Bendrong Lesung, Tradisi Unik Pertanian Banten yang Terinspirasi dari Anak Menangis
Merdeka.com - Bendrong Lesung merupakan salah satu tradisi khas masyarakat pertanian di Provinsi Banten. Di mana mereka mencoba membunyikan sebuah lesung atau tempat penumbuk padi melalui sebilah kayu yang dihentak-hentakan.
Kegiatan tersebut merupakan luapan kegembiraan setelah masa panen tiba. Di mana masyarakat petani di sana mencoba menggambarkan rasa syukur atas keberlimpahan hasil yang mereka terima.
Bendrong lesung saat ini masih kerap ditampilkan di beberapa acara hajat kebudayaan dan populer di daerah Cilegon sebagai tradisi pertanian secara turun-temurun.
Terinspirasi dari Tangisan Anak

https://commons.wikimedia.org/ ©2020 Merdeka.com
Melansir dari kanal E-Heritage, tradisi yang merupakan bagian dari kesenian tari tradisional tersebut selain terinspirasi dari semangat petani di masa panen, ternyata terdapat versi yang menyatakan bahwa bendrong lesung juga memiliki kisah yang cukup mengharukan.
Diceritakan bahwa dahulu kala para ibu-ibu petani mencoba menghibur sang anak yang sedang menangis karena kelaparan untuk membuat sang anak berhenti dari tangisannya. Ibu-ibu zaman dahulu mencoba membunyikan lesung atau alu agar anaknya mengira jika si ibu sedang menyiapkan makanan untuknya.
Konon, kawasan Banten sempat dilanda kekeringan yang cukup parah sehingga para petani tidak memiliki komoditas padi, sayur hingga umbi-umbian.
Dilakukan dengan Mengelilingi Lesung Bergantian
Salah satu yang khas dari tradisi bendrong lesung adalah cara memainkannya yang dilakukan dengan cara menari sembari mengelilingi lesung. Biasanya mereka akan membunyikan lesung sembari menyanyikan lagu-lagu tradisional khas Sunda seperti Mamangguan, Bajing loncat dan lainnya.
Para penari tersebut melakukannya secara berulang-ulang dengan menggunakan pakaian khas petani perempuan saat melakukan aktivitasnya di ladang maupun di sawah dengan warna cerah sebagai penggambaran dari kebahagiaan si penari.
Bendrong Lesung di Masa Kini

Tradisi bendrong lesung
http://www.e-heritage.id/ ©2020 Merdeka.com
Dahulu kesenian tersebut dimainkan khusus oleh perempuan dewasa berjumlah enam orang dengan pola mengelilingi lesung secara bergantian, namun di masa sekarang tradisi tersebut bisa dimainkan oleh pemain dari beragam usia bahkan kaum pria.
Melansir dari www.senibudayasia.com, mengatakan bahwa di masa kini kesenian tersebut kerap ditampilkan di acara-acara hajatan dengan tambahan beberapa alat musik sebagai variasi dari bendrong lesung kontemporer.
(mdk/nrd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya