4 Fakta 'Primbon Manuk', Tata Cara Memelihara Burung Ala Naskah Kuno Cirebon

Rabu, 11 Maret 2020 17:00 Reporter : Nurul Diva Kautsar
4 Fakta 'Primbon Manuk', Tata Cara Memelihara Burung Ala Naskah Kuno Cirebon Ilustrasi burung berkicau. © academy.allaboutbirds.org

Merdeka.com - Naskah kuno biasanya merupakan penggambaran dari keadaan masa lampau seputar agama, kerajaan, politik maupun pemerintahan. Namun lain halnya dengan naskah kuno yang ditemukan di Cirebon dalam acara Pembahasan Draf Final Kegiatan Pengembangan Penyusunan Monograf/Katalog Naskah Keagamaan Cirebon II di Gedung Kementerian Agama beberapa waktu lalu.

Dalam naskah tersebut terungkap bahwa pada beberapa poin pembahasan terdapat bab naskah untuk memelihara burung peliharaan raja di Cirebon pada masa lalu.

Seperti dilansir pada akun resmi blajakarta.kemenag.go.id, semua naskah tersebut murni peninggalan masa lampau dan terdapat kurang lebih 200-an naskah kuno yang berisi seputar toleransi, kerukunan, nasionalisme, kesetaraan gender, dan salah satu yang paling menarik adalah temuan seputar tata cara memelihara burung.

1 dari 4 halaman

Berusia Ratusan Tahun

Naskah berjudul Primbon Manuk tersebut diduga berusia ratusan tahun mengingat kertas yang digunakan merupakan kertas kuno Eropa dan bergaya prosa Eropa abad pertengahan dengan menggunakan aksara Jawa pada seluruh isi naskahnya.

Sayang naskah tersebut mengalami sobek pada halaman 32, 33, dan 34 sehingga terdapat beberapa tulisan yang sukar untuk dibaca. Naskah tersebut tidak memiliki ilmunikasi, ilustrasi, watermark, garis tebal (chain lines), penomoran, nama penyalin hingga nama pengarang.

2 dari 4 halaman

Terdapat Aksara Arab

Pada naskah Primbon Manuk juga terdapat beberapa halaman yang menggunakan aksara Arab, tepatnya di halaman ke 7 paragraf ke 9 yang berbunyi Pasir lalu di halaman 9 paragraf ke 3 berbunyi Rara Magnet. Tinta pada aksara Arab pun berwarna hitam dan merah.

3 dari 4 halaman

Berisi Tentang Tata Cara Merawat Burung

Menurut situs historyofcirebon.id, naskah kuno tersebut menjelaskan tentang tata cara merawat dan teknik dasar bagaimana agar burung peliharaan memiliki kemampuan untuk berkicau secara maksimal.

Selain berisi seputar anjuran dalam memaksimalkan kicauan, dalam teks tersebut juga berisi tentang watak dan karakter dari burung dan manfaat memelihara burung.

naskah kacirebonan

Liputan6.com 2020 Merdeka.com

4 dari 4 halaman

Isi Teks Tentang Membuat Suara Burung Berkicau Maksimal

Dalam bagian halaman pertama teks tersebut terdapat aksara yang berbunyi:

Iki basaning hanglo manuk. Cauna ta laluku, Hapa nika kongkonan, Rokdaya kona rokang. Hikiparanti ngidengi manuk, gambri tutas habane kaya lagi hana ngalas wongkono. Kudesti hasta kanaka, kerut siwalan tunggal. Hasan ira saking nabi papanutan, sawarga nira hing panasaran. Sangaliweran haliweran. Sang raja rame muniya, sang raja sihana hing kene, hiya hisun panutan ira, hiya hisun pangeran nira. Panuli tiniyupaken ping telu. Hiki paranti nginumi manuk....

(Ini caranya mengkerik lidah burung. Mantra: Cauna ta laluku hapa nika kongkonan, rokdaya kona rokang. Ini alat mengkudang atau melatih burung supaya keras dan bagus suaranya seperti ketika berada di hutan. Mantra: Kudhesti hasta kanaka, serut siwalan tunggal. Hasal ira saking nabi papanutan, sawarga nira hing panasaran. Sangaliweran haliweran. Sang raja rame muniya, sang raja sihana hing kene, hiya hisun panutan ira, hiya hisun pangeran nira. Lalu ditiupkan sebanyak 3 kali. Ini cara memberi minum burung...)

Petikan akhir teks halaman 22:

...Katemu papatang, bramana luhur, harane, laksane ge ... Dhenana manuk, cangke ... Kang saparo brama lulut. Harane nekakaken lalara....

(...Bagian ke empat, Bramana Luhur, namanya seperti ge (ni). Jika ada burung, mulut yang sebagian merah muda. Artinya mendatangkan penyakit...).

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini