Sultan Hamid Bergurau, Sutan Sjahrir Tersinggung
Merdeka.com - Perbincangan lepas di antara tahanan politik pemerintah Sukarno berujung kepada kemarahan.
Penulis: Hendi Jo
Dianggap sebagai bagian dalam komplotan yang merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Sukarno, sejak April 1962, sejumlah tokoh nasional ditahan di Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun. Mereka antara lain Sutan Sjahrir, Sultan Hamid Alkadrie, Anak Agung Gde Agung, Mohammad Roem, Soebadio Sastosatomo dan Prawoto Mangkusasmito.
Kehidupan para tahanan asal Jakarta itu di RTM Madiun sejatinya tak ada masalah. Sjahrir dan Sultan Hamid masing-masing memiliki kamar lumayan besar. Anak Agung dan Soebadio menempati kamar besar lain. Sementara Roem yang diangkat sebagai 'koordinator para tahanan' ditempatkan satu kamar bersama Prawoto.
"Saya dipanggil dengan sebutan 'Pak Lurah'," kenang Roem dalam Memoirs.
Cerita Sjahrir Tersinggung
Selama dua bulan pertama, keamanan masih ketat. Sesudah itu tahanan boleh main tenis dan berenang di kolam renang umum yang disediakan untuk mereka beberapa jam dalam seminggu.
Selain kegiatan tersebut, mereka juga bermain scrabble, bridge dan bulutangkis. Begitu kawan-kawan mereka di luar mengetahui hal itu, maka pasokan kartu bridge, suttle cock, raket dan net seolah tak berhenti mengalir ke RTM Madiun.
Tetapi namanya kehidupan di penjara, tidaklah selalu harmonis. Ada saja bentrok kecil-kecilan di antara para tahanan. Seperti insiden yang dialami oleh Sutan Sjahrir dengan Sultan Hamid.
Ceritanya, pada suatu makan malam terjadi diskusi mengenai adat orang-orang Minangkabau di antara para tahanan politik itu. Terbahaslah bagaimana soal tradisi matriarkat yang menggantungkan keturunan berdasarkan garis perempuan. Bahwa dalam adat Minang, yang meminang bukanlah laki-laki tapi dari pihak perempuan.
"Ya orang laki-laki Minang itu seperti pemacak," seloroh Sultan Hamid seperti diceritakan oleh Mohammad Roem dalam Mengenang Sjahrir (disunting oleh Rosihan Anwar).
Istilah pemacak mengacu kepada kata 'pejantan' dalam dunia binatang. Itu merupakan hewan jantan yang tugasnya hanya 'membuat' anak. Biasanya hewan jantan itu memiliki keistimewaan tersendiri, misalnya tubuhnya bagus, rupanya indah (biasanya dalam dunia kucing) atau bibitnya (spermanya) subur hingga menghasilkan keturunan banyak.
Pak Lurah Sang Juru Damai
Begitu kata-kata itu terlontar dari mulut Sultan Hamid, tiba-tiba Sjahrir berdiri. Dengan tenang dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia lantas meninggalkan meja makan. Suasana menjadi sangat tidak nyaman.
"Pak Lurah, ini harus lekas diselesaikan," ujar Anak Agung. Roem sejenak terdiam."Marilah kita meneruskan makan kita dulu," ujar Roem kemudian.
Selesai makan, Soebadio berdiri menuju kamar Sjahrir. Yang lainnya kemudian memandang Roem.
"Bagaimana, Pak Lurah?" tanya Anak Agung."Saya pikir-pikir dulu di kamar," jawab Roem seraya berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Sultan Hamid mengikuti Roem dari belakang. Sampai di dalam kamar Roem, terjadilah percakapan di antara mereka berdua.
"Saya tidak mengerti, mengapa Sjahrir tersinggung oleh ucapan saya. Saya sering mendengar dari orang lain apa yang saya katakan itu," ungkap Sultan Hamid."Saya juga pernah mendengar apa yang kau katakan. Kalau itu kita pandang sebagai suatu lelucon, maka ia sudah sangat tua umurnya. Di rumah Haji Agus Salim, saya mendengar lelucon itu hampir saban hari. Saya mendengarnya langsung dari beliau sendiri ataupun dari orang lain," tutur Roem."Nah! Apa bedanya?" seru Sultan Hamid."Bedanya, Haji Agus Salim seorang Minangkabau dan kau bukan. Sjahrir juga seorang Minang. Kita hendaknya mengerti, bahwa lelucon itu hanya monopoli orang Minang," jawab Roem.
Sultan Hamid mengangguk-anggukan kepala. Dia menunjukan pengertiannya."Lalu bagaimana pendapat Pak Lurah sendiri?" tanyanya kemudian."Hendaknya kau minta maaf saja. Saya yakin Sjahrir akan menerimanya.""Tapi saya tidak punya kesengajaan untuk melukai perasaan Sjahrir.""Kalau kita tanpa sengaja menginjak kaki orang lain dan ia berteriak karena kesakitan, kita juga minta maaf kan?"
Akhirnya Sultan Hamid mengamini usulan Roem. Namun karena percakapan antara dia dengan Roem berlangsung lumayan lama, maka Sultan Hamid memutuskan akan minta maaf keesokan harinya saja.
"Jadi saya malam itu masih memiliki waktu bicara kepada Sjahrir," kata Roem.
Keesokan harinya, pagi sekali Sultan Hamid sudah masuk ke kamar Sjahrir. Tak lama kemudian, dia sudah keluar dengan wajah yang biasa, pertanda situasi 'sudah aman' dan terkendali kembali.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya