Selain mengadopsi budaya Thailand, di vihara ini jua terdapat musala yang diperuntukkan bagi pengunjung Muslim.
Sebuah vihara yang terletak di Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Kota Jakarta Barat, terbilang unik. Rumah ibadah yang memiliki nama Hemadhiro Mettavati ini menawarkan vibes ala negara Thailand dengan mayoritas umat Buddhanya.
Di sana, pengunjung bisa menyaksikan ratusan patung Buddha yang berderet dan berlapis cat emas. Nuansa bangunan vihara juga memiliki motif khas negeri gajah putih, dengan ornamen candi dan ukiran kayu yang ikonik.
Tak sampai di situ, karena pengunjung juga bisa menyaksikan langsung sisi toleransi yang disuguhkan di sana melalui sebuah musala yang masih berada di lingkungan vihara.
Dibangun dengan tiga lantai, Vihara Hemadhiro Mettavati jadi salah satu destinasi wisata religi yang wajib dikunjungi jika tengah berkunjung ke Jakarta Barat. Yuk kenalan dengan sederet keunikannya.
Advertisement
Advertisement
Secara sepintas, sudah dapat ditebak jika gaya bangunan mengadaptasi penuh dari kebudayaan Thailand.
Gambar: Youtube Vihara Hemadhiro Mettavati
Ini tidak terlepas dari sosok guru hingga keanggotaan yang mengadopsi Buddha Sangha yang memang dari negara tersebut.
Bentuk ornamen Thailand juga menggambarkan sisi spiritualisme jemaah di vihara tersebut. Ini sebagai upaya agar mereka lebih dekat dengan sang pencipta.
Sebelumnya vihara ini dimulai pengerjaannya pada 2015 lalu dan diresmikan fungsinya sebagai rumah ibadah pada 2019. Vihara ini kerap jadi destinasi religi bagi penganut kepercayaan Buddha dari berbagai daerah di Indonesia.
Advertisement
Mengutip situs Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta, para pengunjung akan langsung disambut oleh patung Dewa Yakkha di lantai bawah dan 108 patung Buddha.
Di bagian bawah juga terdapat ruang ibadah serta ruang meditasi yang juga jadi spot favorit para umat yang berkunjung ke sana.
Nuansa Buddha yang kental membawa suasana khidmat bagi para jemaah yang akan melaksanakan ibadah.
Biasanya kebaktian digelar pada hari Minggu dimulai pukul 09:00 WIB pagi hingga tengah hari pukul 12:00 WIB.
Di hari yang sama juga dibuka sekolah bagi masyarakat umum. Kebaktian sendiri diketahui digelar di ruang Baktisala Utama.
Advertisement
Selain beribadah dan menikmati keindahannya, pengunjung juga biasanya tertarik untuk menjajal tradisi meramal di sana.
Uniknya, peramalan dilakukan dengan menggunakan uang koin yang sudah tersedia di vihara.
Cara menjalankan tradisi ini adalah dengan cara memasukkan uang koin ke dalam mangkuk logam.
Kemudian sisa koin bisa dihitung dan terakhir pengunjung diharuskan mengambil kertas dengan urutan nomor sesuai jumlah sisa uang koin yang dimiliki.
Advertisement
Keunikan lain dari vihara ini adalah adanya pesan toleransi yang dibawa oleh pendiri vihara melalui sebuah bangunan musala yang berada di lingkungan vihara.
Musala bernama Yafat Bin Mustafa ini memang sengaja dibangun untuk umat muslim yang berkunjung dan berada di sekitar lokasi vihara.
Saat jam-jam salat, musala akan mengumandangkan azan dan melaksanakan salat.
Vihara ini pun dibuka secara gratis untuk umum, sebagai salah satu langkah merawat toleransi antar umat beragama sesuai namanya yakni Hemadhiro yang berarti "aura" Mettavati yang berarti "Cinta Kasih"