Menjelang sore pada 19 Desember 1948. Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia, jatuh ke tangan Belanda. Agresi Militer Belanda II dinamakan Operasi Gagak (Operatie Kraai), sukses menduduki Ibu Kota Republik Indonesia dan menangkap para pemimpinnya.
"Tujuannya untuk sesegera mungkin menghancurkan pusat kekuatan TNI dan menawan pimpinan pemerintahan RI," Seperti dikutip dalam buku Sejarah TNI Jilid I.
Namun, Tentara dan rakyat Indonesia tetap melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Indonesia belum menyerah.
"Mereka tidak 'membaca' situasi dan kondisi yang sebenarnya. Rakyat berjuang bukan sekedar karena Soekarno-Hatta, atau pemerintah, dan TNI di masa itu bukanlah sekedar alat pemerintah, seperti tentara kuat Vietnam (Saigon) yang runtuh di tahun 1974, melainkan TNI di masa itu betul-betul suatu kekuatan rakyat, bukan sekadar alat pemerintah," ungkap A.H. Nasution dalam buku Soedirman-Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan.
Advertisement
Indonesia Harusnya Sudah Kalah
Menurut dalil militer yang konvensional, keberhasilan Belanda menduduki Ibu Kota Republik Indonesia dan menangkap para pemimpinnya, Republik Indonesia saat itu dapat dinyatakan kalah.
TB Simatupang pun berkelakar. Saat itu rakyat dan tentara Indonesia merasa belum kalah. Alasannya, sebagai bangsa terjajah, belum begitu pintarnya tentara dan rakyat jusru menjadi anugerah perjuangan.
Tentara dan rakyat tidak pernah mendengar atau membaca pendapat ahli hukum atau militer tentang kapan suatu negara dikatakan kalah perang. Sehingga mereka terus saja melakukan perang gerilya.
"Syukurlah bagian terbesar anggota Angkatan Perang dan rakyat kita belum begitu pintar," ungkap TB Simatupang dalam buku Laporan Dari Banaran.
Advertisement
Perang Berakhir dengan Kemenangan
Keyakinan dan militansi di kalangan rakyat Indonesia terhadap perjuangan merupakan suatu penyelamat. Dengan kondisi para pemimpin Republik Indonesia ditawan Belanda, rakyat masih tetap melanjutkan perjuangan di bawah komando militer. Dalam hal ini, Jenderal Besar Soedirman.
Jika tentara dan rakyat tidak memiliki keyakinan dan militansi, bisa saja tentara menyerah kepada Belanda serta rakyat malah membantu Belanda menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya.
"Menurut kesan saya, benar Republik dapat diselamatkan selama perang rakyat terutama karena ada rasa optimis dan militansi di kalangan rakyat banyak, di kalangan Angkatan Perang, di samping ada syarat-syarat organisasi, kemahiran dan sekadar persenjataan untuk menjalankan perang rakyat," kataTB Simatupang.
Setelah beberapa pekan pendudukan Ibu Kota Republik Indonesia, perjuangan harus dipindahkan ke desa-desa. Namun tidak pernah ada rasa pesimis dalam perjuangan.
Meskipun rakyat di desa-desa harus berjuang bersama para tentara, mereka selalu optimis bahwa perjuangan ini akan mencapai kemenangan bagi Republik Indonesia.
"Di mana-mana saya dengar dan rasakan ada keyakinan yang pasti pada suatu saat yang baik, perang akan berakhir dengan kemenangan di pihak kita," tutupnya.
Reporter Magang: Muhamad Fachri Rifki