Kisah Pilu Siswa SD di Serang, Demi Sekolah Bertaruh Nyawa Sebrangi Sungai Besar dengan Rakit hingga Harus Berenang

Setiap hari anak-anak di kampung ini harus bertaruh nyawa untuk menuju sekolah menggunakan rakit, lantaran tak ada akses jembatan.

Nurul Diva Kautsar
Oleh Nurul Diva Kautsar - Reporter
Kisah Pilu Siswa SD di Serang, Demi Sekolah Bertaruh Nyawa Sebrangi Sungai Besar dengan Rakit hingga Harus Berenang
Setiap hari anak-anak di kampung ini harus bertaruh nyawa untuk menuju sekolah menggunakan rakit, lantaran tak ada akses jembatan. (© 2024 merdeka.com/YouTube SCTV Banten)

Setiap hari anak-anak di kampung ini harus bertaruh nyawa untuk menuju sekolah menggunakan rakit kecil dari bambu, lantaran tak ada akses jembatan.

Beginilah kondisi anak-anak siswa Sekolah Dasar (SD) di Kampung Nambo, Desa Gabus, Kecamatan Kopo, Kabupaten Serang yang bertaruh nyawa saat berangkat dan pulang sekolah. Mereka harus sebrangi Sungai Cidurian menggunakan rakit bambu lantaran tak ada fasilitas jembatan.

Rasa takut harus mereka hadapi, terutama jika sewaktu-waktu arus air tiba-tiba deras. Namun rute yang ditempuh merupakan akses tersingkat menuju sekolah mereka, sehingga tidak ada pilihan lain.

Diketahui kondisi ini sudah bertahun-tahun mereka jalani, sembari berharap adanya bantuan jembatan dari pemerintah agar mobilitas warga semakin mudah.

“Setiap hari lewat sini kalau ke sekolah, berangkat jam 07:00 WIB pulang jam 11:00 WIB siang,” kata seorang siswa SD, Iyan. Mengutip YouTube SCTV Banten, Sabtu (17/2).

Rakit Swadaya Warga jadi Penyelamat
© 2024 merdeka.com/YouTube SCTV Banten

Rakit yang digunakan sendiri berbahan batang bambu utuh yang disusun sejajar. Rakit ini hanya bisa menampung enam sampai tujuh orang, dengan resiko tinggi.

Pasalnya rakit bambu hanya dibuat ala kadarnya, sebagai alat penyeberangan utama. Untuk menggerakannya, seorang operator menarik tali baja yang membentang dari masing-masing ujung Sungai Cidurian.

Resiko tenggelam sampai hanyut terbawa arus beresiko terjadi, seperti beberapa waktu lalu di mana seorang warga terseret saat mengantarkan anaknya ke sekolah.

Warga cukup kesulitan jika harus ke luar kampung lantaran tidak ada akses lain. Bahkan tidak adanya jembatan sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam.

Seorang warga, Maesaroh menjelaskan bahwa sejak ia belum lahir, kondisinya masih sama seperti ini.

“Dari dulu nggak ada jembatan, dari pas saya belum lahir ini mah. Begini aja, kalau rakitnya hanyut ya patungan lagi warganya, bikin lagi,” katanya

Anak-anak Tak Bisa Sekolah saat Banjir
© 2024 merdeka.com/YouTube SCTV Banten

Yang ditakuti warga adalah saat kondisi air Sungai Cidurian meluap. Di saat itu, limpahan air benar-benar besar sehingga akses mobilitas warga terputus.

Anak-anak di sana terpaksa tidak bisa berangkat sekolah, dan harus kembali ke rumah saat arus Sungai Cidurian banjir.

“Anak-anak juga nggak bisa berangkat sekolah kalau banjir. Paling pas agak reda baru berangkat,” terangnya

Sungai Cidurian di Kampung Nambo, Desa Gabus, Kecamatan Kopo memang terkenal memiliki arus deras.

Rakit pun tidak selalu ada, karena tak jarang terbawa air yang meluap. Ketika itu pula anak-anak juga harus berenang menyeberangi sungai demi bisa menempuh pendidikan.

“Jadi kalau agak surut sedikit, baru anak-anak bisa berenang buat sekolah, kalau nggak ada eretan (rakit), bahaya,” ujarnya lagi.

Berharap Bisa Segera Memiliki Jembatan
© 2024 merdeka.com/YouTube SCTV Banten

Warga hanya bisa berharap kampung mereka memiliki jembatan, karena akan sangat membantu warga khususnya bagi anak-anak dalam menempuh pendidikan ke sekolah.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/YouTube SCTV Banten

“Saya mohon partisipasi pemerintah lah buat warga di sini,” tambah Maesaroh

“Berharap bisa ada jembatan,” kata Iyan, menambahkan.

Salah satu perangkat Desa Gabus, Abdul Muhyi mengakui bahwa warganya mengalami kesulitan untuk berdagang maupun berangkat sekolah karena tak ada jembatan.

Pemerintah desa menyebut sudah beberapa kali mengajukan pembangunan jembatan ke dinas terkait, namun sampai saat ini masih belum terealisasi.

Dok. Istimewa
© 2024 merdeka.com/YouTube SCTV Banten

“Warga memang kesulitan menyeberang karena tidak ada akses jembatan. Jadi ketika ada kebutuhan berangkat sekolah, berdagang, mereka kesulitan,” terang Abdul Muhyi.

Rekomendasi