Petani merupakan pekerjaan mulia yang bisa menghidupi banyak orang. Petani sendiri sangat berjasa dalam membantu komoditas pangan di negara agar tetap stabil, dalam memenuhi kebutuhan konsumsi di masyarakat. Sayangnya pekerjaan mulia tersebut jarang dilirik oleh kalangan muda milenial, banyak yang mengaku malu jika harus bekerja sebagai petani.
Namun, berbeda dengan kisah inspiratif seorang pemuda berusia 26 tahun asal Cianjur ini. Dia tak malu untuk mengembangkan komoditas pertanian di wilayahnya, pemuda milenial tersebut bernama Octa Sandi. Konon Sandi mampu menghasilkan keuntungan berkisar Rp800 juta rupiah dalam sebulan dari pertaniannya.
Bukan tanpa alasan, menurutnya, banyak hasil pertanian di wilayahnya yang tidak terjual secara maksimal, sehingga Sandi tergerak untuk menekuni profesi petani dan mengembangkan hasil komoditas tani di wilayahnya.
Advertisement
Dilansir dari agronet.co.id, di tahun 2014 saat liburan semester kampusnya, Sandi Octa yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa semester lima, menyempatkan untuk pulang ke rumah dan mengisi kekosongan waktu liburnya untuk mengunjungi petani-petani sekitar tempat tinggal guna melihat hasil sayuran yang memang banyak ditanam di lingkungan tempat tinggal Sandi tersebut.
Saat berkeliling Sandi terkejut, karena mendapati banyak hasil panen kebun sayur di lingkungan dan milik orang tuanya tidak terjual secara maksimal. Semenjak itu Sandi berupaya berdiskusi dengan para petani sekitar, dalam membantu memaksimalkan hasil penjualanya melalui platform online.
Advertisement
Setelah mendapat persetujuan dari para petani Sandi bersama para petani lantas mendokumentasikan beragam produk sayuran hasil tani masyarakat sekitar seperti cabai merah, brokoli, paprika, terung, sawi hijau dan lain sebagainya untuk dipasarkan melalui salah satu platform online indotrading.com.
Sandi bersama para petani lain berdiskusi seputar caption yang menarik seputar fakta kesehatan dari sayur-sayuran tersebut, serta strategi menarik lainnya melalui foto dan hasil produk tani di lingkungannya. Sejak saat itu, usahanya mulai menarik minat konsumen digital untuk membeli produk hasil pertanian di wilayah tempat tinggalnya.
Advertisement
Ada fakta menarik di tengah usahanya mengembangkan komoditas tani di wilayahnya. Sandi mengaku memulai kegiatan tersebut tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sandi melakukan hal tersebut sembari mengisi waktu liburan semesternya yang saat itu masih memasuki smester 5.
Advertisement
Dalam menjalankan kegiatannya tersebut Sandi juga pernah mengalami kerugian. Menurut lansiran dari agronet.co.id, Sandi pernah mengalami kerugian hingga Rp135 juta, akibat ditipu oleh oknum yang mengaku sebagai konsumen.
Sejak saat itu barulah orang tua Sandi mengetahui jika anaknya berupaya mengembangkan usaha di bidang pertanian bersama para petani di lingkungan tempat tinggalnya.
Advertisement
Setelah sekian waktu Sandi mengalami drop akibat kerugian material tersebut, ada momen mengejutkan. Sandi ditawari untuk membuat olahan snack organik dari acara PIMNAS 2016 oleh Institut Pertanian Bogor (IPB).
Di mana pada momen tersebut Sandi berhasil mendapatkan untung 2 kali lipat dari modal awal Rp130 juta. Sejak saat itu Ia mulai kembali mengembangkan usaha berjualan sayur secara online dan terus berkembang.
Advertisement
2020 Merdeka.com
Pasca keberhasilan menerima pesanan snack organik dari IPB, Sandi mencoba kembali menekuni jalur bisnis di bidang sayuran. Perlahan usahanya mengalami kemajuan.
Tahun 2016, Sandi mulai berinovasi dengan menghasilkan produk hortikultura yang beraneka ragam, total 500 jenis Hotikultura yang dihasilkan pada tahun tersebut. Di antaranya, 141 Item sayuran, 40 item buah-buahan, dengan beberapa lain umbi umbian.
Advertisement
Saat ini Sandi telah berhasil menciptakan unit usaha bernama Mitra Tani Parahyangan dengan total 120 hektar lahan yang berhasil dikelola dan bekerja sama dengan lebih dari 25 mitra besar.
Seperti Catering, Restoran hingga Hotel berbintang yang tersebar di seluruh wilayah Bogor. Bahkan perusahaan Sandi telah dipercaya oleh perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN VIII) di wilayah Bogor untuk mengelola lahan Garapan perusahaan milik negara tersebut.
Advertisement
2020 Merdeka.com
Awal tahun 2020 lalu Sandi bersama Mitra Tani Parahyangan telah bekerja sama dengan beberapa instansi di Timur Tengah seperti Qatar untuk mengekspor hasil pertaniannya.
Total sudah 85 item yang Ia dan perusahaannya kirim ke negara Timur Tengah tersebut. Sandi mengaku jika perbulan Ia bisa meraih keutungan sekitar Rp500 sampai Rp800 juta.
Advertisement
Tepatnya di tahun 2019 yang lalu, Sandi Octa dinobatkan sebagai Duta Petani Millenial oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Hal tersebut merupakan bentuk motivasi nyata kepada generasi milenial agar tidak malu untuk menekuni bidang pertanian yang bisa memberi manfaat bagi banyak orang.