Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Disebut Jadi Penyebab Gempa Cianjur, Ini Penjelasan Soal Sesar Cimandiri

Disebut Jadi Penyebab Gempa Cianjur, Ini Penjelasan Soal Sesar Cimandiri gempa cianjur. ©2022 Merdeka.com/istimewa

Merdeka.com - Sesar Cimandiri disebut sebagai penyebab dari gempa bumi 5,6 SR yang melanda di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11). Akibatnya 2.345 unit rumah mengalami tingkat kerusakan sekitar 60 sampai 100 persen.

Kuatnya goncangan juga memakan korban jiwa sebanyak 62 orang, dengan ratusan lainnya masih mendapatkan perawatan karena luka-luka. Mereka tertimpa puing-puing bangunan, karena sulit menyelamatkan diri saat kejadian.

Ahli kegempaan yang juga Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Irwan Meilano, berkesempatan menjelaskan soal karakteristik sesar cimandiri yang disebut jadi penyebab gempa Cianjur. Berikut informasinya.

Merupakan Sesar Aktif yang Merekah

evakuasi wanita hamil korban gempa cianjur

evakuasi korban gempa cianjur Rasyid Ali

Menurut Irawan, sesar cimandiri merupakan sebuah bidang yang aktif dan berbentuk rekahan. Bidang ini juga disebut Irawan mengalami pergeseran dan juga retakan yang memiliki celah.

Di dalam bidang tersebut, tersimpan akumulasi tegangan tektonik yang diteruskan sebagai gempa. "Jadi di sesar ini, ada sebuah akumulasi tenaga tektonik yang bisa menjadi gaya penerus hingga menimbulkan gempa. Jika dilihat dari pendekatan geologi, terdapat petunjuk yang mengarah ke hal serupa" kata Irwan Meilano, Selasa, dikutip dari ANTARA.

Dapat Menimbulkan Gempa Besar di Masa Depan

Jika dilihat lebih dalam, sesar ini merupakan patahan yang mandiri dan tidak terikat dengan patahan serupa di titik lain sehingga memiliki energinya tersendiri.

Ia pun menyebut dari tenaga tektonik mandiri yang tersimpan di sesar cimandiri, akan berpotensi terjadi lagi di kemudian hari dengan dampak yang lebih besar dari yang terjadi Cianjur, Jawa Barat, Senin.

Sesar ini diketahui memanjang, mulai dari Sungai Cimandiri di Pelabuhan Ratu, Sukabumi kemudian terus ke timur melewati Cianjur, wilayah Bandung Barat hingga Subang.

Terdapat lima segmen dari sesar cimandiri, seperti segmen Cimandiri Palabuhan Ratu-Citarik, Citarik-Cadasmalang, Ciceureum-Cirampo, Cirampo-Pegleseran, dan Pegleseran-Gandasoli dengan daya gerak mencapai 4-6 mm per tahun.

Pernah Sebabkan Gempa di Masa Lampau

Ditambahkan Irwan, sesar cimandiri bukan hanya sekali menciptakan gempa di wilayah Cianjur dan sekitarnya.

Beberapa catatan sejarah tentang gempa yang pernah ditimbulkan oleh sesar cimandiri di antaranya, Gempa Pelabuhan Ratu, tahun 1900, Gempa Padalarang tahun 1910, Gempa Conggeang tahun 1948, Gempa Tanjungsari tahun 1972, Gempa Cibadak tahun 1973, Gempa Gandasoli tahun 1982 dan Gempa Sukabumi di tahun 2001.

Kendati beberapa bencana gempa bumi sejak tahun 1900 an, karakteristik dari sesar cimandiri ini masih menjadi perdebatan terutama di bidang keilmuan bumi.

Sementara, dikutip dari laman ESDM, Kabupaten Cianjur sendiri merupakan daerah rawan bencana gempa bumi lantaran dataran di sana tersusun oleh struktur endapan quarter gunung api muda, yang bersifat lunak dan rapuh.

Keadaan ini yang menyebabkan terjadinya getaran kuat saat terjadi gempa bumi, ini yang kemudian tampak dalam morfologi (tampilan) dari perbukitan di sana yang memiliki karakter bergelombang.

Pesan Pakar soal Gempa Cianjur

Ditambahkan Irwan, terdapat pembelajaran yang bisa dipetik dari kejadian gempa tersebut. Menurut dia tata ruang di wilayah Kabupaten Cianjur perlu diperhatikan oleh pemerintah, karena merupakan daerah rawan bencana gempa.

"Concern utama berada di pemerintah dan pemda, perlu ada upaya untuk memahami bahwa daerah tersebut memiliki potensi gempa. Penataan ruang dan kaidah pembangunan yang dilakukan tiap daerah harus disesuaikan dengan struktur geologinya serta jaraknya dari sumber gempa," katanya.

Kemudian masyarakat juga diharapkan bisa memahami tentang kondisi daerahnya yang rawan, sehingga tidak awam terkait mitigasi penyelamatan saat bencana terjadi. Dari situ terdapat golden time atau waktu emas penyelamatan yang bisa dilakukan, yakni 30 menit setelah gempa berlangsung.

"Kita harus belajar dari Jepang dalam memanfaatkan golden time ini. Rumah sakit darurat, pengungsian sementara, air dan sanitasi yang baik, mulai dipersiapkan sekarang. Jika hanya fokus pada yang terluka, lantas mengesampingkan hal-hal vital yang harus dipersiapkan, maka orang yang selamat pun dapat menjadi korban selanjutnya," kata dia.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP