Pasangan di Rumah Sepanjang Hari Bikin Stres, 'Perceraian Corona' Merebak di Jepang
Merdeka.com - Karantina mandiri, pembatasan sosial, dan kekhawatiran terhadap situasi yang serba tidak pasti di tengah pandemi corona menjadi tantangan tersendiri bagi manusia-manusia modern. Tak terkecuali pasangan yang sedang berjuang memelihara hubungan di masa ini.
Situasi yang tak menentu ini membawa stres bagi para pasangan di berbagai belahan dunia. Pasangan suami istri di Jepang pun tak lepas dari masalah ini. Akibatnya istilah 'perceraian corona' jadi tren di laman media sosial di Jepang.
Stres Karantina Berbuah Niatan Cerai
Seiring seruan untuk berdiam di rumah demi memutus penyebaran virus corona, para pasangan jadi menghabiskan waktu bersama yang lebih banyak dalam situasi yang tidak kondusif. Para istri mengungkap rasa frustrasi yang harus mereka hadapi dengan keberadaan suami di rumah sepanjang hari. Tingkat stres yang tinggi sampai membuat mereka terpikir untuk bercerai.
Mengutip laman South China Morning Post, Selasa (28/4/2020), tantangan serupa juga dihadapi pasangan di berbagai negara saat harus menjalani isolasi mandiri. Hanya saja, istilah 'perceraian corona' spesifik digunakan warga Jepang.
"Suara keras suami saya. Suaranya saat batuk dan makan. Suara televisi terdengar keras sepanjang hari, sementara suami saya tertidur di ruang keluarga di tengah hari bolong," tulis salah seorang istri lewat Twitter. "Saya sudah bertahan dengan keadaan seperti ini selama sepuluh hari. Berapa lama lagi akan seperti ini? Apakah saya bisa bertahan?"
"Suami saya minum dan berjalan ke sana-sini. Ia bahkan tak mencuci tangan dan tak tahu bagaimana cara merapikan dapur. Kesalahan dalam penempatan tugas rumah biasanya akan berlalu begitu saja. Tapi, untuk saya, waktu ini jadi momen untuk memikirkan kembali masa depan saya," sambung yang lain.
"Apakah akan lebih mudah bila bercerai? Apakah saya akan merasa lebih baik? Saya hanya ingin mengenyahkan semua resah ini. Saya mau kembali menemukan diri saya. Hari-hari terasa begitu gelap. Saya tak lagi kuat melihatmu. Saya malah selalu cemas," komentar warganet.
Perubahan Lingkungan Kerja Memicu Stres dan Keretakan Rumah Tangga
Chie Goto, pengacara yang sering menangani kasus perceraian untuk Felice Law Office di kota Nishinomiya, menuliskan dalam blog-nya, pandemi membuat pasangan dihadapkan pada situasi yang sebelumnya belum pernah dihadapi.
"Rumah juga berfungsi sebagai tempat bekerja sementara dan itulah masalah utamanya. Orang cenderung stres saat lingkungan sekitar mereka berubah, dan kondisi ini membuat keretakan muncul dalam pernikahan," tulisnya.
Ia pun mengungkap beberapa solusi bagi pasangan yang terlalu stres. Poin yang paling penting, keduanya bisa mendiskusikan hal-hal yang mengganggu mereka secara terbuka, lalu sama-sama mencari solusi.
Opsi lainnya dengan memasak bersama, menentukan aturan cuci tangan bagi keluarga, dan menempatkan ruang tertentu untuk siapa di waktu-waktu yang sudah ditentukan bersama.
Reporter: Asnida RianiSumber: Liputan6.com
(mdk/tsr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya