Tajamnya Pena Buya Hamka

Kamis, 1 Desember 2022 08:04 Reporter : Merdeka
Tajamnya Pena Buya Hamka Buya Hamka dengan Bung Karno dan Oei Tjeng Hien dalam konsul Muhammadiyah di Bengkulu. Buku Hamka Ulama Serba Bisa dalam Sejarah Indonesia©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Buya Hamka adalah seorang wartawan, penulis, serta filsuf Indonesia yang namanya sudah berkaliber sejak masa pergerakan nasional. Buya menjadikan media sebagai corong dakwah untuk umat. Mulai dari kisah, syiar agama hingga opini politik disampaikan selama petualangannya di ranah media.

Buya Hamka kembali ke Padang Panjang pada tahun 1925. Kepulangannya membawa pengalaman yang cukup banyak setelah merantau ke Jawa. Langkah pertama yang ditempuhnya setelah kembali dari perantauan adalah mendirikan Tabligh Muhammadiyah. Sebuah sekolah untuk mendidik kader-kader Muhammadiyah di kampung halamannya.

Dalam buku Hamka: Ulama Serba Bisa dalam Sejarah Indonesia, Buya Hamka mengadakan kursus pidato untuk kawan-kawan sejawatnya. Dari kursus-kursus tersebut, dia berhasil memproduksi tulisan teman-temannya.

Salah satunya adalah Khathibul-Ummah yang dijadikan sebagai 'Ketua Pengarang' atau pemimpin redaksi. Secara tidak langsung, Tabligh Muhammadiyah sudah menerbitkan majalah ketika itu. Jadi di tahun 1925 Hamka telah mulai mengarang, dalam usia 17 tahun dan dengan tidak latihan sekolah lebih dahulu.

2 dari 3 halaman

Hobi Menjadi Profesi

Buya Hamka dikenal sebagai sosok yang gemar menulis. Hal ini terlihat jelas ketika dia kembali dari Mekkah. Hamka semakin rajin mengirimkan tulisannya ke berbagai media. Beberapa di antaranya seperti majalah Pembela Islam (Bandung), Suara Muhammadiyah (Yogyakarta), majalah Adil (Solo), dan harian Pelita Andalas sebagai kontributor laporan perjalanan.

Kegiatannya selama di Muhammadiyah juga telah mendorong bakatnya di bidang pers. Pada tahun 1928, Hamka ditunjuk sebagai redaktur majalah Kemajuan Zaman, yang diterbitkan sebagai hasil konferensi Muhammadiyah di Padang Panjang.

Pada tahun 1932 Hamka juga sempat menerbitkan majalah Tentera, majalah Al-Mahdi, hingga majalah pengetahuan Islam bulanan ketika diutus menjadi mubalig ke Makassar.

Empat tahun setelahnya, Hamka kembali ke Medan dan mendirikan majalah Pedoman Masyarakat (1936–1943). Pada masa puncaknya, oplah dari majalah ini mencapai 4.000 eksemplar setiap bulannya. Jumlah tersebut terhitung banyak bagi media pribumi kala itu.

Kiprahnya selama di Pedoman Masyarakat membuat namanya melambung di dunia pers sebagai tokoh jurnalistik beraliran islami.

"Sebuah majalah kebudayaan ‘memajukan ilmu pengetahuan dan peradaban, berdasar Islam’ sebagai pedoman masyarakat itu telah segera mempunyai kepribadian; kepribadian majalah itu ialah corak pribadi pimpinannya," ucap Buya Hamka sebagai pemimpin Pedoman Masyarakat dalam Kenang-kenangan Hidup Jilid II.

Namun, Pedoman Masyarakat dilarang terbit selama masa pendudukan jepang di Indonesia.

Setelah itu, Buya Hamka kembali aktif memimpin majalah Semangat Islam (1943) dan kemudian majalah Menara (1946) pada masa revolusi. Akan tetapi, kedua majalah ini tidak berumur panjang. Setelah itu, di tengah-tengah kesibukannya sebagai pegawai negeri di Jakarta, Hamka juga mengasuh majalah Mimbar Agama terbitan Departemen Agama (1950–1953).

Pada akhir periode tahun 1950-an, Hamka kembali mendirikan terbitan majalahnya. Kebutuhan akan media penyaluran dakwah dan pemikiran Islam di tengah gencarnya arus pemikiran kiri kala itu menjadi salah satu alasannya.

Terbitan pertama majalah itu diberi nama Panji Masyarakat, disingkat menjadi Panjimas dan terbit pertama kali pada 15 Juni 1959 dengan Hamka sebagai editor.

Nama Panji Masyarakat diambil dari dua nama majalah terkenal di kurun Hindia Belanda, yakni Panji Islam (yang dipimpin oleh Zainal Abidin Ahmad dan M. Joesoef Ahmad) juga Pedoman Masyarakat yang dipimpin oleh Hamka. Hal ini diungkapkan oleh Sidi Gazalba yang pernah terlibat sebagai asisten di Panjimas.

Panjimas berdiri secara independen. Meskipun begitu, majalah ini kental dengan pengaruh Muhammadiyah. Pada masa itu tidak terdapat bacaan di kalangan umat Islam sehingga Panjimas digemari secara luas di seluruh Indonesia. Dalam rangka reformasi Islam, Panjimas menekankan pendekatan kebudayaan.

"Pendekatan ini dalam banyak hal merupakan refleksi dari kepribadian pemimpin redaksinya, Buya Hamka, yang secara konsisten berusaha tidak melibatkan dirinya dalam kancah politik," kata Azyumardi Azra yang pernah menjadi anggota redaksi Panjimas.

3 dari 3 halaman

Bergeser ke Arah Politik

Pada mulanya, Panjimas tidak berorientasi pada politik. Namun, kebijakan Sukarno menegakkan Demokrasi Terpimpin melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 menimbulkan kekecewaan di kalangan umat Islam. Termasuk Hamka dan Panjimas.

Panjimas gencar menolak Manifesto Politik (Manipol) dan Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Kepribadian Nasional (Usdek) yang Bung Karno canangkan dengan dukungan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Puncaknya ketika redaksi Panji Masyarakat yang dipimpin Hamka memuat artikel Mohammad Hatta yang berjudul 'Demokrasi Kita'. Artikel yang terbit pada 1 Mei 1960 tersebut mengkritik keras Sukarno dan pelaksanaan konsepsi Demokrasi Terpimpinnya. Hamka bahkan turun gunung untuk membaca naskah dan mengawasi pencetakannya.

"....Buya Hamka sendiri sebagai pengawas pencetakannya meneliti sampai titik-komanya, tidak boleh ada salah cetak sedikit pun, untuk menyesuaikan dengan kebiasaan Bung Hatta yang selalu correct dan seorang perfectionist dalam hal tulis-menulis," seperti yang tertulis dalam Mohammad Hatta: Beberapa Pokok Pikiran.

Tulisan tersebut membuat Bung Karno naik pitam. Akibatnya, jatah kertas Panjimas pun dipersulit. Penerbitan Panjimas tersendat. Pada akhirnya dibredel oleh pemerintah pada 17 Agustus 1960. Begitu pun beberapa pers lainnya seperti harian Abadi (Masyumi) dan Indonesia Raya juga Pedoman milik Partai Sosialis Indonesia ikut dibredel.

Namun, semangat Hamka tidak pernah padam. Terbukti, Hamka menerbitkan kembali majalah Islam pada tahun 1962. Majalah itu bernama Gema Islam dengan dukungan dari Mayor Jenderal Sudirman dan Kolonel M. Rowi. Gema Islam menandakan upaya persatuan antara golongan Islam dan militer untuk membendung pers golongan kiri.

Nama Hamka memang hanya tercatat sebagai ‘asisten’. Kendati demikian, Hamka justru yang mengendalikan majalah tersebut. Majalah ini terbit perdana pada 15 Januari 1962.

"Majalah Gema Islam pada dasarnya meneruskan garis yang hampir sama dengan Panjimas atau pun Pedoman Masyarakat," tulis Rusydi Hamka yang merupakan anak dari Buya Hamka.

Karir Hamka di Gema Islam tidak bertahan lama, karena pada tahun 1964 Hamka ditahan atas tuduhan subversif terhadap pemerintah dan dijebloskan ke dalam penjara. Buya Hamka baru dibebaskan pada tahun 1966 ketika pemerintahan Orde Baru dan menghidupkan kembali Panjimas.

Muhammad Rigan Agus Setiawan

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini