Sama-Sama Penerus Kerajaan Islam Mataram, Ini Beda Kraton Jogja dan Solo

Jumat, 15 November 2019 16:31 Reporter : Siwi Nur Wakhidah
Sama-Sama Penerus Kerajaan Islam Mataram, Ini Beda Kraton Jogja dan Solo Kraton Jogja dan Solo. ©2019 Merdeka.com/Shutterstock

Merdeka.com - Solo dan Jogja merupakan dua daerah di Indonesia yang dikenal kental dengan kebudayaan dan adat Jawa. Ada dua kerajaan besar di dua daerah ini, Kraton Kasunanan Surakarta di Solo dan Kraton Kasultanan Yogyakarta di Jogja.

Dua kraton ini berasal dari akar keturunan yang sama, yakni Kerajaan Mataram Islam. Tak heran kalau ada banyak kesamaan di kedua kraton, mulai dari budaya, adat dan peninggalannya. Walau begitu, keduanya memiliki ciri khas pembeda tersendiri.

Setelah perjanjian Giyanti tahun 1755, Kerajaan Mataram Islam yang saat itu berpusat di Surakarta, terpecah menjadi dua. Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Sunan Pakubuwono III, sementara kraton baru, Kasultanan Yogyakarta dipimpin Pangeran Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwono I.

Perpecahan ini tidak hanya soal wilayah dan batas-batasnya saja, tapi juga berpengaruh pada beberapa aspek lain. Misalnya dari segi arsitektur, pakaian adat, hingga kesenian. Berikut perbedaan mendasar Kraton Jogja dan Solo:

1 dari 4 halaman

1. Sejarah Dua Kraton dari Kerajaan Mataram Islam

Jauh sebelum terpecah belah, Kerajaan Mataram Islam pertama kali didirikan oleh Ki Ageng Pemanahan bersama anaknya, Panembahan Senopati di Kotagede. Kerajaan yang diberi nama Mataram Islam ini, berdiri di atas tanah hadiah dari Raja Pajang.

Seiring berjalannya waktu, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam terus berpindah. Tahun 1575-1601, pusat kraton ada di Kotagede, lalu berpindah ke Kerto di masa kepemimpinan Sultan Agung.

Dari Kerto berpindah ke Pleret di masa pemerintahan anak Sultan Agung, yang kemudian bergelar Amangkurat I. Di masa ini, Mataram Islam mengalami pemberontakan dari Trunojoyo yang membuat istana kerajaan hancur tak berbekas. Kemudian pusat kerajaan dipindah ke Kartasura dan berakhir di Surakarta, atau Solo.

2 dari 4 halaman

2. Perjanjian Giyanti, Awal Terpecahnya Mataram Islam

Shutterstock

Tak lama setelah Kerajaan Mataram Islam dipindah ke Surakarta, terjadi perselisihan kedudukan antara keluarga kerajaan. Atas ikut campur kolonial, akhirnya Kerajaan Mataram Islam terpecah menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta.

Perjanjian Giyanti dilaksanakan pada Februari 1755 di Desa Giyanti. Dari kesepakatan itu, Pangeran Mangkubumi diberi wilayah baru untuk mendirikan kerajaan. Dan, lahirlah Kraton Kasultanan Yogyakarta.

Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I, ingin membuat ciri khas Yogyakarta sendiri. Ciri khas ini dibuat untuk membedakan antara Jogja dengan Solo. Mulai dari gaya arsitektur hingga bagian-bagian kraton.

3 dari 4 halaman

3. Arsitektur dan Konsep Bangunan Kraton Solo

Shutterstock

Dilihat dari segi usia bangunan, Kraton Surakarta di Solo memang lebih tua. Mengikuti konsep Catur Gatra Tunggal yang sudah ada sejak awal berdirinya Kerajaan Islam, Kraton Surakarta terdiri dari Kraton (tempat tinggal raja dan pusat pemerintahan), Masjid (tempat raja dan rakyat beribadah), Pasar (pusat ekonomi), dan Alun-alun (pusat hiburan rakyat).

Pembangunan awal Kraton Solo dimulai tahun 1744, dan dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi. Mulanya, bangunan dan gaya arsitektur Kraton Solo tak jauh berbeda dengan bangunan di Kraton Jogja sekarang. Namun, di masa Pakubuwono X, terjadi restorasi besar-besaran.

Restorasi ini membuat bangunan kraton menjadi bernuansa putih dan biru. Gaya arsitekturnya memadukan gaya Jawa dan Eropa. Tak heran, sampai sekarang masih banyak patung dan kereta kencana di Kraton Solo yang bernuansa Eropa.

4 dari 4 halaman

4. Arsitektur dan Konsep Bangunan Kraton Jogja

Begitu diberi wilayah untuk membangun kerajaan sendiri, Pangeran Mangkubumi turun langsung dalam pembangunan Kraton Jogja. Pangeran Mangkubumi dibantu oleh ilmuwan Belanda Theodoor Gautier dan Lucien Adam menjadi arsitek Kraton Jogja.

Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono I, memadukan gaya arsitektur Jawa-Eropa-Tingkok. Sedangkan untuk lanskap dan konsep tata ruangnya, tak jauh berbeda dengan Kraton Solo, yang dulu pernah ia bangun.

Kalau Kraton Solo menggunakan filosofi 'Kori' untuk menyebut gapura, Kraton Jogja tidak menggunakan filosofi itu. Satu lagi yang membedakan bangunan Kraton Jogja dengan Solo, ialah Taman Sari. Dulunya, Taman Sari dijadikan tempat rekreasi keluarga kerajaan, dan tidak dimiliki di Kraton Solo.

Selain itu, masih banyak lagi perbedaan antara Kraton Jogja dan Solo, baik dari segi bahasa, pakaian adat, kesenian tari, gamelan, hingga kerisnya.


Sumber: Karaton Surakarta dan Kraton Jogja

[snw]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini