Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Para 'Jago' di Era Revolusi: Gerombolan Pak Macan hingga Kelompok Soma

Mengenal Para 'Jago' di Era Revolusi: Gerombolan Pak Macan hingga Kelompok Soma Salah satu kelompok jago di Karawang pada era revolusi. Arsip Nasional Belanda©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Kevakuman politik pasca proklamasi menyebabkan kelompok-kelompok bersenjata tumbuh bak jamur di musim hujan. Sebagian besar tak ingin diatur pemerintah.

Penulis: Hendi Jo

Pasca proklamasi 17 Agustus 1945, di berbagai pelosok bermunculan kelompok bersenjata. Selain berafiliasi ke partai politik, milisi-milisi itu juga berpatron kepada para jago yang hidup layaknya seorang warlord.

Menurut peneliti sejarah Indonesia John R.W. Smail, sejatinya istilah 'jago' diambil dari 'ayam jago'. Kata itu mengacu kepada karakteristik seorang lelaki yang senang berkoar, garang dan bersenjatakan golok.

"Haruslah dipahami bahwa jago tidak lebih dari sekadar penjahat pedesaan, sejenis dengan bandit di Eropa," ungkap Smail dalam Bandung in the Early Revolution, 1945-1946 (diterjemahkan menjadi Bandung Awal Revolusi, 1945-1946).

Pak Macan Jagoan Dunia Hitam

Namun kelompok jago adalah institusi sosial yang diakui, kendati menyimpang. Mereka memiliki mitos-mitos yang dapat dibuktikan kebenarannya, misteri yang diyakini secara kolektif dan para pemimpin kharismatik. Meskipun cakupannya terbatas. Semua itu memang sengaja diciptakan sebagai alat teror guna menuntut ketaatan dan penciptaan situasi eksploitatif terhadap rakyat.

"Kasus-kasus seperti itu juga terjadi di Bandung, Cimahi dan Padalarang," ungkap Smail.

Umumnya para jago juga memiliki hubungan baik dan simbiotik dengan milisi yang disebut laskar. Itu istilah kelompok bersenjata yang berkekuatan besar dan memiliki afiliasi ke organ politik tertentu, seperti Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan LRDR (Lasykar Rakjat Djawa Barat).

Saat itu, di Cibarusa, perbatasan Bekasi-Cianjur, muncul seorang jagoan bernama Pak Macan. Begitu pula di Karawang ada figur Camat Nata dan Pak Bubar, dua tokoh dunia hitam yang karena kebutuhan revolusi 'terpaksa' diangkat sebagai pejabat pemerintahan (camat dan bupati).

"Malah Pak Macan dilantik sebagai kepala keamanan di Cibarusa oleh Presiden Sukarno sendiri saat dia sedang berkampanye melewati wilayah itu pada akhir 1945," ungkap sejarawan Robert B. Cribb.

Gerombolan Soma

Pada Desember 1945, tersebutlah seorang jago bernama Soma. Dia mengangkat dirinya sebagai camat setelah merebut kekuasaan dari seorang pamongparaja di Cisarua, sebuah kawasan perbukitan yang terletak di di utara Cimahi. Setelah berkuasa, Soma menyebarkan rumor bahwa dirinya ada untuk membagikan kekayaan para hartawan kepada rakyat.

Gerombolan Soma kemudian merajalela sedikit ke barat. Di Padalarang, mereka mengambilalih suatu pusat misionari Katholik untuk dijadikan markas besar dan menciptakan sejenis 'republik jago' di kawasan tersebut.

Demi menghindari para jago itu, para pamongpraja yang sebelumnya berkuasa terpaksa menyingkir ke kota. Kekosongan politik di tingkat kecamatan dan desa itu langsung diisi oleh para jago binaan Soma.

Kentalnya suasana anti pamongpraja yang dianggap hanya sebagai bekas begundal Jepang memunculkan suatu bentuk kekuasaan yang lebih 'anti feodal dan merakyat serta revolusiener'. Euforia itu terasa konkret jika melihat penampilan para kepala desa yang jauh berbeda dengan di masa kekuasaan Jepang dan Hindia Belanda.

Operasi Musnahkan Para Jagoan

Seorang bekas pamongpraja yang diangkat sebagai camat, secara radikal mengubah penampilannya menjadi lebih 'revolusiener': santai, berambut gondrong dan kerap membawa sepucuk pistol ke mana-mana. Hal itu wajib dia lakukan, karena jika masih mempertahankan 'Kesantunan kaum priyayi', dia tidak bisa bertindak lugas bahkan akan segera dilibas.

"Hanya dengan bergaya seperti itulah, dia dapat memelihara keteraturan sosial," ungkap Smail.

Karena dinilai semena-mena dan tak mau ikut aturan pemerintah, para pejabat Republik yang berkuasa di kota-kota pada akhirnya merasa gerah dengan kehadiran mereka. Maka segeralah diterbitkan berbagai operasi militer untuk memusnahkan para jago tersebut.

Karawang dan Bekasi adalah dua wilayah yang kali pertama dibersihkan. Pada awal 1946, TKR meluncurkan operasi militer di Cibarusa (republik jago di kawasan perbatasan Cianjur-Bekasi) guna melibas Pak Macan dan gerombolannya.

"Pak Macan sendiri mencoba kabur dari operasi yang keras itu, namun penasihat politiknya dari API (Manaf Roni) terbunuh dalam pertempuran," ungkap Cribb dalam Gangsters and Revolutionaries.

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP