Pasangan selebriti Luna Maya dan Maxime Bouttier resmi menikah pada Rabu, 7 Mei 2025 di Bali. Namun, sebelum prosesi ijab kabul berlangsung, keduanya menjalani serangkaian ritual adat penuh makna, salah satunya adalah melukat—tradisi pembersihan jiwa yang dilakukan sehari sebelum pernikahan.
Ritual ini bukan sekadar seremoni. Melukat menjadi salah satu cara Luna dan Maxime untuk menyucikan diri mereka secara spiritual sebelum memasuki babak baru dalam kehidupan. Momen ini dibagikan melalui akun TikTok @luna_bouttier dan disambut hangat oleh publik.
Advertisement
Apa Itu Melukat? Tradisi Suci dari Bali
@luna_bouttier #lunamaya #maximebottier #LunadicintaiMAXIMal #MoonToTheMax ♬ suara asli - Luna Bouttier 🧚🏼
Melukat berasal dari kata sulukat—su berarti baik dan lukat berarti penyucian. Upacara ini merupakan salah satu ritual dalam ajaran Hindu Bali yang bertujuan untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari energi negatif. Melalui air sebagai media, manusia dipulihkan agar kembali selaras dengan semesta.
Biasanya, prosesi melukat dilakukan di tempat-tempat sakral seperti pura, sungai, atau pancuran air yang dianggap memiliki kekuatan spiritual. Salah satu tempat yang paling populer adalah Pura Tirta Empul di Gianyar, Bali.
Dalam pelaksanaannya, ritual ini dipimpin oleh seorang pemangku (pemuka adat). Orang yang diupacarai akan disiram air suci sambil dibacakan mantra-mantra. Air yang digunakan berasal dari sumber mata air murni, air kelapa gading, atau air laut.
Advertisement
Jenis-jenis Melukat: Tak Sekadar Tradisi, Tapi Penuh Tujuan
Dalam tradisi Hindu Bali, melukat memiliki banyak jenis, tergantung dari tujuan dan waktunya. Misalnya:
- Melukat Semarabeda, dilakukan menjelang pawiwahan (pernikahan), bertujuan menyucikan calon pengantin dari noda dan energi negatif yang melekat.
- Melukat Astupungku, untuk menyelaraskan energi dalam diri manusia berdasarkan Tri Guna (Satwam, Rajas, Tamas).
- Melukat Gni Ngelayang, dilakukan untuk mengobati penyakit spiritual.
- Melukat Nawa Ratna, sering dilakukan oleh pemimpin atau tokoh masyarakat untuk memohon kemakmuran dan kejayaan.
Dalam konteks Luna dan Maxime, prosesi yang mereka lakukan termasuk dalam kategori Melukat Semarabeda, yang memang diperuntukkan bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan.
Advertisement
Kain Batik Penuh Makna: Penghormatan pada Orang Tua Tercinta
@luna_bouttier #lunamaya #maximebottier #LunadicintaiMAXIMal #MoonToTheMax ♬ suara asli - Luna Bouttier 🧚🏼
Hal paling menarik dari prosesi melukat pasangan ini adalah kain batik yang mereka kenakan. Tak sembarang kain, batik ini dirancang khusus oleh Denyut Semesta, label milik aktris Asri Welas.
Kain milik Maxime bercorak wajah mendiang ibunya dan dirinya saat masih kecil. Sementara kain milik Luna menampilkan lukisan wajah sang ayah, almarhum Uut Bambang Sugeng.
Bagi Luna dan Maxime, kain batik tersebut bukan sekadar busana upacara, tapi juga simbol penghormatan dan pengingat akan sosok orang tua yang sudah tiada namun tetap hadir secara spiritual dalam momen bahagia mereka.
Momen saat keduanya mengenakan kain tersebut—Maxime dibantu seorang pria, dan Luna oleh seorang perempuan—tampak sangat sakral dan menyentuh.
Advertisement
Melukat dan Tren Wisata Religi: Antara Spiritualitas dan Gaya Hidup
Dalam beberapa tahun terakhir, melukat telah menjadi bagian dari tren wisata religi di Bali. Tak hanya warga lokal, banyak wisatawan mancanegara bahkan selebriti dunia yang datang ke Bali untuk merasakan pengalaman spiritual ini. Dari healing pribadi, pemulihan batin, hingga sekadar konten Instagramable, melukat kini menjangkau berbagai kalangan.
Profesor I Gde Pitana, Guru Besar Ilmu Pariwisata dari Universitas Udayana, menyatakan bahwa melukat bisa dilihat dari dua sisi: sebagai praktik keagamaan umat Hindu, dan juga sebagai spiritual tourism yang bisa diakses oleh siapa pun, lintas agama maupun budaya.
Hal ini juga sejalan dengan dorongan pemerintah untuk mengembangkan wisata religi sebagai andalan baru pariwisata nasional. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, kala masih menjabat bahkan menyebutkan bahwa toleransi beragama di Bali menjadi modal kuat untuk membuka lebih banyak peluang wisata spiritual.
“R20 ini suatu sejarah baru terukir di mana Indonesia menunjukkan toleransi beragama kita dan (lokasinya) ada di Bali,” ujar Sandiaga dalam satu kesempatan pada 2022 lalu.
Advertisement
Makna Mendalam bagi Luna dan Maxime
Melalui ritual melukat ini, Luna Maya dan Maxime Bouttier tak hanya memperlihatkan sisi spiritual mereka, tetapi juga penghormatan terhadap budaya lokal dan nilai kekeluargaan. Kain batik bergambar orang tua mereka seolah menjadi jembatan emosional dalam menyongsong hidup baru sebagai suami istri.
Selain menjadi simbol kesucian, tradisi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana generasi muda Indonesia, bahkan selebriti papan atas, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan tradisi lokal dalam momen paling penting hidup mereka.
Advertisement
Harmoni Cinta dan Budaya
Pernikahan Luna Maya dan Maxime Bouttier bukan hanya perayaan cinta, tetapi juga refleksi bagaimana budaya Indonesia, khususnya Bali, memberikan ruang untuk mengekspresikan spiritualitas, cinta, dan penghormatan dalam satu tarikan napas yang harmonis.
Melalui ritual melukat yang mereka jalani, Luna dan Maxime memperlihatkan bahwa menyambut pernikahan tak hanya soal pesta megah, tetapi juga tentang kesiapan jiwa dan penyucian hati. Dan Bali, dengan segala kearifan lokalnya, menjadi panggung yang sempurna bagi sakralitas itu.
Selamat menempuh hidup baru, Luna dan Maxime.