Bukan rahasia lagi, bila selama bulan suci Ramadan sejumlah stasiun televisi di Tanah Air berlomba-lomba menyuguhkan acara spesial dengan mengangkat tema Ramadan.
Mulai dari sinetron hingga acara talkshow dikemas dengan nuansa religi. Tak hanya itu, berbagai kultum juga dihadirkan. Salah satunya acara Mutiara Hati.
Acara yang tayang di SCTV ini tayang setiap menjelang waktu salat Subuh, Zuhur, dan Ashar. Diisi oleh pemuka agama ternama dengan pembawaan yang tenang dan halus yakni Quraish Shihab, acara ini berhasil menarik perhatian.
Pembahasan-pembahasan yang berbeda di setiap tayangannya juga membuat acara ini begitu dinantikan. Adapun salah satu tayangannya adalah membahas tentang hawa nafsu.
Seperti apa kira-kira penjelasan Quraish Shihab di Mutiara Hati? Berikut selengkapnya.
Advertisement
Melansir dari kanal YouTube Surya Citra Televisi (SCTV) bertajuk "Mutiara Hati - Mengendalikan Hawa Nafsu" yang tayang pada Senin (26/04), Quraish Shihab mengingatkan untuk mengendalikan nafsu. Sebab, dengan mengendalikannya kita bisa membangun banyak hal bermanfaat lainnya.
"Dengan mengendalikan nafsu kita dapat membangun dunia, tanpa nafsu tidak akan lahir keturunan, tanpa nafsu tidak lahir seni, tanpa nafsu tidak akan terbangun dunia ini dengan aneka bangunan yang indah, tetapi jangan melampaui batas," kata Quraish Shihab.
"Karena kalau melampaui batas-batas yang ditetapkan Allah, yakinlah bahwa ketika itu setan telah menghiasi nafsu seseorang," jelasnya.
Advertisement
Lebih lanjut, ayah dari Najwa Shihab ini juga menjelaskan bagaimana nafsu yang merupakan tuntutan setan. Ia pun menjelaskan bagaimana cara mengendalikan nafsu agar kita bisa mengikuti apa yang telah dihendaki Allah SWT.
"Memang ulama-ulama menggaris bawahi bahwa ada perbedaan antara tuntutan nafsu dan tuntutan setan. Nafsu apabila dihiaskan oleh setan maka dia tidak akan pernah berhenti, namun bila kita menyadari kelemahannya maka dia pasti akan berhenti karena kata para ulama nafsu seperti bayi. Jika Anda tidak menyapihnya, dia akan menyusu terus tetapi perlu disapih," jelasnya.
"Memang berat ibu pada mulanya menyapih anaknya, menghalanginya dari menyusu terus menerus, tetapi demi kemaslahatan anak yang berat yang pahit terasa ketika melihat anak merengek dan menangis untuk menyusu itu yang pahit itu adalah untuk kebaikan anak. Begitu lah sikap kita terhadap nafsu apabila kita ingin dia mengikuti apa yang dikehendaki oleh Allah SWT," pungkasnya.