Manfaatkan Jengkol dan Candil, Begini Cara Jabar Giatkan Budaya Literasi Kepada Anak

Provinsi Jawa Barat saat ini terus mengoptimalkan budaya membaca kepada masyarakat khususnya anak-anak di wilayahnya dengan Makan Jengkol dan Candil serta Kolecer.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Manfaatkan Jengkol dan Candil, Begini Cara Jabar Giatkan Budaya Literasi Kepada Anak
Atalia Praratya. Humas Provinsi Jawa Barat ©2020 Merdeka.com

Provinsi Jawa Barat saat ini terus mengoptimalkan budaya membaca kepada masyarakat khususnya anak-anak di wilayahnya. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bunda Literasi Jabar, Atalia Praratya.

Menurutnya, kegiatan literasi menjadi titik sentral kebudayaan yang bisa membawa kemaslahatan bagi seluruh kalangan. Ia pun turut menyoroti beberapa permasalahan yang menjadi penghambat terlaksananya proses literasi, utamanya akibat pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi.

"Jumlah perpustakaan aktif di Jawa Barat sebanyak 16.384, yang belum secara menyeluruh ada di setiap kota/kabupaten, kecamatan, desa dan kelurahan. Akses masyarakat ke perpustakaan juga masih terbatas, terlebih lagi saat pandemi yang makin membuat mereka mengakses sumber, ditutup," kata Atalia, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2021 yang digelar secara virtual, Selasa (23/3/2021) dilansir dari Liputan6.

Adapun saat ini pihaknya terus mengenalkan beberapa program untuk menarik minat baca di kalangan anak-anak di Jabar. Berikut informasi selengkapnya.

Makan Jengkol dan Candil

Atalia mengatakan jika pihaknya berupaya mengintegrasikan antara teknologi dengan buku bacaan yang mudah untuk diakses yakni Candil dan Makan Jengkol.

Candil merupakan kepanjangan dari (Macadina Digital Library), yang merupakan aplikasi literasi berisi 500 judul buku paling update yang bisa dipindahkan secara digital.

Selain itu ia juga membuat Makan Jengkol, yakni pemanfaatan platform online untuk memudahkan masyarakat mengunjungi perpustakaan di masa Pandemi Covid-19.

"Kita juga bekerja sama dengan Grab Express untuk program Makan Jengkol (mari kita antar jemput buku dengan kolaborasi), di mana saat pandemi kita takut mengunjungi perpustakaan, kita bisa melalui Grab," katanya.

Menyediakan Kolecer

Selain itu, Jabar juga sudah lebih dahulu membuka perpustakaan mini di tempat-tempat terbuka bernama Kolecer atau Kotak Literasi Warga Cerdas sejak tahun 2018.

Melalui Kolecer, masyarakat umum bisa mengakses bacaan di tempat-tempat keramaian seperti mal, terminal, stasiun, taman, hingga sepanjang jalan aliran Sungai Citarum. Di luar itu Jabar juga mulai membangun Perpustakaan di sekolah hingga Pondok Pesantren, termasuk fasilitas gerobak baca, motor baca, becak baca dan perahu baca.

"Kita juga punya Kolecer (Kotak Literasi Warga Cerdas), semacam kotak telfon yang bisa menampung 80 buku. Kolecer ini adalah sumbangan yayasan atau masyarakat, yang ada di 600 titik di Jawa Barat. Kami menyediakan ini dengan harapan masyarakat lebih mudah mengakses buku bacaan," terang Atalia

Mengajak Masyarakat Menulis Buku

Selain mengajak warga untuk meningkatkan budaya membaca, Atalia juga mengajak warga untuk meramaikan geliat literasi di Jawa Barat dengan menulis buku.

Sejauh ini ia sudah menulis empat judul buku khusus untuk anak-anak, termasuk Catatan Tentang Kita, Mia dan Ikan Goreng kemudian Rendi dan Sakit Perut.

"Saya sengaja membuat buku agar memancing Bunda Literasi dari daerah lain juga aktif menulis buku. Jangankan Bunda Literasi, bunda-bunda lain di rumah juga bisa menulis buku. Bahkan sekarang banyak anak-anak yang sudah bisa menulis buku. Intinya, gerakan literasi itu mulai dari yang kita bisa lakukan saja," katanya menambahkan.

Mencegah Kecanduan Gadget

Sementara itu, semangatnya mengajak masyarakat untuk meningkatkan budaya literasi merujuk pada menurunnya minat baca di kalangan anak-anak dan masyarakat lainnya. Menurut pemaparan Atalia, di tahun ini angka minat baca berada di angka 61,49 persen, yang turun 6,67 poin dari tahun 2016 yang berada di persentase 68,16%.

Turunnya angka tersebut ditengarai Atalia akibat generasi Z dan di atasnya (milenial) lebih menggandrungi televisi, mendengar musik dan mengakses internet, daripada buku bacaan.

Dari situ, ia mengkhawatirkan adanya kemungkinan gizi buruk atau obesitas pada anak yang diakibatkan dari malas makan maupun berkurangnya gerak saat terlalu asyik mengakses smartphone.

"Padahal saya juga terkaget-kaget setelah tahu bahwa 104 anak yang mengalami gangguan jiwa karena kecanduan gawai, dirawat di RSJ di Jabar (Bandung), belum terhitung yang dirawat di RSJ di kota/kabupaten," katanya.

Ia menambahkan bahwa Jawa Barat akan terus melakukan program literasi jangka panjang hingga tahun 2023 dengan membangun berbagai fasilitas bacaan.

"Kita memfasilitasi pembangunan gedung perpustakaan Kabupaten Pangandaran, juga banyak perpustakaan kecamatan, desa dan kelurahan. Kita menyediakan juga mobil perpustakaan keliling untuk 27 kabupaten/kota. Gedung perpustakaan disabilitas dan deposit juga dibangun di Gedebage," pungkasnya.

Rekomendasi