Potret Area Persawahan di Bekasi yang Terdampak Kekeringan, Luasnya Capai 255 Hektare
Merdeka.com - Datangnya musim kemarau membuat sejumlah daerah terkena dampak kekeringan. Di Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi misalnya, sebanyak 255 hektare lahan sawah tidak bisa digunakan karena tak mendapat pasokan air sama sekali.
Kondisi memprihatinkan ini sudah berlangsung selama 3 bulan terakhir. Terlihat tanah di area sawah juga retak-retak dengan sisa tanaman padi yang ikut mengering.
Dilansir dari YouTube Liputan6 SCTV, Selasa (13/6), warga setempat sudah tidak bisa menggarap lahan pertanian karena tanah tidak bisa menyediakan kebutuhan air dan nutrisi bagi tumbuhan padi. Kondisi ini diyakini sebagai dampak dari fenomena El Nino yang menyebabkan menurunnya curah hujan dalam periode tertentu.
Saluran Irigasi Sudah Tertutup Rumput dan Sampah

©2023 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
Lama tidak dilintasi air membuat saluran irigasi di sekitar area persawahan ikut terbengkalai. Selain kondisinya mengering, jalur air tersebut juga mulai tertutup rerumputan, dedaunan, sampai sampah dan bebatuan.
Kondisi yang sama juga terjadi pada petak-petak sawah di lokasi, sehingga kondisinya sudah mirip lahan terbengkalai.
Seperti tampak di lokasi, cuaca di lokasi tersebut begitu terik dengan suhu yang cukup tinggi. Ini menyebabkan proses pertanian tidak akan berjalan maksimal, lantaran tumbuhan padi diprediksi bakal mati lantaran tidak terpenuhi oleh air.

©2023 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
Seharusnya Masuk Masa Tanam

©2023 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
Dari laporan yang disampaikan warga juga diketahui jika saat ini seharusnya sudah masuk masa tanam padi. Namun para petani tak berani mengambil risiko tersebut cuaca panas masih terus terjadi.
Ini yang membuat mereka membiarkan sawah-sawahnya terbengkalai, karena tidak bisa diolah dengan baik akibat cuaca. Dan untuk masuk dari masa panen ke tanam padi, para petani memerlukan waktu selama 3 bulan sepuluh hari.
Kekeringan sendiri terpantau menyebabkan terjadinya sedimentasi di saluran irigasi, sehingga perlu dilakukan pengerukan agar air dari hulu bisa kembali mengalir atau saat turun hujan.
Solusi dari Pemerintah

©2023 YouTube Liputan6 SCTV/ Merdeka.com
Menurut laporan di lapangan, pemerintah setempat disebut telah melakukan beberapa langkah, salah satunya menyediakan mesin pompa untuk menyedot air. Pompa itu ditempatkan di salah satu desa, untuk mengairi 4 desa lainnya.
Kemudian pemerintah juga disebut melakukan pengerukan di saluran irigasi Sukatani, karena menurut informasi yang diterima, bahwa saluran irigasi ini tertutup lumpur dan perlu untuk dilakukan pengerukan.
Dikutip dari ANTARA, Akademisi Senior dari Gratham Institute pada Imperial College, London membenarkan jika fenomena El Nino bisa memperburuk kondisi cuaca panas hingga menyebabkan kekeringan di banyak daerah.
Menurutnya, fenomena ini juga memperburuk perubahan iklim, karena menimbulkan gelombang panas yang akut. Disebut juga jika El Nino tahun ini lebih parah dari tahun 2016 lalu.
“Jika El Nino terus berlangsung, ada kemungkinan besar tahun 2023 akan lebih panas ketimbang tahun 2016, mengingat dunia terus menghangat akibat manusia yang selalu menggunakan bahan bakar fosil,“ katanya.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya