Mengenal Hipervolemia dan Penyebabnya, Kondisi Ketika Tubuh Memiliki Cairan Berlebih
Merdeka.com - Tubuh manusia terdiri dari 50% hingga 60% cairan, yang meliputi air, darah, dan cairan limfatik. Cairan ini membuat organ berfungsi, terutama dengan menggerakkan darah melalui sistem peredaran darah. Namun akan berbahaya jika Anda memiliki terlalu banyak cairan dalam tubuh.
Hipervolemia adalah kondisi di mana tubuh memiliki terlalu banyak cairan di dalam darah. Meskipun tubuh membutuhkan banyak cairan untuk tetap sehat, jumlah yang terlalu banyak justru dapat menyebabkan ketidakseimbangan yang berbahaya.
Hipervolemia biasanya akibat dari masalah kesehatan yang mendasari. Namun, hipervolemia ringan dapat terjadi setelah makan makanan dengan terlalu banyak natrium atau selama perubahan hormonal. Hipervolemia ringan biasanya sembuh dengan sendirinya jika tidak ada masalah kesehatan lainnya. Dalam artikel berikut ini rangkuman lebih lanjut tentang penyebab dan gejala hipervolemia yang dikutip dari laman medicalnewstoday.com.
Penyebab Hipervolemia
Hipervolemia biasanya disebabkan karena ada terlalu banyak natrium (garam) dalam tubuh. Ketika ada terlalu banyak garam, tubuh akan menahan air untuk menyeimbangkannya.
Biasanya, hipervolemia terjadi karena tubuh memiliki masalah dalam mengatur natrium dan air, tetapi penyebab lain termasuk obat-obatan atau prosedur medis tertentu.
Gagal Jantung KongestifGagal jantung kongestif adalah suatu kondisi di mana jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ketika kemampuan jantung memompa darah menurun, ginjal tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, yang berujung pada kelebihan cairan dalam tubuh.
Sebuah artikel di Cardiac Failure Review menemukan bahwa hipervolemia umum terjadi pada mereka yang mengalami gagal jantung kronis, dan bagi sebagian orang, hipervolemia tidak bisa hilang sepenuhnya, bahkan dengan pengobatan.
Gagal Ginjal
us.123rf.com
Ginjal membantu mengatur jumlah natrium dan cairan dalam tubuh, sehingga penderita gangguan ginjal berisiko mengalami hipervolemia.
Satu ulasan menyatakan bahwa hipervolemia relatif meluas pada orang yang memiliki masalah ginjal parah dan yang berada di unit perawatan kritis di rumah sakit. Penulis penelitian menyarankan agar profesional kesehatan memantau tingkat cairan orang-orang ini dengan sangat hati-hati karena hipervolemia dapat menyebabkan gagal jantung kongestif, masalah dengan penyembuhan luka, dan masalah usus.
Sirosis HatiHipervolemia dapat terjadi ketika hati tidak dapat menyimpan dan memproses nutrisi dengan baik dan menyaring racun. Masalah hati cenderung menyebabkan retensi cairan di daerah perut dan ekstremitas.
Cairan IVCairan intravena (IV) menyelamatkan nyawa ketika seseorang mengalami dehidrasi atau tidak dapat minum cukup cairan, seperti setelah operasi. Cairan IV biasanya mengandung natrium (garam) dan air untuk mengisi kembali cairan tubuh dan menyeimbangkan kadar natrium.
Namun, terlalu banyak cairan IV dapat menyebabkan hipervolemia, terutama jika ada kondisi kesehatan lain. Satu studi menemukan bahwa terlalu banyak cairan IV baik selama dan setelah operasi dikaitkan dengan hipervolemia dan risiko kematian yang lebih tinggi setelah operasi.
Hormon
Sindrom pramenstruasi (PMS) dan kehamilan dapat menyebabkan tubuh menahan lebih banyak natrium dan air. Ini sering menyebabkan pembengkakan ringan, kembung, dan ketidaknyamanan. Wanita hamil yang mengalami pembengkakan atau kembung yang berlebihan harus mencari perawatan medis, karena ini mungkin merupakan tanda tekanan darah tinggi.
Obat-obatanObat-obatan yang menyebabkan perubahan hormonal juga dapat menyebabkan hipervolemia. Pil KB, terapi penggantian hormon, dan obat hormonal serupa dapat menyebabkan tubuh menahan terlalu banyak garam dan cairan.
Juga, beberapa antidepresan, obat tekanan darah, dan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dapat menyebabkan hipervolemia ringan.
Terlalu Banyak Asupan Garam
Mengonsumsi terlalu banyak natrium menyebabkan tubuh menahan air. Kondisi ini dapat menyebabkan hipervolemia ringan dan kembung.
Meski makanan asin yang sedikit tidak menimbulkan masalah bagi orang sehat. Namun, asupan garam yang berlebihan dapat mengancam jiwa, terutama untuk anak kecil, orang tua, dan mereka yang memiliki masalah kesehatan.
Banyak orang dengan gagal jantung kongestif, penyakit ginjal, atau masalah hati mungkin disarankan untuk mengikuti diet rendah garam untuk menghindari atau meminimalkan hipervolemia.
Gejala Hipervolemia
Gejala hipervolemia dapat bervariasi tergantung pada tempat berkumpulnya cairan dan masalah kesehatan lainnya.
Gejala hipervolemia yang paling umum antara lain adalah:
Ada beberapa pendekatan untuk pengobatan hipervolemia. Salah satu pengobatan yang paling umum untuk hipervolemia adalah diuretik. Diuretik adalah obat yang dapat meningkatkan jumlah urin yang diproduksi tubuh.
Namun, kondisi kesehatan yang mendasarinya juga harus ditangani. Misalnya, seseorang dengan gagal jantung mungkin perlu mengambil langkah-langkah untuk mengelola kondisinya selain mengonsumsi diuretik.
Namun, penelitian menyatakan bahwa diuretik mungkin tidak bekerja untuk orang dengan masalah ginjal yang parah. Beberapa orang akan membutuhkan terapi pengganti ginjal, seperti dialisis atau hemofiltrasi.
Orang dengan kondisi jantung, ginjal, atau hati mungkin juga perlu mengikuti diet rendah garam. Cara ini akan membantu menjaga kadar natrium tetap dalam batas normal, yang membantu menghindari hipervolemia.
Orang dengan gagal jantung kongestif mungkin perlu membatasi jumlah cairan yang mereka minum setiap hari. Dokter dapat merekomendasikan jumlah asupan cairan dan garam yang tepat berdasarkan riwayat kesehatan seseorang.
(mdk/ank)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya