Kisah Hidup Franz Junghuhn, Sosok Penjelajah Alam yang Dijuluki Bapak Kina Indonesia
Merdeka.com - Desa Jayagiri terletak pada ketinggian 1.274 meter di atas permukaan laut. Di sana terdapat sebuah cagar alam yang menjadi kejayaan produksi kina di Indonesia. Di sana pula Franz Wilhelm Junghuhn yang dijuluki Bapak Kina Indonesia dimakamkan. Untuk mengenang jasanya, dibangunlah sebuah tugu monumen yang disekelilingnya ditumbuhi pohon kina.
Lahir di Mansfeld, Westfalen (kini Jerman) pada 26 Oktober 1809, kisah hidup Junghuhn ibarat tokoh film Indiana Jones. Petualangannya dimulai setelah Ia melarikan diri dari penjara pada tahun 1933.
Awalnya Ia melarikan diri ke Prancis, lalu bergabung dalam legiun asing dan ditempatkan di Aljazair. Hingga akhirnya ia ditugaskan pada dinas kesehatan yang dikelola tentara penjajah Belanda. Tugas inilah yang membawanya ke Hindia Belanda dan banyak melakukan penjelajahan alam di sana.
Lalu bagaimana kisah perjalanan Junghuhn menjelajahi alam Indonesia? Berikut selengkapnya:
Masa Muda Junghuhn

©wikipedia.org
Dilansir dari Liputan6.com, Junghuhn merupakan putra sulung dari seorang dokter dan pemangkas rambut Wilhelm Friedrich Junghuhn dan istrinya Christine Marie Schiele.
Saat masih muda, ia pernah berduel dengan rekannya sesama mahasiswa. Hal ini membuatnya dihukum 10 tahun penjara pada Januari 1832. Pada September 1833 ia melarikan diri ke Prancis dan masuk legiun asing.
Dua tahun kemudian, Junghuhn tiba di Batavia dan bertugas pada dinas kesehatan Batavia dan Semarang. Bersama direktur dinas kesehatan Hindia Belanda, Dr. E.A. Fritze, ia ikut melakukan perjalanan ke seluruh Pulau Jawa.
Ekspedisi Junghuhn di Tanah Batak

©wikipedia.org
Setelah sebelumnya ditugaskan di Pulau Jawa, pada pertengahan tahun 1840, Junghuhn dipindahkan ke Padang dan ditugaskan oleh Gubernur Pieter Merkus untuk melakukan ekspedisi ke daerah Batak.
Saat itu daerah Batak masih kurang dikenal. Hermann von Rosenberg, seorang penyelidik alam berkebangsaan Jerman ditugaskan untuk menemani Junghuhn. Namun karena suatu peristiwa saat kegiatan berburu, Rosenberg jatuh sakit. Terpaksa Junghuhn berangkat sendiri dan hanya didampingi orang-orang pribumi.
Dalam ekspedisi itu, Junghuhn banyak mengalami kendala. Apalagi ekspedisi itu ia lakukan setelah kecamuk Perang Padri yang membuat orang-orang Batak trauma terhadap orang dari luar.
Selama ekspedisi itu, Junghuhn dan para pendampingnya harus melalui hutan belantara dan pegunungan dengan berjalan kaki. Tenaga fisik dan psikis Junghuhn dan para pendampingnya dikuras habis. Dari 17 bulan yang dilalui, 10 bulan di antaranya ia habiskan di tempat tidur untuk merawat kakinya yang terkena sakit parah.
Kembali ke Jawa

©2022 liputan6.com
Selama di Jawa, Junghuhn sudah mendaki hampir semua gunung api di sana. Begitu pula saat sekembalinya dari Batak pada tahun 1842, ia kembali mengadakan penelitian di Jawa. Saat itu, ia mengadakan penelitian arkeolog di lereng pegunungan sebelah utara Kota Bandung. Di sana ia menemukan reruntuhan peradaban Hindu. Penemuan itu ia tulis dalam Indisch Magazijn pada 1844.
Pemerintah Kolonial Belanda kemudian menugaskan ia untuk melakukan pengukuran topografis di Jawa Barat, lalu Jawa Timur. Ia lalu ditugaskan untuk menemukan tempat di Jawa yang dapat ditambang batubara.
Karena kesehatannya yang kurang stabil, pada tahun 1848 ia terpaksa kembali ke Belanda. Selama di Belanda, Junghuhn menulis jurnal penelitiannya selama bertugas di Hindia Belanda. Karyanya itu kemudian terbit dengan judul Java-seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart (Jawa: Bentuk, Tumbuh-Tumbuhan, dan Struktur di Dalamnya). Selain itu pada 1855, ia menerbitkan sebuah peta besar tentang Pulau Jawa.
Perintis Kina di Jawa

©2022 liputan6.com
Pada tahun 1857, Junghuhn kembali ke Jawa dan mengembangkan perkebunan kina. Di Jawa, Ia mempersembahkan metode penanaman pohon kina yang saat itu sangat penting keberadaannya bagi seluruh dunia di tengah wabah Malaria yang mematikan. Ia bahkan disebut sebagai orang pertama yang berhasil menanam kina di Hindia Belanda.
Selama berada di Jawa, ia menetap di Lembang hingga akhir hayatnya pada 24 April 1864. Ia meninggal dunia karena infeksi amoeba yang pada akhir tahun 1961. Sejak saat itu kesehatannya tak dapat disembuhkan.
Di atas makamnya, sang istri Johanna Louisa Federica, membuatkan sebuah prasasti. Kini, hutan tempat Junghuhn menghabiskan masa hidupnya menjadi sebuah cagar alam. Pada awal 1980-an, prasasti makam Junghuhn dipugar dan dibangun sebuah tugu peringatan yang tampak seperti sekarang.
(mdk/shr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya