Masyarakat Jawa Barat pasti sudah tidak asing lagi dengan kawasan Jalur Nagreg di Kabupaten Bandung. Jalan lintas yang berbatasan dengan wilayah Garut itu selalu dipastikan ramai setiap momen mudik Lebaran dan akhir tahun.
Merujuk laman ANTARA, Sabtu (30/4), pada masa arus mudik tahun ini ribuan kendaraan sudah mulai memadati jalur tersebut sejak H-5 Idulfitri. Bahkan data dari Dishub setempat menyebut, jumlah motor dan mobil yang melintas per-30 menit tercatat mencapai 1.300 unit menuju Kabupaten Garut.
Sejak dahulu, Jalur Nagreg memang telah dianggap strategis karena menghubungkan sejumlah kota di Priangan Timur, seperti Garut, Tasikmalaya hingga Ciamis. Konon pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, warga Eropa di sana sangat menyukai jalur tersebut.
Advertisement
©2022 facebook.com/moeflich/Merdeka.com
Dilansir dari brilio, ruas jalan atau simpang jalan Nagreg ini pertama kali dibangun pada tahun 1808.
Saat itu, oleh Pemerintah Belanda yang dipimpin Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels berupaya memenuhi tuntutan infrastruktur yang memadai guna mendukung distribusi, informasi, mobilitas militer, pos, barang, jasa, dan pertahanan, ke kota-kota di Priangan Timur.
Sejak pertama dibangun, Jalur Nagreg sendiri memiliki dua simpangan lajur yang ikonik dengan pohon besarnya di bagian tengah. Yang bagian kanan ke arah Garut kota dan yang kiri mengarah ke Limbangan Garut, hingga lanjut ke Tasikmalaya dan kawasan sekitarnya.
Advertisement
Jalur Nagreg, sejak diresmikan telah membawa daya tarik yang kuat. Jalur yang menanjak di daerah perbukitan, dengan pemandangan asri kawasan hutan membuat warga Eropa dan Belanda menyukai kawasan tersebut.
Melansir dari kanal YouTube Kodar Solihat, kawasan sepanjang Jalur Nagreg menjadi lokasi yang kerap didatangi warga Eropa untuk berwisata dan menikmati suasana alam dengan kehadiran kebun tehnya.
Saat itu yang menjadi tujuannya banyak warga Eropa adalah kebun teh bernama Sindangwangi. Pada tahun 1923, lokasi tersebut menjadi terkenal untuk sekedar berwisata.
Advertisement
Sebelum tahun 1933, Jalur Nagreg masih sempit dan kerap dilewati oleh para penunggang kuda dari Garut ke Bandung maupun sebaliknya. Teksturnya juga masih berupa tanah dan pasir, karena belum tersentuh aspal.
Setelah berkembangnya transportasi mobil, lokasi tersebut diperlebar di tahun tersebut hingga dapat dilalui dengan layak.
Salah satu ciri yang juga identik dari Jalur Nagreg adalah banyak terdapatnya pohon kelapa yang memajang di pinggir jalan kawasan tersebut. Saat ini keberadaannya hanya tinggal beberapa.
Advertisement
Saat ini, jalur tersebut masih menjadi favorit masyarakat yang hendak melaksanakan mudik lebaran. Kondisi itu tak heran menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu pusat kemacetan bahkan hingga puluhan kilometer.
Mengutip pemberitaan Liputan6 edisi 3 Juli 2016, pada tahun 2016 lalu di Jalur Nagreg pernah terjadi salah satu kemacetan yang sangat parah bahkan hingga 20 kilometer. Saat itu kendaraan hanya bisa berjalan merayap di sana.
Diberitakan, saat itu kemacetan sudah dimulai dari kawasan Cicalengka, Nagreg, hingga ke kawasan Limbangan, Garut dari beberapa titik simpul kemacetan.
Ada dua simpul kemacetan di sana. Yang pertama adalah Simpang Nagreg, di mana terdapat jalur alternatif menuju Tasikmalaya dengan melalui Garut lalu Singaparna. Dan yang kedua di Simpang Cagak.