Perlawanan Petani Kopi dan Kisah Terbunuhnya Bupati Cianjur Ketiga

Kamis, 26 Mei 2022 05:06 Reporter : Merdeka
Perlawanan Petani Kopi dan Kisah Terbunuhnya Bupati Cianjur Ketiga Alun-alun Cianjur di era kolonial, tempat terbunuhnya seorang petani kopi yang marah dan membunuh Ar. KITLV©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Berbeda dengan versi lokal, sumber-sumber sejarah Belanda menyebut tewasnya Aria Wiratanu Datar III terkait bisnis kopi.

Penulis: Hendi Jo

Jika Anda pergi ke Cianjur, datangilah Komplek Pemakaman Dalem-Dalem Cianjur di kawasan Pamoyanan. Di sana Anda akan menemukan sebuah makam berukuran besar dengan tulisan tertera di nisannya: Raden Kanjeng Dalem Arya Wiratanu Datar IV (Dalem Dicondre).

"Sebenarnya bukan Arya Wiratanu Datar IV, tapi Arya Wiratanu Datar III," ungkap Pepet Johar, salah seorang tokoh masyarakat Cianjur.

Penjelasan Pepet memang sesuai dengan keterangan para sejarawan. Bayu Surianingrat dalam buku berbahasa Sunda, Sejarah Cianjur sareng Raden Aria Wira Tanu Dalem Cikundul Cianjur menyebut hal yang sama.

Aria Wiratanu Datar III memiliki nama lahir Raden Astramanggala. Dia merupakan putra sulung (dari 14 anak) Aria Wiratanu Datar II. Raden Astaramanggala naik tahta menggantikan sang ayah pada 1707.

"Pada era pemerintahan Aria Wiratanu III, ibu kota Kabupaten Cianjur dipindahkan dari Pamoyanan ke Kampung Cianjur," ungkap Reiza D. Dienaputra dalam Cianjur: Antara Priangan dan Buitenzorg.

2 dari 3 halaman

Juragan Kopi Terbesar

Selain ganteng dan flamboyan, Arya Wiratanu Datar III juga dikenal sebagai seorang pebisnis kopi yang ulung. Para pejabat VOC (Maskapai Perdagangan Hindia Timur) sangat senang berbisnis dengannya, karena selain setia, Arya Wiratanu Datar III pun bisa menyediakan komoditas kopi sesuai permintaan. Begitu puasnya VOC hingga dua gubernur jenderal VOC yakni Christoffel van Swol (1713--1718) dan Hendrick Zwaardecroon (1718--1725) menghadiahinya wilayah-wilayah baru: Distrik Jampang dan Distrik Sagara Kidul.

"Dia pun mendapat gelar bekende grooten koffi leverancier (distributor besar kopi yang termasyhur)," tulis Otto van Ress dalam Overzigt van de Geschhiedenis der-Pranger Regentschappen (Sejarah Para Bupati Priangan).

Citra hebat Arya Wiratanu Datar III di mata VOC ternyata tidak berbanding lurus dengan pendapat rakyatnya. Terutama yang berprofesi sebagai petani kopi. Sang bupati yang memiliki hobi berburu menjangan dan perempuan itu, justru diam-diam dimusuhi oleh para petani kopi.

"Dalam praktiknya, VOC bekerja sama dengan bangsawan lokal (menak dan sentana) untuk menekan massa di bawah," tulis Jan Breman dalam Keuntungan Kolonial dalam Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870.

Dalam menjalankan bisnis kopinya, Aria Wiratanu III juga dinilai tidak jujur oleh rakyatnya. Tanpa melihat penderitaan para rakyat, tanpa sungkan dia mengambil laba yang terlalu banyak dari para petani.

Menurut sejarawan Gunawan Yusuf, harga kopi perpikul yang disepakati adalah 17.50 ringgit. Namun nyatanya, Aria Wiratanu Datar III hanya membayar 12.50 ringgit perpikul. Uang 5 ringgit yang seharusnya menjadi hak para petani kopi itu malah masuk ke kantong pribadinya.

"Karena soal itulah, rakyat lantas tidak puas...," tulis Gunawan Yusuf dalam Sejarah Cianjur Bagian ke-7.

Protes dan pengaduan dilontarkan. Namun itu semua tidak mengubah perilaku sang juragan kopi. Aria Wiratanu Datar III tetap bergeming. Terlebih VOC pun mendukung secara penuh setiap tindak-tanduk bisnisnya.

3 dari 3 halaman

Dibunuh dengan Condre

Kebencian rakyat menjadi api dalam sekam. Itu mencapai puncaknya pada 1726, ketika pada suatu senja, seorang penyusup berhasil memasuki pendopo kabupaten Cianjur. Setelah berhasil menemukan Aria Wiratanu Datar III yang tengah bersantai di kastil, secepat kilat dia menancapkan sebilah condre (pisau kecil yang biasa difungsikan sebagai konde rambut) ke lambung sang bupati.

Mendengar teriakan majikannya, para pengawal tak tinggal diam. Lantas terjadilah perkelahian seru yang berakhir dengan terbunuhnya sang penyusup. Namun akibat luka tiga tusukan di lambungnya, Aria Wiratanu Datar III sendiri mengalami luka parah dan beberapa jam kemudian (tepatnya setelah magrib), dia menghembuskan napasnya yang terakhir. Demikian dikisahkan oleh sejarawan Gunawan Yusuf.

Menurut Jan Breman, terbunuhnya Aria Wiratanu Datar III secara tidak langsung terjadi karena adanya keputusan VOC. Pada tahun itu, VOC yang sudah mulai dililit masalah keuangan, menurunkan secara drastis harga beli kopi dari 21 rijksdaalder (ringgit) menjadi hanya 5 rijksdaalder.

"Penghematan itu memancing perlawanan petani," ungkap Breman.

Tidak cukup membunuh Aria Wiratanu Datar III, para petani pun secara massif melakukan aksi perusakan tanaman kopi. Tindakan itu dilakukan tentu saja sebagai bentuk protes mereka secara langsung kepada pihak kompeni.

Tidak jelas benar, apakah selanjutnya pemberontakan kaum petani itu cepat ditumpas. Yang jelas usai insiden pembunuhan tersebut, para bupati di Priangan menggunakan cara-cara yang lebih keras untuk mengerahkan penduduk dalam proses penanaman kopi. Para petani kopi di Cianjur pun mengalami kerugian total.

Namun kerugian di kalangan rakyat tetap saja tidak berbanding lurus dengan kerugian di kalangan para bupati dan VOC. Menurut sejarawan Saleh Danasasmita dalam Sejarah Bogor Bagian I, dalam kenyatannya, dari perdagangan kopi tersebut kas keuangan para pebisnis Belanda tetap mendapat laba besar bahkan hingga masa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808—1811). Begitu juga dengan kondisi para bupati.

"Pada waktu meninggal, Bupati Cianjur (Aria Wiratanu Datar III) masih berhak mendapat 26.000 ringgit gulden berikut bunga atas jumlah itu," ungkap Breman.

Tidak aneh jika kemudian bisnis kopi tetap dipegang oleh dinasti bupati Cianjur hingga masa-masa bangkrutnya bisnis kopi di tahun 1900-an, seperti disebutkan oleh R.A.A. Kusumahningrat dalam karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inlandsche Verhalen van den Regent van Tjiandjoer (1857).

[noe]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini