9 Penyebab Insomnia Akut dan Gejalanya, Jangan Anggap Enteng!
Merdeka.com - Insomnia merupakan salah satu gangguan kesehatan yang sering dikeluhkan banyak orang. Insomnia adalah kondisi di mana seseorang merasa sangat sulit untuk tidur, sulit untuk tidur nyenyak, atau keduanya. Kondisi ini bisa menjadi kronis sehingga membuat penderitanya sama sekali tidak bisa tidur. Orang yang memiliki gangguan tidur ini, biasanya akan bangun tidur dalam keadaan lelah. Jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat mempengaruhi kualitas seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Insomnia juga bervariasi dalam seberapa lama episode berlangsung dan seberapa sering terjadi, yaitu jangka pendek (insomnia akut) atau bertahan lama (insomnia kronis). Insomnia akut dapat bertahan dari satu malam hingga beberapa minggu, sementara insomnia kronis bertahan setidaknya tiga malam dalam kurun waktu satu minggu dan berjalan selama sebulan atau lebih.
Meski insomnia menjadi salah satu gangguan kesehatan yang sering dikeluhkan, namun banyak yang belum mengetahui dan menyadari penyebab dan gejala yang ditimbulkan dari insomnia. Padahal, penting untuk mengetahui dengan pasti penyebab dan gejala yang ditimbulkan ketika mengalami kesulitan tidur agar kondisi tersebut bisa segera diobati. Berikut penyebab dan gejala insomnia akut dilansir dari beberapa sumber :
Gejala Insomnia
Insomnia ditandai dengan kesulitan untuk tidur. Namun, ada gejala lainnya yang menyertai gangguan tidur ini. Tanda dan gejala insomnia yang umum terjadi, meliputi:
Penyebab Insomnia

Sumber: liputan6.com 2020 Merdeka.com
Stres
Sebagai manusia, akan ada banyak hal dalam hidup yang perlu dipikirkan. Mulai dari masalah sekolah, pekerjaan, keluarga, hubungan pertemanan, dan banyak lagi. Tidak jarang hal-hal tersebut banyak menyita perhatian sehingga seringkali muncul kekhawatiran yang kemudian menjadikan seseorang stress. Trauma kehidupan yang penuh tekanan seperti kematian, penyakit, atau perceraian, dapat menjadi penyebab stress yang kemudian membuat seseorang dapat mengalami insomnia.
Kecemasan
Sama halnya seperti stress, rasa cemas dan takut akan membuat seseorang tidak tenang. Hal ini membuat otak akan aktif karena memikirkan berbagai macam hal, contohnya kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kondisi seperti ini dapat mengganggu kualitas tidur seseorang.
Kebiasaan tidur yang buruk

Sumber: liputan6.com 2020 Merdeka.com
Kebiasaan tidur yang buruk sering kali membuat seseorang kekurangan tidur. Ini bisa terjadi akibat seseorang terlalu banyak bekerja atau melakukan aktivitas, bermain ponsel atau melakukan beberapa kegiatan fisik sebelum waktu tidur, dan lingkungan tidur yang tidak nyaman.
Kafein dan alkohol
Minuman yang mengandung kafein dapat membuat seseorang jadi lebih waspada. Akibatnya, seseorang akan kesulitan untuk memejamkan mata jika diminum pada sore atau malam hari. Sementara alkohol mencegah tahapan yang lebih dalam dari tidur dan sering menyebabkan seseorang terbangun di tengah malam.
Kondisi medis lainnya

Sumber: liputan6.com 2020 Merdeka.com
Ternyata insomnia juga dipengaruhi oleh kondisi kesehatan seseorang. Apakah orang tersebut memiliki kesehatan tubuh yang baik sangat mempengaruhi kualitas tidur orang tersebut. Banyak penyakit yang bisa menyebabkan seseorang sulit untuk tidur, misalnya penyakit kronis (fibromyalgia dan arthritis), kesulitan bernapas (GERD dan heartburn) atau sering buang air kecil (diabetes dan nokturia).
Makan terlalu banyak
Makan banyak sebelum tidur dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman secara fisik saat berbaring, sehingga sulit untuk tidur. Makan terlalu banyak sebelum tidur juga dapat mengakibatkan mulas karena naiknya aliran asam dan makanan dari lambung ke kerongkongan setelah makan. Hal ini dapat membuat seseorang kesulitan untuk memiliki kualitas tidur yang baik.
Alergi

Sumber: liputan6.com 2020 Merdeka.com
Mata memerah dan gatal serta hidung tersumbat dapat mengganggu kualitas tidur seseorang secara konsisten. Bahkan sekitar 59 persen orang yang memiliki alergi pernapasan melaporkan mengalami gangguan tidur akibat gejala yang timbul. Sebuah studi tahun 2006 menunjukkan bahwa gangguan tidur dan alergi mungkin memiliki keterlibatan, karena orang-orang yang memiliki alergi lebih mungkin dua kali lipat menderita gangguan tidur, seperti insomnia.
Para ahli mengatakan bahwa ketaatan pada aturan tentang kebersihan tidur yang baik (kamar tidur yang gelap, dingin, dan tenang, juga menjauhi elektronik dari kamar tidur) dan trik pengentasan gejala alergi (mandi sebelum tidur, mengganti seprai dan sarung bantal rutin) adalah kunci dari tidur nyenyak dengan alergi.
Kondisi kesehatan mental
Masalah kesehatan mental yang mendasari sering dapat mempengaruhi pola tidur seseorang, misalnya gangguan kecemasan klinis atau depresi yang dapat menyebabkan kekhawatiran dan kecemasan berlebih yang dengan konsisten mengganggu tidur seseorang.
Beberapa kondisi kesehatan lain yang bisa mempengaruhi tidur, termasuk gangguan bipolar, PTSD, gangguan kepanikan, dan skizofrenia.
Penggunaan obat

Sumber: liputan6.com 2020 Merdeka.com
Berbagai obat yang digunakan untuk mengatasi bermacam-macam kondisi, mulai dari tekanan darah tinggi, pilek dan flu biasa, hingga asma dapat menyebabkan insomnia sebagai efek sampingnya.
Beragam obat dikenal sebagai pengganggu kualitas tidur, mulai dari menghambat tidur REM, memblokir produksi melatonin, merusak kadar alami enzim atau jalur lain dalam tubuh. Oleh karena itu, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter jika sedang menggunakan obat-obatan tertentu dan mengeluh kesulitan tidur.
(mdk/far)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya