Pejuang dari Cianjur (1)

Kisah Asmin Sucipta, Pejuang dari Cianjur

Selasa, 12 Oktober 2021 06:06 Reporter : Merdeka
Kisah Asmin Sucipta, Pejuang dari Cianjur Jalan Adi Sucipta di Cianjur yang ditabalkan kepada seorang pejuang bernama Asmin Sucipta. ©2021 Helmy Adam

Merdeka.com - Bagaimana seorang guru harus menjadi pejuang yang tangguh di awal revolusi melanda Indonesia.

Penulis: Hendi Jo

RUAS jalan di tengah kota Cianjur itu jaraknya sangat pendek. Jika dihitung bisa jadi hanya 500 meter saja. Tertera di plang: Jalan Adi Sucipta, sebuah nama yang tak pernah diketahui secara jelas hingga kini oleh sebagian besar masyarakat di sana. Kalaupun ada yang melek sejarah, dia akan menabalkannya dengan nama seorang tokoh pembangun TNI-AU.

Nama "Adi Sucipta" sejatinya milik seorang pejuang Cianjur bernama Asmin Sucipta. Menurut Rakhmat Purawinata (64), kesimpangsiuran itu berawal dari keteledoran orang-orang di Dinas Perhubungan Kabupaten Cianjur pada era 1990-an.

"Tadinya memang namanya Jalan Asmin Sucipta, lama-lama disingkat menjadi Jalan A.Sucipta, lalu entah dari mana sumbernya mereka kemudian menulisnya jadi Jalan Adi Sucipta hingga sekarang," ujar anggota DPRD II Kabupaten Cianjur era 1990-an itu.

Siapakah sebenarnya Asmin Sucipta?

Dari arsip-arsip Belanda bertahun 1948, koran-koran menyebutnya sebagai "terroristen van Tjiandjoer". Sebagai contoh harian Haarlems Daagblaad, 18 Agustus 1948 yang mengabarkan suatu berita dari tanah Jawa: tiga anggota kelompok Bamboe Roentjing, masing-masing bernama Soetjipta, Satibi dan Oemang, telah divonis mati oleh Pengadilan Sipil Hindia Belanda di Bogor. Vonis yang jatuh pada 17 Agustus 1948 itu, telah dijatuhkan berdasarkan aksi kriminal yang telah dilakukan oleh ketiganya di wilayah Cianjur selama 1947—1948.

"Mereka bertiga telah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai kaki tangan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda), secara langsung maupun tidak langsung," tulis media yang berpusat di Haarlem, Belanda itu.

Tentu saja orang Cianjur seperti Rakmat Purawinata akan menolak keras julukan itu. Alih-alih menyebutnya sebagai "teroris", mereka justru menabalkan Asmin Sucipta sebagai pahlawan. Acuannya: numutkeun carita ti para sepuh (menurut cerita dari para sesepuh).

"Ayah saya sendiri yang bernama Purawinata adalah kawan seperjuangan beliau ketika melawan Belanda di Cianjur," ungkap Rakhmat.

Asmin Sucipta sejatinya bukan orang asli orang Cianjur. Dia merupakan perantau yang berasal dari Rangkasbitung, Banten. Sekira tahun 1940, Cipta (nama panggilan akrab Asmin Sucipta) datang ke Cianjur sebagai seorang guru di Landbouwschool (sekolah pertanian setingkat SMP) Bojongkoneng. Sehari-hari dia tinggal di Desa Cisarandi (sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Warungkondang).

"Di tengah kesibukannya sebagai seorang guru, ayah saya bersahabat dengan Muhammad To’ib Zamzami, Lurah Desa Cisarandi," ungkap Mahkun Cipta Subagyo (75).

Begitu lekatnya persahabatan tersebut, hingga Cipta yang berstatus sebagai duda itu kemudian dinikahkan oleh To’ib dengan putrinya Siti Aisyah. Dari pernikahan itu, lahirlah Mahkun pada 1946.

Sebagai menantu lurah Cisarandi, Cipta sangat dihormati oleh para masyarakat setempat. Selain memiliki kharisma seorang pemimpin, dia pun dikenal ahli bermain pencaksilat dan memiliki ilmu kanuragaan yang lumayan tinggi. Tidak heran jika kemudian Cipta diangkat sebagai pimpinan keamanan Desa Cisarandi.

Tahun 1945-1946, jalan raya di mulut Desa Cisarandi kerap dilewati oleh konvoi "pasukan ubel-ubel". Itu nama julukan penduduk setempat untuk para serdadu Inggris dari kesatuan Jats, Rajputana dan Patiala yang berkebangsaan India. Rupanya, saat melewati Cisarandi itulah, para prajurit ubel-ubel sering bertindak semena-mena: mengganggu gadis-gadis desa dan merampok harta benda penduduk Cisarandi.

Sebagai pupuhu (pemimpin), Lurah To’ib merasa marah dan terhina dengan adanya gangguan tersebut. Dia lantas menugaskan Cipta untuk mengadakan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan pasukan Inggris itu.

"Cipta, Abah tidak tahu bagaimana caranya, kamu pokoknya harus mendapatkan bedil ya?" kata Lurah To’ib

"Buat apa, Bah?" Asmin malah balik bertanya.

"Buat nembakin itu tentara ubel-ubel. Abah sudah tidak tahan dengan perilaku mereka kepada rakyat kita."

"Mangga, Bah! Tiasa!"

Pagi-pagi sekali Cipta sudah berangkat ke Cianjur kota. Dengan ditemani seorang pemuda desa mereka berjalan kaki menyusuri rel kereta api. Sampai di Simpang Tiga, dekat Kampung Tangsi (sekarang menjadi Jalan Adi Sucipta), dia berpapasan dengan beberapa serdadu Inggris.

Dalam gerakan kilat, Cipta membekuk salah seorang prajurit yang berjalan paling belakang. Setelah melumpuhkannya lalu dia merampas senapan Lee Enfield milik prajurit itu lalu kabur ke arah Sungai Cianjur.

Tentu saja para serdadu Inggris tak membiarkan Cipta dan kawannya lolos begitu saja. Mereka kemudian memburu keduanya sambil menembakkan senjata. Entah bagaimana, timah panas itu tak satu pun yang mengenai tubuh kedua buronan tersebut. Alih-alih tertembak, mereka malah berhasil menceburkan diri ke Sungai Cianjur.

Satu senapan berhasil dirampas. Senjata itulah yang kemudian menjadi modal awal perjuangan Cipta dan para pemuda Cisarandi dalam menghadapi tentara Inggris dan Belanda. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini