Sejumlah situs tersebar di kaki Gunung Salak. Diperkirakan sudah lebih tua dari era Kerajaan Sunda.
Advertisement
Namanya diambil dari kata Salaka, yang berarti perak. Bukan dari buah salak, seperti yang dikira orang.
Gunung Salak berarti Gunung Perak. Merupakan titik pusat dari kebudayaan Sunda.
Di kawasan Calobak, berdiri beberapa situs. Dipercaya Gunung Salak adalah sebuah kabuyutan tua.
Kabuyutan adalah tempat larangan. Tidak semua orang boleh masuk. Biasanya digunakan sebagai tempat peribadatan dan dianggap suci.
Advertisement
Dipercaya merupakan peninggalan megalitikum.
Era Megalitikum tua dimulai sekitar 2.500-1.500 tahun sebelum masehi. Punden berundak dan menhir masuk ke zaman ini.
Era Megalitikum Muda dimulai 1.000-100 tahun SM. Waruga, kubur batu, sakrofagus dan arca awal menandai masa ini.
Advertisement
Selain corak kepercayaan yang ternyata berbeda, ada lagi faktor lain.
Advertisement
Masyarakat Sunda adalah peladang atau huma. Sementara masyarakat Jawa merupakan penggarap sawah.
Masyarakat huma berpindah dan tersebar, tidak menetap dalam satu wilayah.
Advertisement
Situs ini lebih besar dari Calobak. Bentuknya punden berundak,
Advertisement
Bentuknya punden berundak dengan teras batu yang tersusun dari batu-batu yang dihaluskan.
Ada beberapa tingkat dan dipercaya menjadi tempat peribadatan era Sunda Kuna.
Advertisement
Sungai, hutan lebat dan jurang menjadi syarat lokasi Kabuyutan. Kaki Gunung Salak menjadi ideal bagi nenek moyang masyarakat Sunda.
Advertisement
Menurutnya, situs punden berundak dibangun di era Kerajaan Sunda. Sekitar Abad ke-13 hingga 16.
Bangunan ini bukan merupakan peninggalan megalitik. Cirinya adalah teras yang dibalay (ditutup batu).