Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

7 Pelajaran Penting dari Film Dokumenter The Tinder Swindler yang Lagi Viral

7 Pelajaran Penting dari Film Dokumenter The Tinder Swindler yang Lagi Viral The Tinder Swindler. ©2022 dok. Netflix

Merdeka.com - The Tinder Swindler yang baru dirilis Netflix tengah menjadi bahan pembicaraan netizen. Film dokumenter itu mengangkat kasus online dating scam yang menimpa tiga wanita Eropa. Penipuan tersebut dilakukan pria Israel bernama Simon Leviev. Ia dikabarkan sudah mengeruk $10.000.000 dari para wanita di berbagai negara.

Seiring meningkatnya penggunaan aplikasi kencan seperti Tinder dan Bumble, potensi kejahatan dalam hubungan asmara online pun makin meningkat. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menghindari penipuan oleh pria-pria seperti Simon Leviev?

Berikut ini beberapa pelajaran berharga yang bisa diambil dari film dokumenter The Tinder Swindler.

1. Waspadai Perilaku Love Bombing

romantis

© istimewa

Melalui penuturan para korban di The Tinder Swindler, Simon terlihat melakukan love bombing sejak pertemuan pertama. Love bombing adalah perilaku manis berlebihan kepada calon pacar maupun pasangan.

Pelaku love bombing kerap memberikan hadiah, kata-kata cinta, janji seindah mimpi, atau pujian demi untuk mendistraksi atau memanipulasi pasangan agar mau menuruti segala keinginan love bomber.

Saat dibanjiri pujian atau kata-kata manis secara berlebihan, Anda perlu waspada. Terutama jika Anda diminta memberikan sesuatu sebagai imbalan sesegera mungkin. Kesampingkan dulu kebucinan Anda dan dengarkan akal sehat.

2. Jangan Pernah Meminjamkan Nama untuk Melakukan Pinjaman

ilustrasi ktp

©2020 Liputan6.com

Mungkin Anda pernah dimintai tolong oleh orang terdekat untuk meminjamkan KTP guna melakukan pinjaman di bank atau sekadar mendaftar PayLater. Hal semacam inilah yang dilakukan Simon kepada Cecilie di The Tinder Swindler.

Meminjamkan identitas diri kepada orang lain untuk utang piutang adalah tindakan yang sangat berisiko. Saat si peminjam gagal membayar kewajiban atau bermasalah dengan otoritas yang berwenang, maka nama Anda yang akan tercatut.

Awalnya mau bantu teman atau pacar, ujung-ujungnya malah Anda yang diteror debt collector. Tak perlu sungkan, segera tolak permintaan semacam ini.

3. Jangan Mudah Terlena dengan Sesuatu yang Terlalu Sempurna

ilustrasi pasangan makan bersama

©pixabay.com

If it seems too good to be true, it probably is. Maksudnya, sesuatu yang terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan mungkin memang bukan kenyataan. Seperti halnya perlakuan bak pangeran Simon kepada para korbannya.

Normalnya, orang tidak akan begitu mudah membuka diri atau bersikap royal secara berlebihan pada orang yang baru ditemui. Pasalnya, setiap orang pasti ingin bersikap hati-hati untuk melindungi dirinya. Karena itulah, perilaku orang seperti Simon sebenarnya tak wajar di dunia nyata.

4. Jangan Nekat Berutang untuk Membantu Orang Lain

online

©2018 makeuseof.com

Ada kalanya manusia begitu dibutakan oleh cinta hingga mau melakukan apa saja. Termasuk melakukan pinjaman dengan nilai fantastis demi membantu pasangan yang sedang kesulitan finansial.

Membantu orang lain adalah hal yang baik. Ini berarti Anda orang yang tulus. Namun perlu diingat, membantu juga harus disesuaikan dengan kemampuan. Jangan sampai berutang, apalagi dengan jumlah yang tidak akan mampu Anda lunasi.

5. Hindari Takabur, Berpikir Anda Tak Mungkin Jadi Korban

Saat penipuan yang dialami Cecilie dan Pernilla ramai diberitakan, tak sedikit netizen yang menertawakan mereka. Banyak yang menganggap keduanya kelewat bodoh dan yakin hal yang sama tak akan terjadi kepada mereka.

Jangan takabur dulu! Online dating scammer adalah seseorang yang jago melakukan emotional con. Ini adalah istilah yang digunakan oleh Natalie Remøe Hansen, jurnalis penyelidik kasus penipuan Simon di The Tinder Swindler. Satu-satunya alasan penipu semacam ini bisa memperdaya puluhan orang dan lolos dari hukum selama bertahun-tahun adalah karena mereka lihai.

Mereka jago memanipulasi pikiran. Siapa saja bisa menjadi korban, bahkan orang yang paling cerdas sekalipun. Terutama orang-orang yang belum pernah bermasalah dengan pelaku kejahatan.

6. Jangan Mudah Percaya dengan Apa yang Terlihat di Media Sosial

004 indra cahya

© The Next Web

Saat berkenalan dengan seseorang, lumrah rasanya jika kita mengecek detail informasi tentang mereka di media sosial. Namun, apa yang terlihat di sana belum tentu sesuai dengan kenyataan.

Umumnya, orang cenderung menutupi kekurangan dan mempresentasikan sisi positif saja di media sosial. Tak jarang, kenyataannya sangat jauh dari potret kesuksesan di Instagram.

7. Hati-Hati dengan Apa yang Anda Tunjukkan di Media Sosial

003 tantri setyorini

© www.miva.com

Jangan cuma waspada terhadap citra yang ditunjukkan orang lain di media sosial. Anda juga harus hati-hati dalam menampilkan kehidupan Anda di media sosial.

Membagikan setiap kegiatan Anda lewat status atau story bisa membuat pelaku kejahatan menghafalkan jadwal Anda. Menampilkan kemewahan di Instagram pun bisa membuat Anda jadi target kejahatan. Pikir-pikir dulu sebelum posting.

Itulah beberapa pelajaran hidup berharga yang bisa diambil dari film dokumenter Netflix, The Tinder Swindler. Selalu hati-hati dalam bercinta, ya!

(mdk/tsr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP