Sejarah yang terlupakan di balik Monumen Pahlawan TRIP Malang

Selasa, 10 November 2015 11:00 Reporter : Tantri Setyorini
Sejarah yang terlupakan di balik Monumen Pahlawan TRIP Malang Makam dan Monumen Pahlawan TRIP, Malang. ©2015 Merdeka.com/Tantri Setyorini

Merdeka.com - Pahlawan TRIP, ruas jalan yang berseberangan dengan Jalan Ijen, Malang memang unik. Terletak di kawasan yang setiap jalannya diberi nama sesuai gunung-gunung di nusantara, jalan yang satu ini justru memiliki nama yang berbeda. Pasalnya Jalan Pahlawan TRIP memang menyimpan sejarah tersendiri bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Sebuah monumen sederhana menjulang di pangkal jalan. Tugu peringatan tersebut menggambarkan sosok dua pemuda dengan seragam tentara tengah berdiri sambil menenteng senjata. Inilah sosok para pahlawan TRIP yang gugur karena berjuang mempertahankan kota Malang dari pada masa Agresi Militer Belanda di tahun 1947.

Kelompok tentara pelajar dan pemuda meregang nyawa di daerah tersebut, sehingga jalan yang tadinya bernama Salak kemudian diganti menjadi Jalan Pahlawan TRIP.

Kuburan massal Pahlawan TRIP

Beberapa meter dari patung Pahlawan TRIP terdapat situs makam yang menyimpan jasad tentara TRIP. Kuburan sederhana ini berupa petak berukuran besar yang ditandai dengan satu nisan putih.

Di sebelahnya terdapat plakat bertuliskan nama 35 tentara pelajar yang gugur dan dimakamkan di dalamnya.



Tak banyak warga Malang yang menyadari keberadaan kuburan massal ini. Pasalnya pemakaman ini tertutup pagar dan jarang dibuka untuk umum.

Namun menjelang Hari Pahlawan atau Hari Kemerdekaan dibuka bagi para peziarah yang bermaksud mendoakan jiwa para pahlawan tersebut.

Pertempuran sengit demi pertahankan kota

Peristiwa gugurnya pahlawan TRIP terjadi pada masa Agresi Militer I. Menurut buku 40 Tahun Kota Malang, kala itu Belanda menjalankan aksi militer pertama pada tanggal 22 Juli 1947. Aksi ini yang disebut clash pertama. Sebelum memasuki Malang, tentara Belanda sengaja menghambat jalur logistik dan lalu lintas.

Upaya pelumpuhan kota ini ditanggapi dengan perlawanan sengit, namun hasilnya jauh dari maksimal karena persenjataan yang minim. Sebagai langkah terakhir, para pejuang membumihanguskan gedung-gedung strategis agar tak bisa diduduki Belanda.

Puncak pertempuran antara para pejuang Malang dan Belanda terjadi pada 31 Juli 1947. Tentara musuh akhirnya berhasil menguasai kota Malang. Namun hanya pusat kota dan jalan-jalan protokol saja yang berada dalam pantauan musuh. Pasukan gerilya masih menguasai kantong-kantong pertahanan yang tersebar di berbagai penjuru, sehingga memungkinkan penyerangan tiba-tiba di malam hari.

Setelah menguasai kota Malang selama beberapa hari, terjadi konflik bersenjata antara tentara Belanda dengan tentara pemuda dan anggota laskar-laskar yang tergabung dalam Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).



Pertempuran yang berpusat di Jalan Salak itu menewaskan 35 anggota TRIP. Jasad mereka kemudian dimakamkan dalam satu kuburan massal. [tsr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini