Pemberontakan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun tahun 1948 berhasil ditumpas TNI. Salah satu pasukan andalan pemerintah Soekarno-Hatta dalam operasi militer ini adalah Divisi Siliwangi.
Banyak kisah menarik dialami para 'Maung Siliwangi' saat peristiwa Madiun. Salah satunya adalah saat seorang perwira TNI dipukuli karena dikira PKI.
Peristiwa ini dialami Letnan Suratman. Seorang Komandan Seksi dalam Batalyon Kemal Idris. Saat itu sebagian besar kekuatan bersenjata FDR telah dihancurkan.
TNI kini fokus menggelar operasi untuk menghancurkan sisa-sisa pasukan merah yang melarikan diri, Termasuk menangkap para pimpinan PKI.
Hal ini dikisahkan Letjen (purn) Himawan Soetanto dalam buku Perintah Presiden Soekarno: Rebut Kembali Madiun yang diterbitkan Sinar Harapan tahun 1994.
Advertisement
Tanggal 27 November 1948, Letnan Suratman memimpin pasukannya maju dari Purwodadi ke Godong. Di Rawa Godong, saat pasukan berhenti, ternyata ada salah satu prajurit yang hilang.
Letnan Suratman memerintahkan pasukannya kembali menyusuri jalan untuk mencari anggotanya yang hilang.
"Prajurit Mamad harus ditemukan karena tadi dia berjalan paling belakang," kata Letnan Suratman.
Mereka akhirnya menemukan Prajurit Mamad. Namun tragisnya, telah menjadi jenazah. Rupanya dia disergap saat posisinya agak jauh dari induk pasukan. Saat ditemukan, lehernya nyaris putus.
Rupanya musuh menggunakan senjata tajam, bukan senjata api, karena itu tidak ada letusan senapan.
Situasi di sekitar lokasi tampak sepi. Sebagai perwira militer Letnan Suratman curiga.
"Ada dua kemungkinan, musuh sudah habis atau mereka bersembunyi dengan rapi," katanya.
Advertisement
Benar saja dugaannya, di semak belukar tampak beberapa orang bersembunyi. Letnan Suratman berteriak agak mereka menyerah, namun orang-orang itu tidak bergerak. Rupanya pura-pura mati.
Baru setelah diancam akan ditembak, mereka berdiri sambil mengangkat tangan.
Orang-orang itu mengaku hanya warga desa yang ditahan PKI. Namun Pasukan Siliwangi curiga, penampilan mereka tidak seperti rakyat biasa. Setelah digeledah, ada di antara mereka yang membawa sepucuk pistol FN.
"Langsung saya rampas," kata Suratman.
Dia mengaku senang bisa mendapat pistol FN, karena di batalyon yang punya pistol jenis itu hanya komandan batalyon, Mayor Kemal Idris.
Advertisement
Letnan Suratman memilih tidak mengeksekusi tawanan itu. Dia membawa mereka ke Pos Komando Mayor Kemal Idris untuk diinterograsi. Jenazah Prajurit Mamad yang gugur dibawa dengan usungan, semacam tandu darurat.
Mereka berbaris ke pos. Usungan jenazah Prajurit Mamad berada paling depan, Letnan Suratman berjalan di belakangnya bersama para tawanan PKI.
Kabar Pasukan Siliwangi membawa tawanan PKI cepat menyebar. Saat memasuki desa, rakyat mengelu-elukan mereka. Beberapa tampak emosi, ingin membalas perbuatan para tentara merah saat mereka berkuasa di wilayah itu.
"Mana PKI-nya?" tanya masyarakat pada prajurit yang berjalan di depan. Dijawab oleh prajurit itu, di belakang usungan.
Apesnya yang berada tepat di belakang usungan adalah Letnan Suratman. Dia langsung dipukuli warga karena disangka PKI.
"Padahal yang di belakang itu saya komandan seksi! Langsung dikeroyok warga, hampir babak belur," kenang Suratman.
Aksi warga baru berakhir setelah Suratman mencabut pistol. Barulah warga mundur dan menghentikan pukulan mereka.
"Lucu ya, kok saya yang digebuki," kata perwira yang kelak pensiun dengan pangkat mayor jenderal TNI itu.
Advertisement
Setelah insiden itu, Suratman dan pasukannya menyerahkan tawanan tersebut ke Pos Komando. Setelah diperiksa ternyata orang-orang tersebut adalah tokoh-tokoh PKI/FDR.
"Mereka adalah Djoko Soejono, Maruto Darusman, Sarjono dan lain-lain,"
Rupanya para tokoh tersebut adalah pimpinan PKI yang berhasil lolos dari pertempuran sebelumnya. Tak lama kemudian, Amir Sjarifuddin juga berhasil ditangkap.
Pemberontakan FDR/PKI gagal. Musso tewas dalam baku tembak. Para pimpinan lain yang tertangkap pun kemudian dieksekusi mati.