Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Berusia 100 Tahun, Ini 5 Fakta Menarik Observatorium Bosscha di Bandung

Berusia 100 Tahun, Ini 5 Fakta Menarik Observatorium Bosscha di Bandung observatorium bosscha. ©2022 Merdeka.com/dolanyuk.com

Merdeka.com - Observatorium Bosscha telah lama menjadi rujukan pendidikan astronomi di Indonesia. Lokasinya berada di wilayah Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Saat ini Observatorium Bosscha usianya sudah genap 100 tahun.

Bangunan observatorium didesain secara unik dengan bentuk melingkar, dan beratap kubah di atasnya. Kubah itu bisa terbuka secara otomatis, guna memudahkan pemantauan aktivitas benda-benda yang berada di atas langit.

Tujuan awal dibangunnya Observatorium Bosscha untuk memajukan ilmu astronomi di Indonesia dan dunia yang didukung oleh sejumlah ilmuwan asal negeri kincir angin Belanda saat itu. Berikut 5 fakta menariknya.

Idenya Dicetus Astronom Belanda Kelahiran Madiun

observatorium bosscha

Observatorium Bosscha ©2012 Merdeka.com

Di tahun 1920an, sejumlah ilmuwan dari sejumlah negara mulai memfokuskan penelitian benda-benda yang berada di langit. Namun saat itu keterbatasan akses masih menjadi kendala utama, karena objek yang diamati baru di wilayah langit bagian utara melalui observatorium-observatorium yang ada di negara Eropa dan Amerika.

Kemudian di tahun 1923, seorang Astronom Belanda bernama Joan Voute memengaruhi para akademisi di Hindia Belanda untuk menginisiasi pendirian tempat pengamatan langit bagian bumi selatan.

Menurut Voute, pendirian obervatorium sangat dibutuhkan di Hindia Belanda, sebagai upaya memenuhi kebutuhan penelitian dan pendidikan astronomi di langit bagian selatan. Tak berapa lama, pembangunannya dilakukan melalui bantuan Karel Albert Rudolf Bosscha dan sepupunya dengan diawali pembentukan perkumpulan pencinta astronomi bernama Nederlandsch Indische Sterrenkundige Vereeniging atau NISV.

Terdapat 12 Teleskop

Untuk meneliti aktivitas langit dan isinya, dibutuhkan sebanyak 12 teleskop dengan masing-masing fungsi yang berbeda di antaranya teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Bamberg, Teleskop Schmidt Bimasakti, Go To, GAO ITB RTS, STEVia, Bosscha Robotic Telescope (BRT), Teleskop Surya, Teleskop Radio dan yang lainnya.

Menariknya, salah satu teleskop bernama Refraktor Ganda Zeiss menjadi yang tertua di sana, karena sudah ada sejak tahun 1928 memiliki fungsi untuk mengamati perilaku bintang, dengan optik refraktor 0.6 meter. Selain itu, teleskop ini juga berperan untuk mengamati aktivitas komet di tata surya langit.

Setelah diresmikan tahun 1925, lokasi ini ditetapkan sebagai perintis astronomi modern bukan hanya di Hindia Belanda, tetapi juga Asia Tenggara dengan fokus penelitian pada astrofisikan bintang.

Saat ini, observatorium tersebut berada di bawah Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (ITB).

Akan Dijadikan Area Cagar Budaya

Di usia 100 tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, akan berupaya menjadikan Kawasan Observatorium Bosscha sebagai area cagar budaya.

Tujuan penetapan kompleks cagar budaya ini agar keberadaannya bisa terus lestari, dan tetap menjadi rujukan pendidikan astronomi bagi seluruh unsur pendidikan. Selain itu, penetapan cagar budaya akan mempermudah upaya perawatan.

"Sedang dipersiapkan menjadi (kawasan) cagar budaya supaya nanti kawasan ini bisa dilestarikan," kata Gubernur Jawa Barat, Mochamad Ridwan Kamil, saat menghadiri perayaan 100 tahun Bosscha, Senin (30/1) mengutip ANTARA. 

Sebelumnya, pemerintah juga telah menetapkan Bosscha sebagai Objek Vital Nasional di tahun 2008 silam.

Bisa Melihat Langit Utara dan Selatan

Keunikan lain Bosscha adalah bisa memantau posisi langit bagian utara (northern hemisphere) maupun belahan langit selatan (southern hemisphere).

Ini kemudian menjadi alasan pendirian Bosscha berada di Kawasan Lembang, karena berada di atas ketinggian. Selain itu, posisi Lembang ketika abad ke-20 juga masih berupa hutan, sehingga jauh dari polusi cahaya sebagai penunjang utama peneropongan galaksi.

Kunjungan unsur pendidikan sejauh ini juga terus meningkat di kawasan Bosscha. Banyak pengunjung mulai dari siswa sekolah, mahasiswa, akademisi sampai ilmuan mendatangi lokasi tersebut.

Salah satu program yang menarik perhatian dari pengunjung adalah pengamatan virtual langit malam dengan jelas menggunakan teleskop.

Dijadikan Desain Prangko

prangko obervatorium bosscha

©2023 Dokumentasi Humas ITB/Merdeka.com

Satu abad Bosscha turut melahirkan desain prangko yang unik. Prangko Bosscha ini dibuat oleh Dosen Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), Triyadi Guntur Wiratmo.

Guntur yang juga seorang seniman itu menggambarkan prangko Bosscha dengan tiga elemen, yakni sosok Bosscha sebagai pendiri dan penyumbang dana beserta kubahnya, lalu kedua tentang gambar fisik bangunan observatorium yang mampu menangkap informasi di langit bagian selatan dan terakhir kondisi observatorium ratusan tahun ke depan yang akan tetap menjadi media pendidikan astronomi yang berpengaruh.

Dijelaskan Guntur dalam laman resmi ITB, desain prangko ini selain diminta oleh Kepala Observatorium Bosscha Dr. Premana Premadi, juga dibuat sebagai penanda sejarah dari suatu peristiwa penting.

Hasil desainnya pun cukup menarik, dengan kombinasi warna yang enak dipandang dan visual yang modern.

(mdk/nrd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP