Pesawat itu adalah B-25 Mitchell buatan North American Aviation.
Advertisement
Bomber ini dilengkapi 12 senapan mesin berat 12,7 mm dan bisa mengangkut 1,5 ton bom. Terbang jauh untuk menghajar wilayah lawan.
Pesawat B-25 juga yang digunakan Letnan Kolonel James Doolittle untuk mengebom Tokyo 18 April 1942. Pengeboman itu sebagai balasan atas serangan Jepang ke Pearl Harbour.
Advertisement
Bomber ini digunakan saat Belanda ingin kembali menjajah Indonesia setelah Perang Dunia II
Advertisement
Ada 173 pesawat milik Belanda yang diserahterimakan. Pesawat tersebut adalah Pipper Cub/L-4J, C-47 Dakota, B-25 Mitchell, P-51 Mustang, Auster, AT-6 Harvard, PBY Catalina, BT-13 Valiant, Gruman Goose G-21A, serta Lockheed 12.
Advertisement
Pesawat ini segera menjalani tugas pertamanya: Menumpas Pemberontakan Republik Maluku Selatan. Sejak itu, dia tidak pernah absen dalam setiap operasi militer TNI AU.
Bomber B-25 ditugaskan untuk membombardir lokasi kubu pertahanan pasukan Kahar Muzakar di pegunungan Sulawesi Selatan. Pesawat ini diterjunkan nyaris dalam setiap operasi militer tahun 1950-1970an.
Advertisement
Mayor Udara Pedet Soedarman diperintahkan menghancurkan kapal perang Belanda di Pulau Gag. Kapal perang itu dianggap merintangi upaya TNI untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda. Tanpa ragu Pedet tinggal landas melaksanakan misi tempur.
Advertisement
Belanda berusaha memberikan tembakan balasan, namun siraman peluru delapan senapan mesin 12,7 dari moncong B-25 dan empat lagi dari sayap pesawat, membuat usaha itu sia-sia.
Advertisement
Dari kokpit pesawatnya, Mayor Pedet bisa melihat pasukan Marinir Belanda yang kocar-kacir akibat serangan tersebut. Begitu yakin targetnya sudah tak berdaya, Mayor Pedet segera meninggalkan Pulau Gag menuju Lanud Ambon. Di perjalanan mereka sempat dikejar Pesawat Neptune Belanda, namun pesawat dan seluruh kru bisa mendarat dengan selamat.