Lahir dari Keluarga Seniman, Ini Alasan Rano Karno Malah Tak Diizinkan Jadi Aktor
Merdeka.com - Siapa yang tidak kenal dengan aktor senior Rano Karno? Rano merupakan salah aktor sekaligus politisi yang pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Banten. Rano kembali terpilih sebagai DPR RI untuk periode 2019-2024.
Melalui saluran channel Youtube Marten and Friends yang tayang pada Rabu (5/8/2020). Pemeran dalam film Si Doel The Movie ini menceritakan perjuangannya di awal karier.
Walau berasal dari keluarga seniman, ternyata itu tidak memuluskan kariernya. Rano Karno mengaku sempat tak diperbolehkan orang tuanya untuk menjadi aktor.
Sudah Baca Novel Si Doel Sejak Usia 8 Tahun
Rano Karno merupakan salah satu aktor yang sangat dikaitkan dengan sosok Doel. Sinetron ini ia garap karena terinspirasi oleh novel yang ia baca sejak usia delapan tahun.
"Sidul itu karakter memang diciptakan, atau emang sebenernya mirip dengan diri sendiri gitu?" tanya Gibran.
"Jadi umur 8 tahun Gibran, Om sudah baca Novel ini, kamu panggil saya pasti om, artinya dari umur 8 tahun novelnya udah saya baca, sebelum jadi film tu," jawab Rano.

©2020 Merdeka.com /Instagram marten and friends
Almarhum Ayahnya Tak Ingin Rano Jadi Bintang Film
Sebelum akhirnya berkecimpung di dunia seni peran, Rano Karno mengaku bahwa ayahnya, Soekarno M Noer yang juga merupakan seorang seniman, sempat tidak mengizinkannya menjadi seorang aktor. Bukan tanpa alasan, ayah Rano tidak mengizinkan, karena waktu itu, dunia perfilman sedang dilanda masalah.
"Dulu Om tinggal di Kemayoran, Kepu Gang 7, ya, siapa yang enggak tahu Pasar Senen? Lokalisasi, pelacuran, pasar burung. Artinya itu tempat gawat deh, tapi pusat kesenian di sana. Cuma yang lucu dulu Ayah Om Soekarno M Noer di situ. Cuma dia enggak mau anaknya jadi bintang film. Karena apa? Tahun 60-an, film mati suri," ucap Rano.

©2020 Merdeka.com /Instagram marten and friends
Hidup Prihatin
Dalam video itu, Rano Karno mengungkapkan jika dirinya dulu hidup sederhana meski ayahnya seorang seniman. Menu makanan sederhana selalu jadi santapannya, karena di masa itu, industri film sedang terpuruk.
"Dulu Om tiap hari makan sepiring berlima, real, sudah makan kayak anak kucing gitu, Dadar telor makan, karena film tahun 60-70 gak ada film," ungkap Rano Karno.

©2020 Merdeka.com /Instagram marten and friends
Perfilman Indonesia Sempat Mati Suri
Di tahun 60-70an, dunia perfilman di Indonesia sempat mati suri. Yang ada hanyalah teater, hingga banyak yang menganggap, menjadi bintang film bukanlah sebuah pekerjaan menjanjikan.
"Dulu cuma ada teater, tapi juga teater latihannya tiap hari, mainnya setahun sekali, itulah disebut sebagai seniman Senen, honornya enggak jelas," ucap Rano.

©2020 Merdeka.com /Instagram marten and friends
(mdk/mif)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya