Ini Alasan Mengapa Paus Terpilih Mengganti Nama Mereka dan Tidak Menggunakan Nama Lahir

Paus selalu mengganti nama mereka setelah terpilih; tradisi ini bukan sekadar perubahan identitas, melainkan simbol penghormatan, komitmen, dan harapan.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Ini Alasan Mengapa Paus Terpilih Mengganti Nama Mereka dan Tidak Menggunakan Nama Lahir
Ini Alasan Mengapa Paus Terpilih Mengganti Nama Mereka dan Tidak Menggunakan Nama Lahir (Merdeka.com)

Siapa yang tidak mengenal Paus Fransiskus? Nama yang begitu dikenal dunia, namun tahukah Anda bahwa nama aslinya bukanlah Fransiskus? Ia adalah Jorge Mario Bergoglio. Begitu pula dengan Paus Yohanes Paulus II, yang bernama asli Karol Wojtyla, dan Paus Paulus VI yang bernama Giovanni Montini. Mengapa para Paus memilih untuk mengganti nama mereka setelah terpilih? Peristiwa ini terjadi di Vatikan, pusat Gereja Katolik Roma, setiap kali seorang Paus baru dipilih. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad, menyimpan misteri dan makna mendalam yang menarik untuk diungkap.

Pergantian nama Paus bukanlah sebuah keharusan menurut hukum kanon Gereja Katolik. Tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan seorang Paus untuk meninggalkan nama lahirnya. Namun, tradisi ini telah berlangsung dan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemilihan dan instalasi Paus baru. Lebih dari sekadar perubahan identitas, pergantian nama ini sarat dengan simbolisme, penghormatan, dan harapan bagi masa kepemimpinan yang akan datang. Tradisi ini bermula sejak abad keenam, dan hingga kini terus berlanjut.

Perubahan nama ini menjadi lebih dari sekadar formalitas administratif. Ini adalah sebuah ritual yang kaya akan makna dan simbol, yang mencerminkan kontinuitas sejarah Gereja Katolik dan komitmen Paus terhadap tugas suci yang diembannya. Dari sekadar perubahan nama, tradisi ini berkembang menjadi sebuah pernyataan simbolis yang menandakan awal kepemimpinan baru dan harapan baru bagi umat Katolik di seluruh dunia.

Penghormatan terhadap Tokoh Suci dan Paus Pendahulu

Salah satu alasan utama pergantian nama adalah sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh suci atau Paus pendahulu yang dikagumi. Banyak Paus memilih nama yang sama dengan orang suci yang mereka hormati, atau Paus sebelumnya yang dianggap berhasil dan menginspirasi. Ini merupakan cara untuk meneruskan warisan baik dan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh pendahulunya. Paus Fransiskus, misalnya, mengambil nama Santo Fransiskus dari Assisi, yang dikenal karena kesederhanaannya dan kepeduliannya terhadap kaum miskin. Dengan memilih nama ini, Paus Fransiskus seakan ingin melanjutkan komitmen terhadap nilai-nilai tersebut selama masa kepemimpinannya.

Pemilihan nama ini juga merupakan sebuah pernyataan akan visi dan misi kepausan yang ingin diwujudkan. Nama baru tersebut menjadi simbol komitmen dan tujuan yang ingin dicapai selama masa jabatannya. Ini bukan hanya sekadar perubahan nama, tetapi sebuah deklarasi niat dan arah kepemimpinan yang akan dijalankan. Dengan demikian, nama baru yang dipilih oleh Paus bukan hanya sebuah identitas baru, tetapi juga sebuah janji dan komitmen terhadap umat.

Tradisi ini juga menunjukkan adanya kontinuitas dan penghormatan terhadap sejarah Gereja Katolik. Dengan memilih nama-nama yang telah digunakan oleh Paus-Paus terdahulu yang dianggap berhasil, Paus baru seolah-olah ingin melanjutkan jejak langkah dan warisan mereka. Ini juga merupakan cara untuk memperkuat ikatan antara Paus masa kini dengan sejarah panjang dan kaya Gereja Katolik.

Bunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II
Bunda Teresa dan Paus Yohanes Paulus II (AFP) @ 2023 merdeka.com

Makna Simbolis Nama Baru

Nama baru yang dipilih oleh seorang Paus seringkali mencerminkan visi dan misi kepausan yang akan dijalankan. Nama tersebut menjadi simbol dari komitmen dan tujuan yang ingin dicapai selama masa kepemimpinannya. Paus Fransiskus, misalnya, memilih nama Fransiskus untuk menunjukkan komitmennya terhadap kaum miskin dan lingkungan hidup. Pemilihan nama ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pernyataan yang jelas dan tegas tentang prioritas kepemimpinannya.

Pemilihan nama juga bisa menjadi sebuah pesan atau simbol bagi dunia. Nama tersebut dapat menjadi representasi dari nilai-nilai yang ingin dipromosikan oleh Paus, seperti keadilan, perdamaian, dan persatuan. Dengan memilih nama yang tepat, Paus dapat mengirimkan pesan yang kuat dan inspiratif kepada umat Katolik di seluruh dunia dan masyarakat global.

Selain itu, pemilihan nama juga bisa menjadi cara untuk menghindari nama yang dianggap tidak pantas atau memiliki konotasi negatif. Pada masa lalu, beberapa Paus memilih untuk mengganti nama mereka karena nama lahir mereka dianggap tidak sesuai dengan martabat dan posisi mereka sebagai pemimpin Gereja Katolik. Pergantian nama menjadi cara untuk memisahkan diri dari konotasi negatif tersebut dan menegaskan identitasnya sebagai pemimpin Gereja Katolik.

Menghindari Nama yang Tidak Pantas dan Tradisi yang Berkelanjutan

Pada awalnya, tradisi pergantian nama muncul karena adanya Paus yang memiliki nama yang dianggap tidak pantas atau berkaitan dengan dewa-dewa pagan. Mengganti nama dianggap sebagai cara untuk memisahkan diri dari konotasi negatif tersebut dan menegaskan identitasnya sebagai pemimpin Gereja Katolik. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga citra dan martabat Gereja Katolik.

Tradisi ini telah berlangsung sejak abad keenam, dimulai oleh Paus Mercurius yang mengganti namanya menjadi Yohanes II. Meskipun tidak wajib, tradisi ini terus berlanjut hingga saat ini, menjadi bagian dari ritual dan simbolisme pemilihan Paus. Ini menunjukkan betapa kuatnya tradisi ini dan betapa pentingnya bagi Gereja Katolik.

Pergantian nama Paus bukan hanya sekadar perubahan identitas, tetapi merupakan tindakan simbolis yang sarat makna, mencerminkan penghormatan, komitmen, dan harapan untuk masa kepemimpinan yang akan datang. Tradisi ini telah menjadi bagian integral dari sejarah Gereja Katolik dan akan terus berlanjut di masa depan.

Paus Yohanes II, yang bernama asli Mercurius, merasa tidak bijaksana untuk memiliki nama dewa pagan saat menjabat sebagai Paus. Paus Yohanes III, yang lahir dengan nama Catelinus, adalah Paus kedua yang mengubah namanya pada tahun 561. Para penerusnya sebagian besar kembali ke cara lama hingga Pietro Canepanova dipilih sebagai Paus pada tahun 983. Ia tidak ingin menggunakan nama Santo Petrus (Paus pertama), dan berganti menjadi Yohanes XIV. Ia diikuti oleh Giovanni di Gallina Alba, yang mempertahankan nama lahirnya dan menjadi Yohanes XV. Setelah kematiannya pada tahun 956, para Paus mulai menggunakan nama samaran, yang dikenal sebagai nama kerajaan, secara teratur. Paus terakhir yang menggunakan nama aslinya adalah Adrianus VI pada tahun 1522 (ia juga Paus non-Italia terakhir yang terpilih hingga tahun 1978).

Nama kerajaan sering dipilih dengan tujuan tertentu. Bergoglio memilih Fransiskus untuk menghormati Santo Fransiskus dari Assisi, yang menandakan komitmennya kepada kaum miskin. Albino Luciani, setelah Yohanes XXIII dan Paulus VI, menyebut dirinya Yohanes Paulus. Ia meninggal setelah pemerintahan 33 hari. Wojtyla menyebut dirinya Yohanes Paulus II untuk mengenangnya. Nama yang paling populer adalah Yohanes, yang digunakan oleh 21 orang, meskipun yang terakhir adalah Yohanes XXIII. Ada 16 Gregorius dan 15 Benediktus. Fransiskus adalah salah satu dari 44 Paus yang memiliki nama unik.

Kesimpulannya, tradisi pergantian nama Paus merupakan warisan berharga yang sarat makna dan simbolisme. Tradisi ini bukan sekadar formalitas, tetapi sebuah pernyataan yang mencerminkan komitmen, penghormatan, dan harapan untuk masa depan Gereja Katolik. Nama baru yang dipilih oleh setiap Paus menjadi bagian dari sejarah dan identitas Gereja Katolik, dan akan terus dikenang oleh generasi mendatang.

Rekomendasi