3 Fakta Kemunculan Gelembung Besar di Selat Sunda yang Ramai Dibicarakan

Kamis, 2 April 2020 18:28 Reporter : Nurul Diva Kautsar
3 Fakta Kemunculan Gelembung Besar di Selat Sunda yang Ramai Dibicarakan Gelembung Selat Sunda. Akun Instagram @krakatau_ca_cal ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Beberapa waktu belakangan masyarakat pengguna media sosial dihebohkan dengan misteri kemunculan gelembung besar di Selat Sunda. Wilayah perbatasan antara Sumatera dengan Jawa (Provinsi Banten).

Dilansir dari dream.co.id, gelembung besar tersebut pertama kali ditemukan BKSDA Bengkulu Lampung saat menjalankan aktivitas patroli di sekitar Cagar Alam Kepulauan Krakatau.

Kemunculan gelembung besar juga dikaitkan dengan dugaan akan memunculkan gelombang Tsunami sehingga menggemparkan para pengguna sosial media.

Kemunculan video gelembung tersebut pertama kali diunggah oleh akun sosial media @krakatau_ca_cal, dan langsung mendapat banyak komentar dari warganet.

1 dari 3 halaman

Merupakan Aktivitas Vulkanik Bawah Laut

gelembung selat sunda

Akun Instagram @krakatau_ca_cal 2020 Merdeka.com

Dilansir dari Liputan6 dijelaskan oleh Daryono, selaku Kabid Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG pada Rabu (1/4/2020) mengatakan jika kemunculan gelembung berukuran besar di zona gunung api bawah laut merupakan suatu hal yang biasa dan wajar terjadi.

Hal tersebut menandakan akan adanya aktivitas vulkanisme dibawah laut, selain itu dugaan kuat merupakan aktivitas vulkanisme adalah suhu air yang menjadi hangat mengingat lokasi tersebut berada tidak jauh dari gunung anak Krakatau.

"Aktivitas vulkanisme bawah laut, gunung api aktif biasa seperti itu," ungkap Daryono.

2 dari 3 halaman

Pasca Letusan Anak Krakatau

gelembung selat sunda

Akun Instagram @krakatau_ca_cal 2020 Merdeka.com

Daryono juga menjelaskan jika kemungkinan bisa dari efek letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terakhir erupsi terjadi pada Maret 2020. Berdasarkan aplikasi resmi Kementerian Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tertulis getarannya terekam melalui alat seismograf di pos pantau Pasauran, Kabupaten Serang, Banten. Erupsi terjadi pada Rabu, 18 Maret 2020 yang lalu, sekitar pukul 12.42 WIB.

Pantauan CCTV Lava93 terlihat kala itu ketinggian kolom abu mencapai 300 meter. Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berwarna putih kelabu tebal.

3 dari 3 halaman

Tidak Ada Kaitannya dengan Pertanda Khusus Apapun

Merespon dari beragam tanggapan warga pengguna sosial media yang merasa panik dan takut akan kejadian tersebut, Daryono pun menegaskan jika kemunculan gelembung besar tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan prediksi datangnya gempa atau tsunami.

Hal itu merupakan gejala aktivitas bawah laut biasa. Aktivitas seperti itu bisa terjadi karna berada dikawasan gunung berapi yang kerap memunculkan gas.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini