tidak akan muncul kembali. Atau, penyakit ini akan berkembang ke tahap tersier.

Sifilis Tersier

Sekitar 15 hingga 30 persen sifilis yang tidak mendapatkan pengobatan akan berkembang menjadi sifilis lanjut atau tersier. Gejalanya dapat bergantung pada komplikasi yang terjadi, tetapi dapat mencakup hal-hal berikut:

  • Gummas (atau gummata), yang merupakan luka besar pada kulit atau di dalam tubuh.
  • Sifilis kardiovaskular, yang dapat mempengaruhi jantung dan pembuluh darah dan menyebabkan aneurisma aorta (pelebaran arteri terbesar di tubuh karena melemahnya dinding arteri) dan insufisiensi katup aorta.
  • Neurosifilis, yang dapat menyebabkan sakit kepala parah, kesulitan menggerakkan otot, kelumpuhan, mati rasa, dan demensia.

Tidak ada vaksin untuk mencegah sifilis. Satu-satunya cara untuk menghindari sifilis sepenuhnya adalah dengan tidak berhubungan seks atau melakukan kontak fisik yang intim.

Selain itu, ada beberapa cara pencegahan untuk mengurangi risiko sifilis, yaitu:

  • Memiliki pasangan monogami yang tidak menderita sifilis
  • Menggunakan kondom atau pengaman selama aktivitas seksual
  • Menghindari alkohol dan obat-obatan rekreasional (yang dapat mengarah pada praktik seksual yang tidak aman)
  • Menghindari mainan seks

Selain itu, wanita hamil direkomendasikan agar melakukan skrining untuk sifilis dan, jika memilikinya, obati dengan penisilin untuk mencegah sifilis kongenital pada keturunannya.

Rekomendasi