Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pesan dan Nasehat Bung Karno untuk Prajurit PETA Blitar Sebelum Pemberontakan

Pesan dan Nasehat Bung Karno untuk Prajurit PETA Blitar Sebelum Pemberontakan PETA. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Menjelang terjadinya pemberontakan di Blitar, Soeprijadi sempat diperingatkan secara langsung oleh Soekarno.

Penulis: Hendi Jo

Kendati pada 3 Oktober 1943, PETA (Pembela Tanah Air) telah dibentuk dan disebut-sebut akan menjadi mitra hebat tentara Jepang dalam menghadapi Sekutu, namun tak otomatis mereka lepas dari perlakuan diskriminatif para prajurit dan perwira Jepang. Dalam otobiografinya , Soegih Arto eks anggota PETA, memaparkan bentuk diskriminasi tersebut.

"Pada umumnya bintara Jepang tidak mau memberi hormat kepada perwira PETA," ungkap Soegih Arto dalam Pengalaman Pribadi Letnan Jenderal (Purnawirawan) Soegih Arto.

Itu mungkin masih ringan. Tak jarang malah para tentara Jepang mencari-cari kesalahan anggota PETA hingga bisa dihukum seenak mereka. Hinaan dan makian pun selalu menjadi bagian dari kegiatan pendidikan yang diterima oleh para pemuda bumiputera. Sehingga tak jarang menimbulkan konflik.

Tekanan batin juga harus dirasakan para anggota PETA secara eksternal. Terlebih ketika melihat kehidupan rakyat yang menderita di bawah penguasaan militer Jepang. Maraknya perempuan yang dipaksa menjadi jugun anfu, lelaki muda menjadi romusha dan padi-padi terbaik dirampas demi keperluan tentara Jepang, itu semua menjadi pemicu terjadinya aksi pembangkangan.

Sukarno Mengetahui Rencana Pemberontakan

Salah satu contoh paling terkenal dari pembangkangan adalah peristiwa pemberontakan anggota PETA di Blitar, Jawa Timur. Pada 14 Februari 1945, kota Blitar pernah dikejutkan dengan kejadian yang menghebohkan.

Sepasukan prajurit PETA pimpinan Shodanco Soeprijadi, Shodanco Muradi dan Shodanco Sunanto melakukan perlawanan terhadap militer Jepang. Selain perilaku diskriminasi dari prajurit-prajurit Jepang, pemberontakan dipicu juga oleh kemarahan para anggota PETA terhadap pihak militer Jepang yang kerap membuat penderitaan terhadap rakyat.

Kendati gagal, namun tidak dapat dipungkiri jika pemberontakan tersebut sempat membuat penguasa militer Jepang ketar-ketir. Itu terbukti saat mereka melakukan penumpasan, seluruh kekuatan militer Jepang di Blitar dikerahkan, bahkan juga melibatkan unsur-unsur kavaleri dan infanteri dari wilayah lain.

"Tentara Jepang sama sekali tidak menyangka, para pemuda Indonesia yang tergabung dalam PETA memiliki nyali untuk melawan mereka…" ungkap Purbo S. Suwondo, eks anggota PETA.

Namun tidak banyak orang tahu bahwa pemberontakan itu terjadi dengan sepengetahuan Sukarno. Hal itu diakui sendiri oleh Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Menurut Sukarno, seharusnya dirinya pun terkena imbas dari pemberontakan itu karena dirinya sendiri tersangkut paut.

"Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar…" ujar Sukarno seperti dikutip oleh penulis Cindy Adams.

Dikisahkan beberapa minggu sebelum meletusnya perlawanan, datanglah Soeprijadi, Muradi dan Sunanto menemui Sukarno yang saat itu sedang pulang ke rumah orangtuanya. Dalam wajah serius dan suara agak berbisik, ketiga perwira PETA itu mengemukakan niat mereka untuk melakukan pemberontakan. Sukarno tentu saja terkejut.

"Pertimbangkanlah masak-masak untung ruginya, saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan yang demikian itu tidak hanya dari satu segi saja," ujar Sukarno.

"Kita akan berhasil!" jawab Soeprijadi, yang merupakan pimpinan tertinggi dalam rencana itu.

"Saya berpendapat bahwa saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang," ucap Sukarno.

"Kita akan berhasil!" Soeprijadi tetap bersikukuh dan berupaya meyakinkan Sukarno.

Peringatan Keras Sukarno

Menurut Tommy Darmadi (saudara dari Soeprijadi), dalam kesempatan itu Bung Karno juga menyatakan bahwa sejatinya Soeprijadi dan kawan-kawan adalah cikal bakal para pemimpin ketentaraan Republik Indonesia yang sudah merdeka.

Si Bung juga mengingatkan agar mereka bercermin kepada insiden yang baru saja terjadi di Manchuria, ketika satu kompi tentara Jepang yang sudah gerah terhadap perilaku rekan-rekannya melakukan pemberontakan dan ditindas secara kejam.

"Kalau sekiranya saudara-saudara gagal dalam usaha ini, hendaklah sudah siap memikul akibatnya. Jepang akan menembak saudara-saudara semua!" kata Sukarno.

"Apakah Bung tidak bisa membela kami?!" tanya Soeprijadi.

"Tidak. Saudara anggota tentara, bukan orang preman. Dalam hukum militer, hukumanmu otomatis…" jawab Sukarno.

Dan apa yang dikatakan Sukarno memang benar adanya. Ketika dalam kenyataannya pemberontakan itu gagal maka pihak Jepang menghukum sekeras-kerasnya para pelaku. Dari 421 anggota PETA Blitar yang terlibat maka 78 diantaranya langsung dihukum berat. Termasuk Muradi dan Sunanto yang dijatuhi hukuman mati pada 16 April 1945.

Soeprijadi sendiri hingga kini masih tak jelas rimbanya. Beberapa kalangan meyakini bahwa sesungguhnya begitu pemberontakan berhasil dipadamkan, dia langsung ditangkap dan dihukum mati di suatu tempat yang dirahasiakan. Namun versi-versi lain pun banyak bertebaran di kalangan masyarakat dan menunggu penelusuran yang lebih serius dari para sejarawan.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP